Mohon tunggu...
Luh Eka Yanthi
Luh Eka Yanthi Mohon Tunggu... Menulis adalah cara menuangkan ide tanpa batas.

Guru di SMKN 3 Singaraja, BALI

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Sekolah Ramah ABK, Jangan Sekadar Hiasan Gapura

21 Oktober 2019   11:38 Diperbarui: 21 Oktober 2019   14:44 0 0 0 Mohon Tunggu...

Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan diIndonesia, saat ini gencar dibahas berbagai tema tentang pendidikan abad 21 dan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Bukan hal yang salah jika kita bersama terus berupaya mewujudkan generasi emas 4.0 yang siap bersaing ditengah derasnya arus globalisasi. 

Namun ada hal lain yang selama ini bahkan luput dari pembahasan yakni bagaimana pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus?  Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia hingga saat ini kurang  diperhatikan  dan  belum  bisa  ditangani  secara maksimal.  

Anak  berkebutuhan  khusus  memang  berbeda dengan anak normal pada umumnya, baik dari segi fisik, mental,  intelektual  maupun  sosialnya.  Sebagai  warga negara, anak   berkebutuhan khusus (ABK) memiliki hak yang  sama  sebagai  warga  negara  serta memiliki   kesamaan   perlakuan,  termasuk  dalam memperoleh pendidikan.

Pendidikan  merupakan  salah  satu modal  utama  untuk kehidupan semua  anak,  anak  berkebutuhan khusus juga membutuhkan pendidikan sebagai bekal hidup   mandiri  di  masyarakat.  Mereka  tidak selamanya membutuhkan  uluran  tangan  atau  belas  kasihan,  tetapi mereka  lebih membutuhkan pengertian  dari  berbagai  pihak  untuk eksistensinya di tengah kehidupan  masyarakat. 

Sampai saat ini keberadaan ABK dilingkungan masyarakat masih dianggap sebagai orang yang tak layak masuk dalam ruang publik termasuk pada lingkup pendidikannya. Sebagian besar masyarakat dan orang  tua  masih  kurang  berperan  aktif  dalam perkembangan pendidikan anaknya yang mendapat label ABK,  sehingga  berdampak  terhadap  rendahnya  mutu pendidikan pada anak  berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus cenderung diarahkan ke sekolah luar biasa. Namun ada stigma yang selama ini terbentuk dimasyarakat, bahwa anak yang bersekolah di SLB adalah anak cacat, hal ini membuat banyak orang tua enggan memasukkan dan memenuhi hak belajar siswa kesana. 

Orang tua cenderung memilih untuk mengasuh anak berkebutuhan khusus dirumah dengan cara mereka. Cara ini mungkin akan menyelematkan anak berkebutuhan khusus dari kasus bullying, namun hal ini tidak memberi pengalaman sosial yang dibutuhkan dalam tumbuh kembang dan kemandirian anak bersangkutan.

Mengintip pelaksanaan pendidikan inklusif di negara Jepang, sasaran utama yang pertama kali disasar adalah membuat orang tua dan lingkungan terdekat anak berkebutuhan khusus menerima dan memahami keberadaan mereka. 

Orang tua diajak berdiskusi dalam berbagai kegiatan sosialisasi dan pelatihan untuk membekali mereka untuk siap menjadi orang pertama yang mensupport dan memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus termasuk kebutuhan belajarnya.

Tidak ada istilah anak cacat dalam perkembangan pelaksanaan pendidikan inklusif di negara Jepang, yang terjadi adalah adanya anak yang berbeda. Bagi mereka berbeda bukan berarti cacat, berbeda hanya tentang cara. 

Seperti, bagi siswa tunadaksa (suatu keadaan rusak atau terganggunya tubuh sebagai akibat dari gangguan bentuk dan hambatan pada tulang, otot, dan sendi, dalam fungsinya yang normal) yang menggunakan kakinya untuk memegang sendok. Cara ini tentunya berbeda dengan anak lain kebanyakan, namun bukan berarti mereka tidak mampu, hanya berbeda dalam hal cara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x