Mohon tunggu...
Tri Lokon
Tri Lokon Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Berpelesir ke Timika, Jangan Lupa Bawa Oleh-oleh Ini

20 Mei 2019   21:24 Diperbarui: 21 Mei 2019   04:06 0 8 1 Mohon Tunggu...
Berpelesir ke Timika, Jangan Lupa Bawa Oleh-oleh Ini
Noken Tas Khas Papua (Dokumen Pribadi)

Timika itu kota banyak cerita. Semua yang dikisahkan dari mulut kemulut, selalu berujung dan berpangkal dari Freeport yang melakukan eksplorasi tambang di Grasberg, Tembagapura. Tak hanya menarik untuk didengarkan tetapi alur ceritanya layak untuk dihubung-hubungkan yang satu dengan hal lain yang ada di Timika.

Dua kali saya menyambangi pasar tradisional Gorong-gorong, Jalan Port Site, Koperapoka. Pasar ini menyimpan banyak kisah. Pasar ini berada di perempatan jalan yang dilalui oleh para pekerja Freeport dari dan ke Tembagapura. 

Tak heran, setiap hari pasar ini ramai. Kehadiran para karyawan Freeport digabung dengan para pembeli dari masyarakat Timika, membuat pasar itu tidak pernah sepi.

Kepiting, Banyak Dijual di Gorong-Gorong (Dokumen Pribadi)
Kepiting, Banyak Dijual di Gorong-Gorong (Dokumen Pribadi)
Udang besar (Dokumen Pribadi)
Udang besar (Dokumen Pribadi)
"Mama-mama penjual keladi, ubi, sayuran itu asalnya dari gunung. Mereka menumpang kendaraan Freeport yang turun membawa karyawan yang off dan sore harinya numpang ke atas yang akan ke Tembagapura" cerita Devy, warga Tomohon yang lama tinggal di Timika mengikuti suaminya.

"Di pasar ini keraka (kepiting) murah. Per ekor, dua puluh ribu. Udang besar per kilo, sekitar seratus ribu. Belum ikannya, seperti bawal, kakap merah, baronang dan lainnya, cukup murah dibandingkan Manado" imbuh Devy.

Yang unik, saya melihat banyak tukang ojek. Konon, tukang ojek ini dulu adalah karyawan Freeport yang ikut demo tahun 2017. Dikabarkan, saat demo di sekitar pasar Gorong-Gorong itu, terjadi kerusuhan dengan membakar kendaraan-kendaraan milik Freeport dan para karyawan.

Keraka Papua (Dokumen Pribadi)
Keraka Papua (Dokumen Pribadi)
Ikan Laut Segar (Dokumen Pribadi)
Ikan Laut Segar (Dokumen Pribadi)
Karena itu, jadwal karyawan turun dan naik sudah dihafal sehingga kebanyakan mereka sudah siap jika ada yang mau ngojek. Oh ya, di Timika belum ada ojol. Tak heran pangkalan ojek ada di mana-mana.

Devy sukses mempengaruhi saya. Di  pasar Gorong-Gorong itu, kami membeli 10 ekor keraka, yang harganya 30 ribu karena besar dan jantan. Tak hanya itu, 2,5 kg udang besar kami bungkus dengan harga 200 ribu. Untuk apa beli keraka dan udang? Yah, buat oleh-oleh dong. Oleh-oleh dari Timika.

Masyarakat Timika berasal dari berbagai daerah dan rasanya tepat kalau miniatur Indonesia ada di kota Timika. Tak heran, saat mencari kuliner, wisatawan tergantung suka makan dan masakan apa.

"Udang dan Keraka dibawa dari pelabuhan-pelabuhan ikan tradisional di sekitar Timika" jelas Devy.

Cerita lain yang masih berujungpangkal PT Freeport adalah Kopi Amungme. Dinamakan kopi Amungme Gold, menurut pak Otto Tsuname penggiling kopi di Koperasi Amungme Gold Coffee, karena kopi berjenis arabika itu ditanam oleh para petani dari masyarakat suku Amungme yang berada di dekat pertambangan Tembagapura.

Pak Otto, Menggiling Biji Kopi Arabika (Dokumen Pribadi)
Pak Otto, Menggiling Biji Kopi Arabika (Dokumen Pribadi)
Kopi Amungme andalan oleh-oleh dari Timika (Dokumen Pribadi)
Kopi Amungme andalan oleh-oleh dari Timika (Dokumen Pribadi)
PT Freeport sangat peduli terhadap peningkatan kapasitas masyarakat, khususnya Suku Amungme dan Kamoro serta suku-suku pedalaman lainnya. Program yang sudah dibuat oleh PTFI meliputi bidang Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi, Infrastruktur dan Budaya Agama. Itu program CSR Freeport.

Kopi Amungme adalah salah satu kepedulian PTFI. Aroma dan cita rasa kopi arabika ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan atau pembeli.

"Bau kopinya tahan lama. Pahitnya kopi bila disedu, membuat hangat tubuh. Itulah kopi ini cepat habis diborong pembeli. Setiap bulan bijih kopi dikirim dari pegunungan dengan helikopter, saking larisnya" lanjut pak Otto.

Biji Kopi Arabika Petani Amungme (Dokumen Pribadi)
Biji Kopi Arabika Petani Amungme (Dokumen Pribadi)
Satu bungkus, baik yang masih biji maupun yang sudah digiling halus, berkapasitas 250 gram dijual dengan harga 50 ribu. Kami beli 10 bungkus untuk dibawa sebagai oleh-oleh dari Timika. Kami beli di Koperasi Amungme dekat bandara. Katanya sih, lebih murah dibandingkan di supermarket.

Noken, tas khas Papua, sempat saya lirik untuk saya bawa sebagai oleh-oleh dari Timika. Apalagi, kerajinan tangan khas Papua itu pembuatannya lama dan butuh ketelitian, dan memadukan seni dan komposisi warnanya indah. 

Satu tas Noken harganya bisa mencapai 300 ribu. Berhadapan dengan mama-mama penjual tas Noken, sebaiknya tidak usah menawar. Itulah keunikan masyarakat Papua dalam menjual barang.

CSR Freeport Bidang Pendidikan (Dokumen Pribadi)
CSR Freeport Bidang Pendidikan (Dokumen Pribadi)
Aksi Bocah Kamoro (Dokumen Pribadi)
Aksi Bocah Kamoro (Dokumen Pribadi)
Masih banyak cerita di kota pendukung Freeport ini. Masyarakat Timika berasal dari berbagai daerah dan rasanya tepat kalau miniatur Indonesia ada di kota Timika. Tak heran, saat mencari kuliner, wisatawan tergantung suka makan dan masakan apa. 

Kalau di Timika, orang berjualan Angkringan, Bakso, Tempe Penyet, Lamongan, Rawon, Bebek Goreng, Masakan Danau Toba, Soto Konro, Minahasa, Restoran Seafood, KFC, AW, dan lainnya.

Kantor Koperasi Anungme Gold Coffee (Dokumentasi Pribadi)
Kantor Koperasi Anungme Gold Coffee (Dokumentasi Pribadi)
Pak Otto asyik menggiling biji kopi (Dokumen Pribadi)
Pak Otto asyik menggiling biji kopi (Dokumen Pribadi)
Kehadiran aneka macan makanan menandakan bahwa Timika dihuni tak hanya masyarakat suku Papua seperti Amungme, Kamoro, Moni, Dani, Nduga, Damai dan Lanny, tetapi dari Toraja, Batak, Manado, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogya, Sunda, Batak, Bugis, Ambon, Kei, Flores dan lainnya seakan bisa disebut, miniatur Indonesia ada di Timika.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2