Mohon tunggu...
Ludiro Madu
Ludiro Madu Mohon Tunggu... Dosen - Dosen

Mengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN 'Veteran' Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Putin dan Putinisme dalam Kebangkitan Kembali Kekuatan Global Rusia

16 September 2021   18:07 Diperbarui: 16 September 2021   18:08 725
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Putin/Sumber: The Blaze

Di sisi lain, penerapan glasnost dan perestroika menyebabkan kehancuran struktur sosial, ekonomi, dan politik yang telah dibangun sejak Revolusi Bolshevik 1917. Kedua kebijakan Gorbachev bukannya meneruskan, namun justru memotong sistem ekonomi-politik sebelumnya.

Warisan ekonomi-politik Presiden-presiden sebelumnya langsung dipotong oleh Gorbachev, sehingga para pendukung reformasi merasakan kebebasannya. Patung-patung Vladimir Lenin, Josef Stalin, Leonid Brezhnev, Nikita Khrushchev, bahkan Karl Marx pun menjadi sasaran perusakan, seperti hancurnya tembok Berlin.

Bagi negara-negara Barat yang dipimpin AS, perkembangan baru di Rusia di masa Gorbachev sangat menguntungkan mereka. Rusia bukan lagi negara besar sekuat US yang mampu mengimbangi AS dan sekutu-sekutunya dalam rivalitas global. Apalagi pengganti Gorbachev, yaitu Boris Yeltsin, semakin menunjukkan liberalisasi ekonomi dan politik memberikan keuntungan bagi AS dan sekutunya.

Sebaliknya, kenyataan itu membuat kelompok-kelompok konservatif dan masyarakat yang kecewa dengan kehancuran US dan negara baru mereka, yaitu Rusia. Mereka berupaya keras melakukan resentralisasi pemerintahan dan kontrol lebih ketat kepada masyarakat.

Perilaku Putinisme tampak pada preferensinya terhadap kontrol, persatuan, dan loyalitas. Lalu, emosi Putinisme muncul pada pandangannya terhadap rasa hormat, penentangan, dan rasa takut. Oleh karena itulah, muncul pandangan bahwa Putin adalah Rusia dan Rusia adalah Putin.

Putinisme tak dapat disangkal menunjukkan sentralisasi kekuasaan ekonomi, politik, pertahanan, dan keamanan di Rusia berada di genggaman Putin. Sebagai sebuah sistem, kekuasaan Putin diwujudkan melalui lembaga-lembaga kepolisian, militer, dan intelijen yang tersebar di seluruh negeri.

Putinisme telah berakar kuat di Rusia sejak 1999. Akibatnya, kritik dan protes atas kebijakan Putin diyakini tidak akan mampu mengancam otoritas dan legitimasi pemerintahan Putin. Musuh politik terbarunya, yaitu pemimpin oposisi Alexei Navalny, diracun sebagai akibat dari kritiknya terhadap kepemimpinan Putin.

Putin bersikap sangat pragmatis dalam mengelola kekuasaan domestiknya. Semua kekuatan politik harus tunduk dan mengakui dominasinya. Hirarki, kontrol, dan loyalitas diterapkan Putin untuk menjamin keberlangsungan kekuasaaannya. 

Putin tidak mempersoalkan ideologi tokoh politik atau oligark Rusia, yang penting adalah penerimaan mereka terhadap Putin. Apalagi, latar belakang Putin sebagai mantan kepala FSB (bekas KGB) memperkuat lingkaran dalam kekuasaaanya.

Legitimasi politik domestik melalui Referendum 1 Juli 2020 semakin memperkuat kekuasaan Putin. Lebih dari 76 persen rakyat Rusia memperlihatkan soliditas dukungan politik mereka kepada Putin dalam mengatur negara.

Hasil referendum itu menunjukkan secara jelas bahwa rakyat Rusia memutuskan memberikan kekuasaan kepada Putin sebagai Presiden di Rusia. Referendum itu menunjukkan stabilitas kekuasaan horisontal Putin di masyarakat Rusia telah memastikan kontinuitas sistem politik domestik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun