Mohon tunggu...
Lutfiah Sani
Lutfiah Sani Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Interdisciplinary Islamic Studies (IIS) Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Adversity Quotient dan Resiliensi dalam Menghadapi Bencana

23 Januari 2021   22:00 Diperbarui: 23 Januari 2021   21:59 966
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Pada awal tahun 2020 lalu, dunia khususnya Indonesia digemparkan dengan adanya Covid-19 yang hingga saat ini masih menghambat kebebasan manusia dalam bersosialisasi secara langsung (body to body). Hal tersebut menjadi ujian yang tidak mudah bagi setiap individu terutama di Indonesia ini. Seakan belum cukup "kemalangan" warga Indonesia, pada awal tahun 2021 terjadi serangkaian peristiwa alam yang mengguncang baik dari segi fisik maupun psikisnya. Seperti bencana banjir, angin puting beliung, tanah longsor, gempa bumi dan gunung meletus di berbagai wilayah Indonesia. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan dan menimbulkan kecemasan, ketakutan, dan semacamnya pada diri setiap individu, terlebih kepada korban yang mengalami peristiwa tersebut.

Lalu bagaimana sebaiknya kita merespon keadaan tersebut?

Dalam psikologi, Paul G Stoltz (2002) mengenalkan suatu konsep yaitu Adversity Quotient. Secara umum, menurut Stoltz, Adversity Quotient merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan tersebut dengan kecerdasan yang dimiliki sehingga menjadi sebuah tantang untuk diselesaikan.

Menurutnya konsep ini bisa terwujud dalam tiga bentuk yaitu: 1) sebagai kerangka konseptual baru untuk memahami dan meningkatkan semua aspek keberhasilan; 2) sebagai ukuran bagaimana seseorang merespon kemalangan; dan 3) sebagai perangkat alat untuk memperbaiki respon seseorang terhadap kemalangan. Dengan kata lain, adversity quotient merupakan suatu kemampuan yang sejatinya dimiliki setiap individu untuk dapat bertahan dalam menghadapi segala masalah ataupun kesulitan hidup.

Konsep adversity quotient ini erat kaitannya dengan konsep resiliensi yang ada dalam ruang lingkup Psikologi Positif yang didirikan oleh Martin E.P Seligman. Psikologi Positif adalah psikologi yang menekankan penelitian terhadap kekuatan dan keutamaan, kesejahteraan, kebahagiaan, optimisme dan harapan yang ada pada diri manusia. Tujuannya adalah untuk mengubah orientasi psikologi yang sejak awal kemunculannya lebih fokus kepada sisi negatif manusia dibandingkan hal-hal positif yang ada pada diri manusia. Psikologi positif ini memiliki banyak konsep yang mengusung tema-tema yang disebutkan tadi, salah satunya yaitu konsep resiliensi.

Resiliensi secara umum mengarah pada pola adaptasi positif selama atau sesudah menghadapi kesulitan atau resiko. Ia merupakan kapasitas universal yang mengizinkan seseorang, kelompok atau komunitas untuk mencegah, meminimalisasi atau mengatasi efek yang merusak dari kesulitan. Resiliensi merupakan kapasitas manusia untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan serta diperkuat atau ditransformasikan oleh kesulitan-kesulitan dalam hidup.

Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa antara keduanya memiliki keterkaitan yang erat. Selain hampir memiliki makna yang sama, adversity quotient dan resiliensi juga merupakan sikap yang harus dibentuk secara terus menerus dalam diri manusia sebagai upaya mempertahankan hidup yang sudah diberikan Tuhan demi membangun jiwa yang memiliki kesehatan mental tinggi, berkembang, terbebas dari gangguan mental dan berfungsi secara positif baik secara individu ataupun sosial meski dalam kondisi hidup yang selalu penuh kesulitan, kemalangan dan tantangan. Manusia seharusnya tidak menyerah namun terus melanjutkan hidup sebagai bentuk syukur atas anugerah hidup yang telah diberikan Tuhan.

Dalam perjalanannya, proses pembentukan tersebut tentunya tidak dapat terjadi secara instan, karena akan beriringan dengan proses yang tidak meng-enak-kan yaitu berbagai kesulitan hidup. Idealnya, semakin seseorang dihantam dengan berbagai kesulitan hidup, maka akan semakin tinggi tingkat adversity quotient dan resiliensi terbentuk dalam diri seseorang tersebut. Namun demikian, seringkali ditemukan resiliensi manusia dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup kurang optimal. Manusia lebih memilih menyerah pada keadaan atau bahkan mengalami berbagai gangguan baik dalam kemampuan sosial, mental ataupun fisik. Karena tidak mampu menjaga keseimbangan dalam menghadapi tekanan yang kuat.

Apa saja langkah untuk membangun kedua hal tersebut?

  • Benahi cara berpikir
    Sebagai seorang manusia biasa, tentunya kita tidak dapat lepas dari pikiran negatif. Karena secara alamiah, pikiran akan membentuk pemahaman positif dan negatif sebagai respon yang dimiliki ketika memahami suatu hal. Yang dimaksud dengan membenahi cara berpikir di sini adalah kita harus membiasakan/melatih otak kita untuk mengedepankan dan mengutamakan pemikiran positif atas suatu hal yang dihadapi. Bisa dimulai dari mencari sisi-sisi positif dari setiap permasalahan atau kesulitan. Lalu menjadikan pikiran negatif yang pasti muncul mengiringi pikiran positif tersebut hanya sebagai bentuk kewaspadaan diri tapi tidak menjadikannya sebagai fokus utama. Meskipun membutuhkan waktu, namun manusia akan selalu menyadari hikmahnya, seperti hikmah yang ada di balik covid-19 dan berbagai peristiwa alam.

  • Sadar dalam bersikap
    Kesadaran adalah faktor penting dalam mengawali setiap niat yang ingin kita wujudkan dalam diri kita. Setelah melakukan proses berpikir, maka selanjutnya kita harus mampu mengaktualisasikannya dalam bersikap di kehidupan sehari-hari. Setelah berpikir positif atas masalah, kita merealisasikan dengan sikap menerima, terbuka, sabar, ikhlas dan tetap siaga (waspada). Serta meningkatkan keyakinan kepada Allah sebagai bentuk tawakkal dan berserah diri. Saat ini, sikap demikian dapat membantu kita sedikit demi sedikit untuk memulihkan "luka" serta kedukaan dalam batin.

  • Saling membantu sesuai kemampuan diri
    Dalam kondisi bencana, kita dihadapkan dengan masalah fisik dan psikis. Masalah fisik berupa kerusakan badan, kerusakan gedung, bangunan, rumah, dan lingkungan, sementara masalah psikis berupa luka batin, trauma, kesedihan, putus asa, dan lain sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan satu sama lain, terlebih saat keadaan seperti sekarang ini, rasa solidaritas atas kemanusiaan sepatutnya dijunjung tinggi dan direalisasikan dalam bentuk kepedulian berupa bantuan materil dan non materil. Dapat berupa dana, kebutuhan sembako, barang pakai sehari-hari seperti seperangkat baju, alat dan fasilitas serta bentuk dukungan moral seperti ucapan dan kata-kata menyemangati, empati, dan doa. Kita upayakan bersama bantuan semampu diri kita untuk saling mendukung pemulihan dari kondisi bencana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun