Mohon tunggu...
elde
elde Mohon Tunggu...

penggembira....

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di Jerman

25 Oktober 2014   19:30 Diperbarui: 17 Juni 2015   19:46 0 27 25 Mohon Tunggu...
Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di Jerman
1414222588640466122

Sering kita jumpai banyaknya toko pakaian bekas atau second hand di kota besar Indonesia. Tidak terkecuali kota Jogja. Penjualan pakaian yang dipromosikan berasal dari hasil import dan produk luar negeri. Toko semacam ini dikenal kalangan umum di Jogja dengan sebutan "toko awul-awul" yang dalam pengertian sederhana semacam acak-acakan. Kemungkinan saja karena melihat cara penjualannya yang tidak seperti kebanyakan toko pakaian biasanya. Campur aduk. [caption id="attachment_369109" align="aligncenter" width="475" caption="container pakaian dan sepatu bekas..http://www.merkur-online.de/bilder/2013/04/08/2840610/1598517195-4621999_522-1109.jpg"][/caption] Darimana mereka bisa mendapatkan barang tersebut ? Kenapa sampai bisa diperjualbelikan ? Selama ini setahu awam pakaian dan sepatu bekas tersebut berasal dari masyarakat di luar negeri dan memberikan dengan suka rela untuk disumbangkan bagi yang membutuhkannya. Misalnya di negara Jerman, ada sekitar 120.000 container untuk menampung segala jenis pakaian hingga sepatu bekas. Kebanyakan masyarakatnya berpikir barang yang ditampung dalam container tersebut nantinya untuk kegiatan amal. Kekecewaan akhirnya didapatkan setelah mengetahui bahwa sebagian dari pengumpulan pakaian itu diperdagangkan lagi. Kemiripan bentuk dan container membuat orang tidak mengira bahwa itu berasal dari berbagai firma yang mengelolanya. Jenis container yang digunakan terlihat sama bentuk dan warnanya tapi tercantum berbagai nama lembaga non profit atau yayasan sosial, namun dibelakangnya ternyata tidak jelas pengelolanya. Jika tertera nomer telepon dan dihubungi, tidak sesuai dengan alamat dan logo seperti yang tertulis atau hanya mailbox saja. Setiap tahunnya di Jerman diperhitungkan sekitar 1.5 milyar pakaian bekas terkumpul dari rumah tangga dan jumlah ini cenderung meningkat. Sebagian kecil dari jumlah tersebut jika hanya untuk disumbangkan atau aksi sosial sudah dianggap cukup. Hal ini kemungkinan yang membuat orang melakukan bisnis berdalih aksi kemanusiaan. Satu container penuh, diperkirakan bisa dijual lagi hingga harga 500 euro. Lalu siapa yang menampung barang-barang tersebut ? Biasanya para penyortir pakaian di dalam dan luar negeri yang membelinya. Untuk pakaian masih layak pakai dijual lagi pada toko second hand seperti yang terlihat di Indonesia atau negara lain. Jika sudah tidak layak pakai akan dijual ke pabrik recycling  dan didaur ulang untuk  dijadikan bahan tekstil lagi. Modus "penipuan" konsumen dengan mengatasnamakan yayasan tertentu bertujuan amal telah mengecewakan banyak orang. Salah satu cara lain yang dilakukan para pengumpul pakaian bekas dengan menyewa nama dan logo milik lembaga sosial tertentu. Setiap bulannya lembaga yang disewa mendapatkan uang sesuai kontrak pertahun walaupun tidak tahu apa yang terjadi kemudian dengan pakaian bekas yang dikumpulkan. Secara hukum hal ini dianggap tidak pantas karena yayasan tersebut dianggap ikut berkontribusi melakukan penipuan. [caption id="" align="aligncenter" width="456" caption="container baru...http://www.br.de/radio/bayern2/sendungen/notizbuch/altkleidercontainer-awm-100~_v-image256_-a42a29b6703dc477fd0848bc845b8be5c48c1667.jpg?version=ecbac"][/caption] Himbauan dari Pusat Pelayanan Konsumen untuk orang-orang yang ingin menyumbangkan segala jenis pakaian bekas,masyarakat diharap melakukan klarifikasi identitas nama atau logo yang tertera di container sebelumnya. Selain itu untuk daerah München pemerintah setempat beberapa waktu lalu telah membuat beberapa model container baru. Beda bentuk dan juga warnanya untuk memudahkan memilah bagi para penyumbang pakaian bekas agar tidak dikecewakan lagi. Selanjutnya pengelolaan akan ditangani secara resmi untuk disalurkan kepada Palang Merah, Caritas, Diakonie dan lembaga sosial lainnya.