Mohon tunggu...
Lubisanileda
Lubisanileda Mohon Tunggu... I'm on my way

A sky full of stars

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Rumus Bertahannya Media Cetak yang Digempur Online, Ibarat Novel tapi Faktual

6 Desember 2019   18:34 Diperbarui: 6 Desember 2019   18:42 68 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rumus Bertahannya Media Cetak yang Digempur Online, Ibarat Novel tapi Faktual
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Mengawinkan disiplin yang paling keras dalam jurnalisme dengan daya pikat sastra. Ibarat novel tapi faktual. Ibarat novel ia mencerahkan. (1973 Tom Wolfe: The New Journalism).

'The New Journalism' adalah antologi jurnalisme tahun 1973 yang diedit oleh Tom Wolfe dan E. W. Johnson. Buku ini merupakan manifesto untuk jenis jurnalisme baru karya Wolfe, dan kumpulan contoh Jurnalisme Baru karya penulis Amerika, yang mencakup berbagai topik mulai dari yang remeh hingga yang sangat serius.

Tom Wolfe tidak menciptakan 'jurnalisme baru', juga tidak memberikan nama ini. Dalam esai tahun 1973 yang berpengaruh, 'The New Journalism' (yang memperkenalkan antologi dengan nama yang sama).

Wolfe menggambarkan genre baru sebagai jurnalisme yang bertuliskan 'seperti novel' karena menggunakan empat teknik yang digunakan oleh para novelis: mengatur cerita dalam adegan-adegan tertentu alih-alih dalam tren 'historis' yang terkilir; ekstensif menggunakan dialog realistis; narasi sudut pandang dari sudut pandang karakter; dan mata untuk detail 'status' sehari-hari yang mengungkapkan realitas sosial karakter.

Wolfe menjelaskan bahwa menempatkan perangkat sastra ini untuk digunakan dalam jurnalisme bertentangan dengan aturan tradisional tentang objektivitas dan netralitas dalam jurnalisme; tetapi genre baru berbeda dari bentuk-bentuk sastra nonfiksi lainnya persis dengan apa yang diambil dari jurnalisme --- pelaporan faktual berdasarkan 'kerja keras', wawancara ekstensif, fakta yang dapat diverifikasi, dan detail yang dapat diamati.

"Para penulis fiksi ((menyerahkan)) kekuatan unik ini untuk mencari jenis fiksi yang lebih canggih. Jurnalis sekarang menikmati keuntungan teknis yang luar biasa. Mereka memiliki semua jus.

Pekerjaan yang dilakukan dalam jurnalisme selama 10 tahun terakhir dengan mudah mengungguli pekerjaan yang dilakukan dalam fiksi .Tekniknya sekarang tersedia, dan waktunya tepat."

Bangun dan Mulai. Sekarang, atau tidak sama sekali.

Wacana
Kalimat itu saya unggah di akun IG saya (lubisanileda). Muasalnya akibat santernya wacana tentang berakhirnya media massa cetak (koran, majalah, bulettin, dan sejenisnya) di era yang serba digital kini. Wacana itu kok rasanya terus mengiang di benak saya.

Apalagi setahun belakangan kabar tak enak tentang matinya beberapa media massa cetak di Indonesia pun luar negeri menjadi bukti konkrit sekaligus apologi bagi wacana itu. Sebutlah Koran Express di Washington DC, Tabloid Bola di Jakarta, Koran Medan Bisnis di Kota Medan berakhir di tahun yang sama (2019).

Maka dari nyata yang terjadi itu apakah media massa bisa bertahan di zaman now? Saya jawab bisa! Asalkan mau. Hemat saya, jatuhnya media massa cetak saat ini disebabkan kita; para insan pers ini enggan move on dari zona nyaman warisan zaman old.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x