Lugas Wicaksono
Lugas Wicaksono Swasta

Butiran debu twitter: @lugaswicaksono

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Banyak Pemain Eksodus ke Malaysia, Senjakala Liga Indonesia?

14 November 2017   14:37 Diperbarui: 15 November 2017   10:39 1678 4 0
Banyak Pemain Eksodus ke Malaysia, Senjakala Liga Indonesia?
Andik Vermansyah Selangor FA. MLDSPOT.

Dua pemain Bhayangkara FC, Evan Dimas Darmono dan Ilham Udin Armain musim depan dikabarkan akan bergabung dengan klub Selangor FA yang berkompetisi di Liga Malaysia. Kepastian itu disampaikan Manajer Bhayangkara FC, Sumardji yang mengatakan kalau kedua pemainnya itu telah mengatakan niatnya ketika kompetisi Liga 1 memasuki pekan 30 lalu.

Manajer klub yang berafiliasi dengan Polri itu sebenarnya sempat menahan kedua pemain andalannya itu untuk tetap bertahan musim depan. Ia beralasan gaji di klub Liga Malaysia rata-rata kecil dibandingkan dengan klubnya yang bisa menggaji lebih mahal. Namun rupanya keputusan kedua pemain berlabel timnas Indonesia itu sudah bulat.

"Saya sudah bicara kepada Evan Dimas kalau emang di klub luar itu salary-nya lebih kecil ketimbang Bhayangkara, lebih baik tetap di sini. Tapi ini sudah menjadi keputusannya dan kami harus merelakannya," kata Sumardji dilansir dari Bolasport, Selasa (14/11/2017).

Pernyataan Sumardji tentang gaji pemain di klub Liga Malaysia lebih kecil ditampik mantan pemain Timnas Indonesia yang pernah bermain untuk Selangor FA, Elie Aiboy. Menurut dia, kontrak pemain dan sistem penggajian pemain di Liga Malaysia lebih tertata dibandingkan klub di Liga Indonesia. Meskipun tidak ada bonus tetapi ketika pemain bermain bagus akan mendapatkan tambahan gaji. Terpenting lagi klub-klub Malaysia jarang terlambat membayar gaji pemainnya.

"Kontrak pemain penuh dan tak ada bonus, tetapi pemain memiliki klausul tambah bayaran jika bermain bagus untuk timnya," ucap Elie dilansir dari Bolasport.

Pemain berlabel timnas semacam Evan bisa menerima kontrak Rp 2 miliar per musim. Lebih besar dari nilai kontraknya di Bhayangkara musim 2016 yang gajinya hanya Rp 10 juta per bulan. Itu belum termasuk fasilitas apartemen dan mobil yang wajib diberikan klub kepada pemain asing.

Elie yang kini bekerja untuk agen pemain di Malaysia mengatakan kalau peluang pemain Indonesia untuk bermain di Liga Malaysia terbuka. Mengingat musim 2018 mendatang ada regulasi dari federasi yang mengharuskan klub merekrut pemain asing asal Asia Tenggara. Setidaknya dari pantuannya ada tujuh sampai delapan pemain asal Indonesia yang bisa bermain di Malaysia.

Bermain di Malaysia bukan hal baru bagi pemain asal Indonesia. Ada sejumlah alasan mereka memilih bermain di negara tetangga tersebut. Meskipun selisih nilai kontrak tidak berbeda jauh, tetapi di sana bisa bermain lebih nyaman karena jalannya kompetisi yang lebih jelas atau jadwalnya jarang berubah-ubah, suporter jarang yang anarkis dan yang terpenting sepak bola bebas konflik kepentingan politik. Berbanding terbalik dengan Liga Indonesia.

Setidaknya ada 13 pemain asal Indonesia yang bermain untuk klub Malaysia mulai periode musim 1980-an sampai kekinian. Sebagian besar berlabel timnas yang bermain apik sepanjang musim dan menjadi idola suporter. Mereka di antaranya adalah Ristomoyo Kassim (Pahang FA) & (Selangor FA), Robby Darwis (Kelantan FA), Ponaryo Astaman (Telekom Melaka FC), Elie Aiboy (Selangor FA), Bambang Pamungkas (Selangor FA), Kurniawan Dwi Yulianto (Sarawak FA), Eri Irianto (Kuala Lumpur FA), Fachri Husaini (Kuala Lumpur FA), Budi Sudarsono (MPPJ FC & PDRM FA), Hamka Hamzah (PKNS) 2013, Patrich Wanggai (Kuala Terengganu) 2013, Andik Vermansah (Selangor) 2013-2017, Dedi Kusnandar (Sabah United) 2016.

Itu belum termasuk pemain asing yang pernah bermain di Liga Indonesia lalu pindah ke klub Liga Malaysia. Sebut saja Gustavo Lopez dan Alberto Goncalves yang pernah membela Arema Cronus itu hijrah ke Penang FA. Lalu ada pula bek Mitra Kukar Reinaldo Lobo dan Park Chul Hyung. Serta topskorer ISL musim lalu Emmanuel 'Pacho' Kenmogne yang satu paket dengan Isaac Pupo untuk hijrah ke Kelantan FA.

Sebaliknya hanya satu pemain asal Malaysia yang pernah bermain untuk klub Indonesia. Dia adalah Safee Sali yang musim 2011 lalu bermain untuk Pelita Jaya. Namun pemain yang sebelumnya membela Selangor FA itu kini tidak lagi bermain di Indonesia karena sudah kembali bermain di Liga Malaysia dengan memperkuat klub Johor Darul Takzim. 

Untuk pemain asal Asia Tenggara yang bermain di Indonesia selama ini memang didominasi pemain Singapura dan beberapa asal Thailand. Di antaranya Fandi Achmad, David Lee, Nih Alam Sah, M Riduan, Baihakki Khaizan, Khairul Amri dari Singapura dan Hathairattanakool (Kosin) asal Thailand. Namun itu dulu, kini semua pemain itu tidak lagi bermain di Indonesia. Justru kini pemain Indonesia yang memilih bermain di Liga Thailand seperti pemain naturalisasi, Victor Igbonefo yang membela klub Nakhon Ratchasima dan bermain apik sepanjang musim.

Sementara dilansir dari Tribunnews, mantan asisten pelatih Navy FC yang kini melatih Persipura, Wanderley Junior mengatakan kalau Malaysia dan Thailand bisa jadi destinasi baru para pemain tanah air untuk berkarier pada musim depan. Ini karena, Malaysia Super League dan Thai League 1 akan menyertakan kuota pemain asing asal Asia Tenggara musim depan.

"Musim depan Liga Thailand akan punya regulasi baru untuk pemain asing asal Asia Tenggara, Liga Malaysia juga," ujar pelatih yang sempat berkarier bersama klub Malaysia, Kuala Lumpur FA.

Pemain asal Indonesia akan dapat bermain apik karena sebenarnya kualitas skill-nya masih di atas rata-rata kebanyakan pemain lokal kedua negara tersebut. Mantan pelatih Chiangrai United yang kini melatih Persija, Stefano "Teco" Cugurra menyebut pemain muda seperti Febri Hariyadi (Persib) dan Rezaldi Hehanusa (Persija) akan mampu bersaing di Thailand dan Malaysia. "Febri pemain hebat, dia punya kecepatan dan penuh keahlian. Febri sangat bisa bersaing di Liga Thailand terutama dalam posisi sayap."

"Rezaldi juga bisa saja bersaing di Liga Thailand tapi rasanya jarang klub Thailand yang mencari pemain asing di posisinya Rezaldi. Klub Thailand lebih cenderung berburu pemain di depan atau gelandang," ujar mantan pelatih fisik Persebaya itu.

Kalau para pemain eksodus ke Malaysia dan Thailand maka musim depan dan seterusnya pamor Liga Indonesia yang disebut sebagai Liga Inggris-nya Asia Tenggara akan meredup. Ini tidak lepas dari PSSI selaku federasi dan operator liga yang gagal membenahi kekurangannya di musim lalu. Jadwal kompetisi dan regulasi yang selalu berubah, klub yang telat bayar gaji pemain sampai berbulan-bulan, suporter anarkis, kualitas wasit dan kepentingan politik masih saja terus terulang dari musim ke musim seakan tanpa ada pembenahan. Akankah mulai musim depan Liga Indonesia telah memasuki masa senjakala?

Namun kalau dilihat dari sisi lain segala alasan non teknis itu bisa saja dianggap bukan suatu masalah tetapi bagian dari tradisi Liga Indonesia yang perlu dilestarikan. Mengingat suporter fanatik yang anarkis atau pengurus federasi yang secara terbuka berpolitik sulit ditemukan di liga negara manapun. Dilansir dari Kumparan, penulis buku  Sepak Bola: The Indonesian Way of Life, Antony Sutton menilai faktor-faktor semacam itulah yang menjadikan Liga Indonesia disebutnya sebagai yang terbaik di Asia Tenggara.

Pria asal Inggris ini mengatakan kultur dan hal-hal non-teknis yang kuat di Liga Indonesia itu justru membuatnya semakin tertarik. Bahkan ia tak segan menyebutkan, jika bicara kultur, sepak bola Indonesia adalah yang terbaik di Asia Tenggara. Bagi Sutton, kemeriahan sepak bola Indonesia saat ini mengingatkannya akan Inggris di masa lalu.

"Sepak bola sebuah wilayah adalah cerminan dari masyarakatnya. Jadi saya rasa, di Indonesia saya menemukan sepak bola yang sesungguhnya. Di Malaysia bukan sepak bola, di Thailand bukan sepak bola, di Singapura bukan sepak bola. Sepak bola Indonesia saat ini saya lihat seperti sepak bola Inggris 40 tahun lalu. Mereka sama-sama memiliki passion," jelasnya kepada Kumparan.

Selama menonton sepak bola di negara-negara Asia Tenggara, sangat jarang dirinya menemui stadion-stadion penuh dengan suporter seperti di Indonesia yang memperlihatkan passion luar biasa. Namun penilaian Sutton tentang Liga Indonesia yang terbaik sebatas di wilayah kultur atau tradisi yang merupakan kearifan lokal. Kalau bicara kualitas, Thailand dan Malaysia masih lebih baik. Karena itu dia tidak heran kalau pemain Indonesia banyak bermain di kedua liga tersebut untuk mengadakan skil dan mental.

"Alfred Riedl mungkin bilang dua tahun lagi Indonesia bisa mengalahkan Thailand. Tapi kita lihat bagaimana para pemainnya. Lihatlah pemain-pemain Thailand, Kawin (Thamsatchanan) dan Siroch (Chatthong). Badan mereka kekar, mereka mengatur pola makan. Coba lihat pemain Indonesia, mereka kecil-kecil. Mungkin terlalu sering makan bakso atau minum teh kemasan," tuturnya. "Sekarang, coba lihat berapa banyak pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri? Paling ada di Malaysia. Saya pikir siapa pun pelatihnya (Timnas Indonesia) pasti akan butuh waktu lama."