Mohon tunggu...
Lubisanileda
Lubisanileda Mohon Tunggu... I'm on my way

A sky full of stars

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Jenis Kelamin dalam Profesi Jurnalis

19 Desember 2019   00:39 Diperbarui: 19 Desember 2019   01:11 42 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jenis Kelamin dalam Profesi Jurnalis
Foto: Dokumentasi pribadi saat meliput pengungsi Ronghiya di Langsa, Aceh

Sebagai jurnalis perempuan, keinginan saya sederhana, yakni bisa menulis peristiwa bersama jurnalis perempuan lainnya dengan sudut keibuan. 

Sepanjang 16 tahun berkarir sebagai jurnalis, belum pernah saya merasakan liputan bersama jurnalis perempuan secara komunal (dibaca:  memiliki sudut pandang yang sama terhadap sebuah peristiwa). 

Seringkali sudut pandang yang sama itu justru seirama dengan jurnalis pria. Maka tak heran situasi dengan istilah 'anak perawan di sarang penyamun' kerap saya alami. Saya menjadi satu-satunya perempuan di antara para pria. 

Ada enaknya, juga ada tidak enaknya. Tapi bagian ini nanti saya ceritakan di tulisan khusus. Saya ingin bercerita mengenai kaum saya, para perempuan yang mengemban profesi jurnalis dalam hidupnya. 

Satu-satunya kelemahan jurnalis perempuan menurut hemat saya adalah seringkali dan bahkan hampir selalu mengutarakan alasan yang berkaitan dengan kegenderannya. Ini benar lho. Alasan penolakan selalu berujung pada alasan gender tadi. Jadi ya wajar saja, jika para jurnalis perempuan jarang yang seirama dalam peliputan. Apalagi yang bentuknya komunal. 

Masih hemat saya juga, tentu menggembirakan jika para jurnalis perempuan memiliki sudut pandang yang seirama terhadap sebuah peristiwa yang terjadi. Dengan begitu pekerjaan meliput bukan sekadar lepas utang. Namun karena merupakan keinginan bersama untuk menceritakan peristiwa itu dalam sudut keibuan tadi. 

Padahal profesi ini (jurnalis) adalah profesi yang tak mengenal gender. Saya cenderung mengungkapkan hal ini dalam perbincangan-perbincangan non formil bersama teman-teman. Agar tetap menjaga hasil yang dikerjakan oleh profesi itu, maka tidak dibenarkan seorang jurnalis memasukkan ego suku, agama, ras, antar golongannya. Bahwa informasi sejatinya adalah utuh tanpa dicaplok keberpihakan dan kepentingan. Informasi harus real, fakta, tanpa ditambah-tambahi, pun dikurang-kurangi. Adil juga berimbang. 

Bicara ideal semua orang pasti bisa. Apalagi dalam balutan kosa kata yang menarik. Namun secara nyata? Ah ego tadi masih berperan kuat. Termasuk soal gender tadi. 

Dua tahun yang lalu pada sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh organisasi jurnalis perempuan di Medan yang bekerja sama dengan pemerintahan setempat serta pengusaha-pengusaha perempuan di Medan sedang berlangsung di sebuah mal. Dalam senggang waktu kala itu saya berkesempatan untuk ngobrol panjang lebar dan mendalam dengan teman-teman jurnalis perempuan yang tergabung dalam forum jurnalis perempuan. 

Perasaan saya kala itu bukan hanya gembira, tapi sangat puas karena bisa menyampaikan kegelisahan saya terhadap teman-teman jurnalis perempuan sekalian. Sebuah pertanyaan menjadi pemantik diskusi killing time ini. "Kenapa kamu gak ikut gabung dalam organisasi jurnalis perempuan?" tanya sang pemimpin organisasi jurnalis perempuan pada saya. 

Terus terang dalam menjawab pertanyaan yang sensitif ini saya harus pandai-pandai mengatur kalimat. Saya katakan, saya belum maksimal untuk terjun ke dalam organisasi itu. Karena prinsip saya, sekali terjun saya harus berbuat sesuatu bagi ilmu itu sendiri (jurnalistik) dan juga bagi kaum saya (perempuan). Kalau hanya sekadar terdaftar, tanpa berbuat apa-apa, ya mending tidak usah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x