Mohon tunggu...
Luna Septalisa
Luna Septalisa Mohon Tunggu... Long-life learner

Lahir 1 September 1994 | Perempuan Introvert | Suka membaca, menulis, dengar musik, berenang | Amatiran yang masih belajar menulis | kunjungi : https://lunaseptalisa.wordpress.com/ (blog pribadi)

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Orkestra Kematian

5 April 2020   07:29 Diperbarui: 5 April 2020   07:26 84 19 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Orkestra Kematian
photo by Rodrigo Ruiz on unsplash

"Bisakah kau bayangkan berapa banyak peperangan terjadi, seberapa sering kehilangan dialami dan kepunahan yang membayangi dalam sehari?"

(i)

Dari ketiadaan, Dia menjadikan kita ada. Hidup berdampingan dalam harmoni dan gerak semesta. Udara yang kita hirup, angin yang membelai lembut. Cahaya matahari yang menyingkap gelap, bulan dan bintang-bintang menghiasi hitamnya malam. Hujan yang menghapus kemarau, meluruhkan debu dan menyuburkan rindu. 

(ii)

Kita adalah pengembara dengan waktu tempuh dan kecepatan yang berbeda untuk sampai pada pemberhentian terakhir. Ada kalanya kita berjalan dalam kondisi tenang, berlari dalam kondisi genting atau berhenti sejenak untuk mengatur strategi. Mari temukan dan pecahkan teka-teki!

(iii)

Kita sering lupa bahkan abai pada yang tak terjangkau oleh mata telanjang. Hal yang sering dijadikan alasan untuk membenarkan keangkuhan dan memelihara kebodohan. Sebuah sandiwara yang meracuni akal sehat. Dan kita hanya menunggu giliran siapa yang jadi gila setelahnya. 

"Jadi, haruskah kita menggelar orkestra yang banyak melantunkan lagu-lagu kematian?" 

05/04/2002

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x