Mohon tunggu...
L S P 3 I
L S P 3 I Mohon Tunggu... Dosen - Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Indonesia (Institute for Policy Research and Development study Indonesian Education), adalah organisasi non profit pendidikan yang bergerak di bidang KAJIAN, STUDI & RISET.Tujuannya mewujudkan tatanan pendidikan Tinggi Indonesia yang berpegang kepada nilai-nilai peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global.
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Lembaga Studi Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Indonesia "untuk pengembangan dan kemajuan pendidikan tinggi Indonesia"

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Minim Keterampilan, Penyebab Tingginya Pengangguran Terdidik

27 Juli 2019   18:15 Diperbarui: 28 Juni 2021   22:19 2774
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Penyebab pengangguran terdidik tinggi (unsplash/saulo mohana)

sarjana-menganggur-02-5d3c441b0d82303e9d45abb4.jpg
sarjana-menganggur-02-5d3c441b0d82303e9d45abb4.jpg
Faktor preferensi merupakan penyebabnya lainnya, di mana masih banyak lulusan sarjana yang terlalu memilih-milih pekerjaan. Tidak mau melakukan sembarang pekerjaan karena dianggap tidak setara dengan kompetensi yang dimiliki. 

Alhasil, para lulusan ini malah menganggur dan tidak bekerja sama sekali. Disisi lain mereka meminta gaji yang terlalu tinggi. Tentu saja perusahaan tidak dapat mengabulkan keinginan mereka tersebut. Berbeda halnya misalkan mereka yang memiliki skill dan pengalaman kerja yang relevan.

Dunia kerja kekinian membutuhkan fresh graduate yang memiliki skill. Pihak pengguna lulusan, mengakui bahwa banyak tenaga kerja khususnya lulusan sarjana yang melamar, dan kemudian dalam proses rekrutmen, ditemukan calon tenaga kerja yang masih "buta" dengan dunia kerja. Mereka sama sekali tidak memiliki awareness tentang pekerjaan yang mereka lamar.

Berbagai hasil riset telah merekomendasikan kepada pemerintah dan penyelenggara pendidikan bahwa ada hal yang harus segera dibenahi dari sektor pendidikan tinggi kita, ini semacam early warning bahwa betapa pendidikan berbasis kebutuhan dunia kerja dan industri (DuDi) yang sangat dibutuhkan sekarang ini.

Baca juga : Meningkatnya Pengangguran Terdidik di Papua, Punya Ijazah tapi Tidak Dapat Kerjaan

Data Biro Pusat Statistik (BPS) jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahunnya mencapai 350 ribu orang. Ironisnya lagi, banyaknya lulusan dibandingkan dengan pertumbuhan perusahaan tidak rasio. Artinya dengan lulusan 360 orang setiap tahunnya akan banyak lulusan sarjana yang tidak terserap dipasar kerja.

Data perbandingan Agustus 2014 - Agustus 2018 menunjukkan, tingkat pengangguran lulusan diploma (D1-D3) turun dari 6,14% menjadi 6,02%, sedangkan lulusan SMK, tetap, yakni 11.24%. Kenaikan tingkat pengangguran justru terjadi pada lulusan sarjana yakni dari 5,65% menjadi 5,89%.

Berdasarkan data BPS per Februari 2019, menunjukkan, tingkat pengangguran lulusan diploma (D1-D3) naik 8,5% dari 6,4% menjadi 6,9%, sedangkan tingkat pengangguran pada lulusan sarjana naik 25% dari 5,0% menjadi 6,2%.

Angka-angka tersebut menunjukkan korelasi positif dengan jumlah Pengangguran terdidik. Ketersediaan lapangan pekerjaan bagi lulusan diploma dan sarjana, atau mereka yang memiliki keterampilan spesifik, masih belum bertambah.

Walaupun tenaga kerja terdidik tidak benar-benar menganggur karena masih ada peluang kerja yang mampu menampung mereka yaitu bisnis wirausahawan dan munculnya strat up. Karena itu, upaya pemerintah untuk terus menumbuhkan wirausahawan dan munculnya strat up perlu terus digenjot.

Selain menciptakan lapangan pekerjaan, link and match antara pendidikan dan industri atau dunia kerja perlu terus dipertajam. Lulusan perguruan tinggi yang menganggur memperlihatkan mutu pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Fenomena yang berkembang saat ini, akses pendidikan, seperti pembukaan tempat kuliah baru memang meningkat tetapi lulusannya hanya sebatas dibekali teori tanpa kemampuan yang sesuai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun