Mohon tunggu...
Lugas Wicaksono
Lugas Wicaksono Mohon Tunggu...

Remah-remah roti

Selanjutnya

Tutup

Wisata

Jangan Wisata ke Kota Batu Kalau Tak Ingin Terjadi Bencana Alam

27 Oktober 2017   20:14 Diperbarui: 27 Oktober 2017   20:28 0 1 0 Mohon Tunggu...
Jangan Wisata ke Kota Batu Kalau Tak Ingin Terjadi Bencana Alam
Pohon perindang yang ditebang di depan proyek pembangunan Jatim Park 3 | Facebook Wisata Pendidikan Teb Malang.

Sejak pisah dari Kabupaten Malang dan menjadi kotamadya sendiri 2001 lalu, Kota Batu terus menata diri menjadi kota wisata. Wilayahnya yang berada di dataran tinggi dengan panorama alam yang mempesona dan hawanya yang sejuk membuat siapapun tertarik untuk mengunjunginya. Apalagi kota ini memiliki buah khas apel yang jarang bisa ditemukan di daerah lain.

Namun alih-alih menjaga kealamian alamnya untuk menarik kunjungan banyak wisatawan, Pemkot bekerjasama dengan investor justru lebih suka membangun banyak wahana wisata. Lahan yang dulunya hijau kini telah berubah menjadi wahana semacam Jatim Park 1 dan 2, Museum Angkut, Batu Night Spektakuler dan masih banyak lagi.

Belakangan investor sedang membangun wahana wisata baru yang akan dinamakan Jatim Park 3. Saat akan dibangun sejumlah aktivis lingkungan memprotes keras dan mempertanyakan Analisa Mengabaikan Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dikeluarkan Pemkot Batu karena memakai lahan hijau yang produktif. Namun protes itu perlahan mereda dan tidak cukup menghalangi pembangunan. 

Beberapa hari belakangan pembangunan wahana baru ini kembali menuai polemik karena investor menebang belasan pohon perindang pinggir jalan yang ditanam warga sekitar. Padahal untuk menanam pohon sampai tumbuh besar butuh waktu puluhan tahun. Plt Walikota Batu, Punjul Santoso dengan entengnya berdalih tidak tahu mengenai penebangan pohon. Banyak yang meragukan investor akan mendapatkan sanksi berat atas ulahnya itu.

Siapapun yang pernah bersekolah sejak sekolah dasar sudah diajarkan melalui pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tentang fungsi pohon serta dampak buruk tidak adanya pohon dalam lingkungan alam. Semua juga tahu kalau tidak adanya pohon akan menyebabkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, pemanasan global sampai kekeringan. Mungkin saja investor dulunya tidak pernah bersekolah atau lupa pelajarannya. Bisa saja sudah tahu lalu untuk menggantinya akan membangun wahana pohon buatan.

Perkembangan pariwisata di Kota Batu juga diiringi dengan berkembangnya sarana akomodasi penunjang wisata tersebut. Beberapa tahun belakangan sudah banyak resort, hotel, vila, restoran baru yang juga banyak dibangun di atas lahan hijau yang masih produktif. Sebagian dari mereka dengan mudah bisa mendapatkan izin dari pemerintah, sebagian lagi mungkin belum berizin tetapi masih tetap bisa beroperasi.

Tidak jarang investor akomodasi wisata berkonflik dengan masyarakat karena berebut sumber daya alam. Misal saja sejak 2012 lalu warga Desa Bulukerto, Sidomulyo dan Bumiaji berebut sumber mata air Gemulo dengan pihak hotel yang berdiri di daerah tersebut. Pihak hotel tanpa merasa berdosa mengeksploitasi sebagian besar air untuk kepentingan hotel. Padahal sumber mata air yang terbatas itu biasa digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Uniknya pemangku kebijakan seakan menutup mata dengan konflik ini.

Sementara itu, berdirinya banyak wahana wisata juga dinilai efektif untuk meningkatkan kunjungan yang didominasi wisatawan domestik. Setiap tahun rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu mencapai 3,5-4 juta orang. Secara kasat mata banyak kunjungan wisatawan bisa dilihat ketika setiap akhir pekan selalu terjadi kemacetan di wilayah Kota Batu, Kota Malang dan sekitarnya. Ini karena peningkatan kunjungan wisata tidak diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur penunjang seperti jalan raya.

Di sisi lain dengan perkembangan wisata tidak sepenuhnya masyarakat Batu yang sejahtera. Petani apel sudah biasa merugi ketika musim panen tiba karena harga jual lebih rendah dibandingkan biaya produksi. Harga apel di tingkat petani rata-rata berkisar Rp 4.000 per kilogram padahal biaya produksi bisa mencapai Rp 7.000 per kilogram. Rendahnya harga jual ini karena permainan tengkulak dan banyak apel impor yang masuk.

Tidak heran kalau belakangan para petani apel memilih beralih menanam tanaman lain yang lebih produktif atau menjual lahannya untuk pembangunan hotel. Padahal apel merupakan buah khas Kota Batu. Kalaupun ada perkebunan apel yang terlihat sukses itu karena dikelola investor kakap untuk kepentingan agrowisata atau produksi masal makanan minuman berbahan apel seperti sari apel, keripik apel dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu, Walikota Batu, Edi Rumpoko yang telah menjabat hampir dua periode terciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah diduga menerima uang suap ratusan juta dari investor hotel untuk keperluan perluasan pembangunan. Mudah-mudahan kasus ini tidak ada hubungannya dengan tata kelola pariwisata di kota tersebut. Padahal jabatan Edi Rumpoko tinggal menyisakan beberapa bulan lagi dan tidak lama akan digantikan walikota terpilih, Dewanti Rumpoko yang tak lain adalah istrinya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2