Mohon tunggu...
Puput Firgeya Neta
Puput Firgeya Neta Mohon Tunggu... Penulis - Lulana

Aku akan jadi kata, biar siapa saja bisa mengenalku

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Dongeng Sebelum Tidur

25 Agustus 2021   22:21 Diperbarui: 25 Agustus 2021   22:28 178 5 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Dongeng Sebelum Tidur
Ilustrasi Pribadi

Harimu begitu kacau ya? Yang kamu butuhkan mungkin dongeng sebelum tidur. Sesudah melalui banyak hal yang mendewasakan,
kini di malam yang sangat rahasia, menjelmalah anak-anak.

Kau lihat di meja kamarmu ada secarik kertas, berisikan catatan tugas apa saja yang harus kau kerjakan hari ini. Lipatlah ia menjadi pesawat terbang. Kau bisa menaikinya. Jangan lupa ambil jaketmu dan pakai sepatu. Di luar bisa saja dingin. Kau mulai terbang perlahan. Semakin tinggi kau terbang, angin bertiup semakin laju. Seperti sedang dikejar monster malam. Tapi jangan takut, monster tidak ada di atas sini. Monster biasanya bersemayam dalam diri orang dewasa, ia tidak tertarik dengan anak-anak. Di atas sini tidak ada siapapun melaikan kau, pesawatmu, bulan, dan bintang-bintang.

Kau ingin menyentuh bulan ya? tentu saja bisa! tapi pelan-pelan ya..
Bulan sedang sabit, runcing di ujung-ujungnya. Jangan sampai jarimu terluka. Kau juga bisa menyentuh bintang-bintang. Bahkan kau bisa melemparnya, mengecilkan, membesarkannya, atau juga menatanya menjadi susunan anak tangga. Bermainlah!  kalau sudah, boleh kau bawa satu bintang sebagai kenang-kenangan. Oh iya, kau tidak bawa ransel ya? Simpan saja di saku jaketmu.

Jadi, bintang mana yang mau kau bawa pulang?
Yang paling dekat denganmu?
Kamu memang bijaksana. Terkadang orang lain lebih menginginkan bintang yang paling terang. Sesudah mendapatkannya, ia memandang bulan yang lebih terang dan jadi ingin membawanya pulang juga.

Oke, kembali ke pesawat. Waktunya kita melanjutkan petualangan, kapten!
Iya, kamu sedang jadi kapten. Karena ini duniamu, hidupmu. Kau tidak harus menuruti perkataan orang lain.

Pegangan yang erat, kamu akan melaju dengan kencang. Kau akan menuju belahan bumi yang sedang terang. Di perjalanan, angin membuat rambutmu seperti ekor komet. Sangat mirip dengan komet, sebab wajahmu pun terlihat bercahaya. Sesekali angin menggelitikmu dan kau tertawa kecil. Setelah beberapa saat terbang, kau akan melihat bola jingga yang sangat bersinar. Iya, matahari. Tenang, disini kau bisa memandanginya tanpa takut matamu terbakar. Tapi tahan dirimu untuk tidak menendangnya, nanti orang-orang dibawah sana akan marah. Mereka suka sekali marah-marah.

Sekarang cobalah untuk terbang lebih rendah. Kau bisa rasakan aroma yang mendamaikan dan titik-titik lembut yang menyentuh wajahmu. Pipimu akan sedikit basah, inilah embun pagi. Ia datang untuk membangunkan dahan dan daun-daun dari tidurnya.

Lihat, matahari mulai naik. Sekarang terbanglah lagi sedikit lebih tinggi. Lihat di kiri kananmu banyak sekali burung-burung. Coba amati lebih dekat. Tidak asing bukan? iya, itu adalah burung-burung dari kertas origami yang sering kau buat dulu saat kecil. Lihatlah burung yang paling kecil berwarna hitam. Itu adalah burung favoritmu, Pencapaian terhebatmu dulu. Berhasil melipat kertas yang sangat kecil menjadi seekor burung dengan lipatan yang rumit.

Langit begitu biru dan matahari berwarna jingga bulat sempurna. Seperti mata ayahmu yang terus mengawasimu. Jadi kau tak perlu takut dengan apapun karna pahlawanmu selalu didekatmu. Oh iya, jangan melewatkan awan-awan. Cobalah mendekat pada satu awan. Lepas sepatumu dan mulailah turun dari pesawatmu. Kau bisa menapak di awan. Kau tidak akan jatuh. Rasanya sangat lembut bukan? Lebih lembut dari saat kakimu menapak rerumputan belakang rumahmu. Berbaringlah sebentar jika lelah. Kau harus beristirahat. Jangan terlalu keras memaksa dirimu hanya untuk memuaskan hatimu. Hati kadang tidak pernah puas. Ingat cerita orang yang memburu bintang paling terang tadi?

Oh iya, sepertinya kau lapar ya? Kau bisa makan awan itu, rasanya manis. Tapi jangan dihabiskan, karna nanti kamu bisa jatuh. Jika kau ingin rasa yang lain, cobalah untuk meminta awan itu terbang. Di depan kau akan melihat awan mendung. Saat kau amati dari dekat, warnanya tidak hitam namun coklat. Cobalah melompat ke awan coklat itu dan cicipilah sedikit. Terkejut? iya.. itu adalah awan rasa coklat. Sekarang mintalah awan coklat untuk membawamu terbang. Kau akan bertemu banyak awan warna-warni dengan berbagai rasa. Jangan cemaskan pesawat dan sepatumu, mereka akan terus mengikutimu.

Jika sudah puas bermain bersama awan-awan, kembalilah ke pesawat. kita masih harus berpetualang. Kali ini kita akan terbang menuju ke pantai. Langit mulai sedikit gelap dan matahari mulai rendah. Kita sudah sampai di pantai Anse Lazio. Sangat cantik bukan? Di depan matamu laut begitu biru dan langit berwarna jingga seperti sedang malu. Orang-orang biasanya berebut senja, kini ia milikmu seorang. Kau senang? Apa katamu? Senja bukan milikmu, kau hanya pengagumnya dan memandanginya sudah cukup
bagimu? Ahh.. sudah kuduga, kau memang baik hati, tak ingin memiliki segala hal baik untuk dirimu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan