Mohon tunggu...
Luisa Devika
Luisa Devika Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - -

-

Selanjutnya

Tutup

Hobby

Pergulatan Abadi

1 Oktober 2021   15:50 Diperbarui: 1 Oktober 2021   16:17 791 4 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber gambar : https://saranghaeindonesia.wordpress.com/

Judul Buku: Atheis

Penulis: Achdiat Karta Mihardja

Penerbit: Balai Pustaka

Tempat terbit: Jakarta

Tahun terbit: 1949

Cetakan: Pertama

Tebal buku: xii + 251

ISBN: 979-407-185-4

Harga buku: Rp 57.200,00

Berat buku: 313 gram

Dimensi buku: 21 cm x 15 cm x 1.3 cm 

      Achdiat Karta Mihardja lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat pada tanggal 6 Maret 1911. Selepas dari AMS-A1 (Kesusastraan Timur) di Solo, ia mengikuti kuliah Qadariah Naqsabandiyah dari Kyai Haji Abdullah Mubarak (Ajengan Gedebag), kuliah Filsafat Thomisme dari Pater Dr. Jacobs .J., dan kuliah Prof. Dr. R.F. Beerling mengenai "filsafat dewasa ini" di Universitas Indonesia (1950 s.d. 1951). Karier Achdiat K.Mihardja dimulai dari keterlibatannya sebagai koresponden harian Indie Book, dan mingguan Tijdbeld dan Zaterdag. Ia juga menjadi redaktur harian Bintang Timur, tengah mingguan berbahasa Sunda Kemajuan Rakyat, mingguan Gelombang Zaman (Garut), dan mingguan Peninjauan; penyalin di Perkabaran Radio Jakarta; redaktur kebudayaan mingguan Spektra, majalah Pujangga Baru, Konfrontasi, dan Indonesia Raya; guru Taman Siswa, redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan jakarta Raya.  Kumpulan cerpen sebagai berikut, Keretakan dan Ketegangan (1956), mendapatkan Hadiah Sastra BMKN tahun 1957. Dan novelnya, Atheis (1949), memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintahan RI tahun 1969. Atheis diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (1972) dan Sjuman Djaya mengangkatnya menjadi film (1974). Karya-karya Achdiat yang lain : Polemik Kebudayaan (editor, 1948), Religi Manusia (terjemahan karya M.K. Gandhi, 1950), Bentrokan dalam Asmara (1952), Mengembara di Taman Keindahan (Saduran atas karangan-karangan lepas Drs. F.H. Fouraschen, 1952), Kesan dan Kenangan (1960), Debu Cinta Berterbangan (1973), Belitan Nasib (1975), Pembunuhan dan Anjing Hitam (1975), Pak Dullah in Extrimis (1977), Si Kabayan Manusia Lucu (1997), Manifesto Khalifatullah (2005). 

      Hasan dibesarkan ditengah keluarga yang menganut tarekat. Setelah dewasa, ia mengikuti tarekat seperti yang dilaksanakan oleh kedua orangtuanya. Meski sesungguhnya keterlibatannya dalam tarekat itu adalah hasil kekecewaannya karena harus kehilangan kekasihnya, yaitu Rukmini. Kisah cinta mereka tidak bisa berjalan mulus, karena orang tua Rukmini telah menjodohkannya dengan seorang saudagar kaya. Kejadian itu membuat hati Hasan hancur. Salah satu cara yang Hasan lakukan untuk bisa menghilangkan pikiran tentang Rukmini adalah dengan mengikuti aliran tarekat dan ia pun menjadi orang yang semakin teguh akan imannya. Tetapi hidupnya berubah ketika dia bertemu teman lamanya, yaitu Rusli saat ia mulai bekerja. Rusli datang bersama seorang wanita bernama Kartini yang ternyata merupakan seorang janda. Sejak pertemuan pertama itu, Hasan memutuskan untuk menaruh hati pada Kartini, alasanya karena Kartini memiliki karakter yang sangat identik dengan Rukmini. Semenjak Hasan mencintai Kartini, dia pun juga semakin sering bergaul dengan teman-teman Kartini dan juga Rusli.

      Kehidupan Rusli dan Kartini yang begitu bebas dan sangat lepas dari namanya agama, membuat Hasan bertekad untuk menyadarkan mereka. Namun, berbicara lebih mudah dibandingkan perbuatan. Rusli yang memiliki pemikiran rasional dan memiliki pengetahuan yang luas mengenai materialis, menyebabkan niat Hasan semakin hancur. Hasan yang dibesarkan dalam lingkungan mistisme, biasa melakukan amalan-amalan yang tidak logis, tak berdaya berhadapan dengan seorang materialis seperti Rusli yang yang berpegang pada paham Nietzsche. Tanpa disadari, pemikiran-pemikiran Rusli-lah yang ternyata melekat di kepala Hasan. Keyakinannya mulai dan semakin goyah ketika dia dipertemukan dengan teman Rusli dan juga merupakan seseorang yang tidak percaya akan keberadaan Allah, yaitu Anwar. Pengetahuan Anwar tentang ketuhanan begitu luas. Sejak saat pertemuan itulah pemahaman Hasan tentang agama sedikit demi sedikit berubah. Ia mulai meragukan keberadaan Tuhan. Hasan semakin tersesat dari agama dan pergaulannya semakin bebas. Suatu hari, ia pulang ke rumah di kampungnya bersama Anwar untuk bertemu ayahnya yang sakit. Ayahnya melihat perubahan pada diri Hasan. Namun, ketika ayahnya berusaha menasehati Hasan, ia malah menentang ayahnya dengan pemikiran-pemikiran yang diajarkan oleh teman-teman barunya. Penentangan itu dipertegas lagi oleh Hasan dengan rencananya menikahi Kartini. Orang tuanya berharap Hasan menikah dengan Fatimah, saudara angkatnya. Namun Hasan membulatkan tekad untuk menikahi Kartini. 

      Pernikahan Hasan dan Kartini ternyata tidak membuahkan kebahagiaan seperti yang mereka dambakan.. Pergaulan Kartini tetap bebas, pergi kemana saja dengan siapa saja tanpa suaminya. Seiring berjalannya waktu, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Hasan cemburu karena hubungan Kartini dengan Anwar semakin dekat. Kemarahan Hasan memuncak, ia memukuli istrinya itu. Kartini memutuskan untuk pergi dari rumah dan pergi tanpa tujuan. Di jalan, Kartini bertemu dengan Anwar. Atas bujukan Anwar, Kartini memutuskan untuk bermalam di suatu hotel bersama dengan Anwar. Karena Anwar berusaha untuk memperkosanya, Kartini segera melarikan dari penginapan itu dan meneruskan perjalanannya ke Kebon Manggu. Hasan sungguh menyesal dan merasa sangat berdosa atas apa yang telah diperbuat selama ia mulai menjauh dari Allah. Ia menyesal karena telah mengutuk teman-temannya yang telah membawanya ke jalan sesat, jalan yang membawa dirinya menjadi seorang atheis. Hasan berusaha kembali ke jalan hidup semula, hidup dengan berpegang pada ajaran agama Islam.. Mendengar kabar bahwa ayahnya sedang sakit parah, Hasan memutuskan untuk pulang menjenguknya. Menjelang ajalnya, Hasan meminta maaf kepada ayahnya. Tetapi segala usaha yang dilakukan Hasan sia-sia. Ayahnya tetap bersikeras pada pendiriannya untuk tidak memaafkan anaknya sendiri, bahkan sampai ajal menjemputnya.

      Ketika pulang ke Bandung, terjadilah kusukeiho. Hasan terpaksa untuk mencari tempat berlindung di suatu bunker bersama-sama dengan orang-orang yang senasib. Di tempat tersebut, terngiang-ngianglah suara ayahnya di hatinya, menasehati, memarahi, mengutuk,-ngutuk perbuatannya yang telah menyimpang dari ajaran agama Islam. Penyakit TBC yang menyerang Hasan kambuh. Ia merasa tak kuat melanjutkan perjalanannya dan memutuskan untuk mencari tempat penginapan. Setelah sampai di tempat penginapan tersebut, dilihatlah nama Kartini dan Anwar pada daftar tamu. Setelah mendapatkan penjelasan dari pelayan hotel, Hasan semakin yakin bahwa Kartini memiliki hubungan gelap dengan Anwar. Amarah Hasan tidak bisa dipadamkan, ditambah lagi ia merasa bahwa kehidupannya yang dulu, menjadi jauh dengan agama Islam disebabkan oleh Anwar. Ia memutuskan untuk lari keluar dari tempat penginapannya pada malam gelap untuk membunuh Anwar. Karena pada waktu itu situasi sedang sangat kacau, maka diberlakukan jam malam. Namun, belum sempat Hasan menemukan dan membunuh Anwar, ia malah tertembak peluru di paha kirinya kemudian terjatuh dan bersimbah darah, tetapi sebelum menemui ajalnya ia masih sempat mengingat Allah dan berkali-kali menyebut nama-Nya. 

      Sesuai dengan judul novelnya, yaitu "Atheis", buku ini sangat kaya akan unsur sosial budaya dan keagamaan, yaitu atheis dan theisme. Tokoh utama dari cerita tersebut yaitu Hasan, mulai mengalami perubahaan keyakinan akibat adanya pergaulan dengan orang baru dan dengan kebudayaan yang berbeda dari Hasan dan pada akhirnya menjadi sebuah kebudayaan Hasan tersendiri. Perjalanan kehidupan Hasan diceritakan dengan sangat jelas dan runtut, dari awal ia tinggal bersama keluarganya, hingga ia pergi dan tinggal di Bandung. Konflik dalam cerita tersebut dimulai pada saat ia bertemu dengan Rusli kawan lamanya yang membawa seorang janda yaitu Kartini, yang kemudian dikenalkannya Anwar. 

      Anwar, sosok yang dikenal sebagai tonggak dalam terjadinya "perubahan" dalam diri Hasan, mampu menggugah semua emosi saya saat membaca novel dan menurut saya itu adalah hal yang sangat patut dipuji karena terbukti bahwa penulis dapat menggambarkan tokoh secara jelas dan memiliki peran yang penting dalam cerita. Di suatu saat saya dapat merasa kesal karena sosok Anwar terlalu memaksakan kepercayaannya bahwa "Ia sendiri adalah Tuhan" kepada Hasan, dan satu saat saya merasa bersyukur karena ia dapat membuat Hasan memiliki pemikiran yang lebih terbuka akan perubahaan kebudayaan dan zaman. Berbeda dengan Hasan yang merupakan seseorang yang sangat taat kepada agama. Perbedaan yang sangat signifikan dalam kedua tokoh tersebut membuat konflik dalam novel ini sesuai dengan tema yang diangkat yaitu kepercayaan./keyakinan dan budaya. Tokoh-tokoh lainnya yaitu, Rusli, Kartini, serta kedua orang tua Hasan watak yang digambarkan sangat baik, sehingga dapat membangun konflik dalam cerita ini terasa sangat menegangkan, walaupun mayoritas konflik dalam cerita ini adalah konflik batin yang dialami Hasan sendiri. 

      Pemilihan latar cerita dalam novel ini juga mendukung perkembangan watak tokoh-tokohnya. Seakan-akan watak dari tokoh-tokoh tersebut tidak diciptakan oleh pengarang, melainkan terbentuk akibat dari lingkungannya. Latar cerita juga sangat cocok dengan tema yang diangkat dalam novel yaitu kepercayaan/keyakinan dan sosial budaya. Dua latar yang menyebabkan adanya konflik adalah tempat tinggal Hasan bersama kedua orang tuanya yaitu di Pasundan dan saat ia sudah bekerja di Bandung. Kedua latar tersebut sangat ditunjukan adanya perbedaan kebudayaan, ditambah dengan suasana masa penjajahan Belanda pada saat itu. Di Pasundan, tempat tinggal Hasan dahulu, dikidahkan memiliki beragam tradisi agama yang memperkuat karakter Hasan sebagai tokoh yang religius. Hal tersebut juga didukung dengan keberadaaan orang tua Hasan yang sangat taat kepada ajaran agama, yaitu Islam. Sedangkan di Bandung, tempat kawan lama Hasan dan teman-temannya, memiliki kebudayaan serta kepercayaan yang lebih bebas, artinya, tidak semua orang beragama, dan pergaulannya yang seperti tidak ada aturan. Perbedaan dalam kedua wilayah tersebut, menjadi tonggak adanya konflik batin sosial budaya, dan agama (atheis dan theisme) yang terjadi dalam diri Hasan. Penggunaan teknik cerita dengan berbagai sudut pandang juga memungkinkan sebuah peristiwa pada novel terjadi dengan sendirinya, tanpa ada campur tangan penulis. 

      Saya sangat terkejut dan terkesan karena konflik batin yang pada awalnya menurut saya sangat membosankan dapat mengubah pemikiran saya. Konflik batin yang dijelaskan secara runtut dan jelas oleh penulis dapat membawa saya seolah-olah saya menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut, walaupun kehidupan saya sekarang sudah sangat berbeda dengan kehidupan tokoh pada saat itu. Hal tersebut menuntut saya untuk ikut berpikir seperti, "apa yang akan saya lakukan jika saya menjadi Hasan" dan ternyata saya sangat menikmati hal tersebut. Alur dalam cerita tersebut yaitu campuran, membuat cerita ini semakin menarik. Cerita ini sesungguhnya menceritakan tentang perjalanan Hasan secara kronologis dan runtut, hal tersebut merupakan alur majunya. Tetapi alur mundurnya dapat diketahui bahwa pada bagian kesatu bab tersebut sudah disebutkan bahwa Hasan sudah meninggal, sehingga cerita ini menceritakan masa lalunya Hasan saat ia masih hidup. Alur mundur juga terlihat pada saat Hasan harus berlindung saat ia pulang dari menjenguk orang tuanya, ia teringat akan perkataan ayahnya yang dulu menasihati Hasan dan ia sangat menyesal karena menghiraukannya. Pada saat itu juga, perasaan berasalah di dalam diri saya juga ikut tergugah dan ikut memikirkan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan kepada orang tua saya. Alur maju dan mundur dalam cerita ini mampu membuat cerita semakin dinamis dan membuktikan bahwa perbedaan zaman pada cerita yang mengakibatkan konflik dalam novel tersebut. Dari tokoh Hasan saya dapat mengambil kesadaran bahwa iman yang kuat saja tidak cukup untuk menjauhi pergaulan-pergaulan menyesatkan. Tentu dengan hidup berdasarkan kepercayaan/keyakinan/agama tertentu sangat patut dilakukan, tetapi pergaulan sosial juga harus diperhatikan karena pada dasarnya kebiasaan kita terbentuk dari lingkungan kita.

      Kelebihan dalam novel tersebut terlihat pada awal novel sebelum masuk pada cerita, diberikan definisi dari atheis dan theisme yang menurut saya sangat membantu untuk bisa lebih menyelami cerita terutama konflik pada cerita. Kelebihannya lainya terletak pada pemberian penjelasan di bagian bawah halaman mengenai singkatan dan istilah-istilah yang digunakan sering dalam masa penjajahan dalam bahasa Indonesia, seperti MULO yang merupakan singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs yang dalam masa sekarang merupakan setingkat dengan sekolah SMP. Contoh lainnya adalah HIS yaitu Hollands Inlandse School (Sekolah Rakyat dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya), PID yaitu Politieke Inlichtingen Dienst (Jawatan Penyelidik Politik) dan masih banyak lagi. Tak hanya istilah dalam bahasa asing, tetapi ada pula penjelasan untuk kata-kata bahasa Indonesia yang sudah jarang digunakan, seperti doyong (condong karena sudah tua), Aom (sebutan di tanah Priangan terhadap anak bupati), tambullah (makan lauk tanpa nasi), dan masih banyak lagi. Pemberian penjelasan tersebut sangat membantu dalam hal untuk bisa menyelami cerita dan lebih mengerti apa yang sedang dijelaskan dalam suatu kalimat maupun topik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan