Tri Lokon
Tri Lokon karyawan swasta

Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Pulau Lihaga, Layakkah untuk Wisata Edukasi?

15 April 2018   10:02 Diperbarui: 18 April 2018   14:43 1975 7 5
Pulau Lihaga, Layakkah untuk Wisata Edukasi?
Lihaga, Pulau Pasir Putih (dokpri)

Michelle, asal Perth Australia, selalu berdiskusi dengan Ludovic, asal Perancis tentang layaknya objek wisata menjadi lokasi yang dikunjungi dalam wisata edukasi. Apakah standar keselamatan dan kebersihan sudah layak? Selain itu, apakah ada kemungkinan untuk berkolaborasi dengan pemerintah setempat dan berkomunikasi dengan penduduk lokal?

"Apakah pulau Lihaga, Minahasa Utara layak untuk wisata edukasi?" inilah tujuan mereka pergi ke pulau Lihaga, Kamis (12/4).

Sekarang ini, Pulau Lihaga menjadi primadona buat dikunjungi oleh wisatawan. Luas pulau ini 8 hektar. Sebagian besar pantainya berpasir putih, selembut bedak, dan bukan pulau berpenghuni. Memiliki spot snorkeling yang tak kalah dengan Bunaken. Keindahan aneka biota laut dan terumbu karangnya diakui paling bagus oleh para pecinta snorkeling.

Pelabuhan Likupang (dokpri)
Pelabuhan Likupang (dokpri)
Untuk menuju ke Pulau Lihaga, dibutuhkan hanya 90 menit dari Kota Manado. Dulu, pelabuhan Serei dipakai untuk titik berangkat. Sekarang, semua perahu wisata yang akan menuju ke Lihaga, diwajibkan melalui pelabuhan Likupang. Alasannya, tak lain adalah pencatatan (manifest) para penumpang perahu.

Dari pelabuhan Likupang, hanya butuh waktu 40 menit sampai di Pulau Lihaga. Sewa perahu wisata dipatok mulai dari Rp. 800.000,- per hari. Jadi perahu akan menunggu penyewa hingga pulang ke Pelabuhan Likupang.

Saya dan rombongan tiba di Pelabuhan Likupang sekitar jam 10 pagi. Kami singgah di rumah makan Seroja, Manado untuk membeli nasi kuning telor. Ya, bekal untuk makan siang nanti di Lihaga. Soalnya, di pulau tak ada yang jual makan dan minum. Kebutuhan konsumsi harus disiapkan sendiri. Jangan lupa bawa air mineral yang banyak karena udara di pulau sangat panas.

Perahu membawa turis China (dokpri)
Perahu membawa turis China (dokpri)
Turis China di pelabuhan Likupang (dokpri)
Turis China di pelabuhan Likupang (dokpri)
Kami sudah pesan perahu sehari sebelumnya. Kebetulan kami kenal dengan Pak Roli. Ia sering membantu kami apabila ada tamu kantor ingin pesiar ke Lihaga. Tak hanya itu, Pak Roli juga membantu mencarikan jaket pelampung dan peralatan snorkeling. Di pulau, tak ada penyewaan perlengkapan snorkeling. Memang peralatan itu harus dipersiapkan sendiri.

Tetiba di pelabuhan Likupang, Roli menyambut kami dan memberitahukan perahu yang kami sewa bernama "Getsemani" dengan cat merah biru di badan perahu dan di kapal sudah tersedia jaket pelampung untuk snorkeling.

Siang itu, suasana pelabuhan Likupang cukup ramai. "Ini turis-turis China mau pesiar ke Lihaga? Berapa kira-kira jumlah mereka?" tanya saya kepada Roli. Karena Roli sejak pagi sudah berada di pelabuhan, ia lalu bercerita, "Yah, saya lihat sekitar 15 perahu berangkat ke Lihaga dan setiap perahu diisi sekitar 30 wisatawan, jadinya sekitar 450 wisatawan. Itu baru turis China," jelas Roli sambil mengisap rokoknya.

Tercatat, 2017 ada 7.208 wisman asal turis China (Tiongkok) berkunjung ke Manado dan sekitarnya. Kalau setiap wisman, selama berlibur ke Bumi Nyiur Melambai, menghabiskan 1 juta rupiah, maka pendapatan daerah sekitar Rp. 7,2 miliar. Banjirnya turis China, didukung dengan adanya 19 penerbangan (charter flight) langsung dari kota-kota seperti Guangzhou, Changsa, Wulan, Sanghai, Shenzhen dan kota lainnya ke Manado.

Siap ke Lihaga (dokrpi)
Siap ke Lihaga (dokrpi)
Di dalam perahu (dokpri)
Di dalam perahu (dokpri)
Saya dan rombongan sedikit bersabar menunggu giliran berangkat karena saat itu, perahu-perahu wisata sedang melayani turis China. Saya melihat tiga petugas berjilbab mencatat nama perahu dan jumlah penumpangnya. Para turis China berkomunikasi dengan bahasa Mandarin yang tidak saya mengerti. Uniknya, ada yang memakai sepatu heels dan berpakaian ala seorang model dengan topi dan longdress-nya. Buat selfi kali ya.

"Yuk berangkat, perahu sudah bersandar. Oh ya jangan lupa tamu saya dibawa ke mangrove," teriak Roli kepada motoris perahu bermesin ganda 40 PK.

Suara mesin perahu, berkuatan ganda 40 PK, memecah air laut meninggalkan keramaian pelabuhan Likupang. Michelle dan Ludo bergeser duduknya dari buritan menuju ke dek depan perahu untuk mengamati lebih saksama pertumbuhan tanaman magrove. Dalam benaknya, apakah mungkin siswa diajak menanam pohon magrove? Kalau bisa, lokasi mana yang cocok untuk penanaman pohon bakau (mangrove)?

Perahu berlayar mengelilingi kawasan mangrove Likupang. Sayangnya tak ada lokasi yang bisa untuk berlabuh. Lalu kami melanjutkan menuju ke pulau Lihaga.

Setelah berlayar sekitar 40 menit, awak perahu melempar jangkar untuk berlabuh. Teriknya sinar matahari yang menerpa pasir putih, makin membuat gerah badan. Saat kaki menyentuh air laut pantai, terasa airnya hangat.

Desa Bulutui (dokpri)
Desa Bulutui (dokpri)
Pondok untuk istiirahat (dokpri)
Pondok untuk istiirahat (dokpri)
Kami lalu menuju salah satu pondok dan meletakan barang bawaan di atas meja kayu. Sejenak kami duduk dan merencanakan untuk snorkeling di bagian Barat pulau. Sementara itu, saya melihat aktivitas banana boat keliling pulau. Wisatawan lain, sebagian makan di pondok dan sebagian berenang di air laut biru jernah dan berfoto ria di seputaran pantai.

"Bagus. Terumbu karang dan ikan-ikannya masih banyak. Cocok untuk tempat snorkeling buat siswa-siswa nanti. Hanya harus ada pengawasnya," ungkap Michelle memperhatikan aspek keselamatan dalam snorkeling.

Snorkeling (dokpri)
Snorkeling (dokpri)
Mencoba terbang (dokpri)
Mencoba terbang (dokpri)
Tak hanya itu, kami berusaha mengelilingi pulau atas ajakan Michelle, yang baru pertama kali datang ke Pulau Lihaga. Saya dan yang lain sudah pernah menyambangi pulau ini. Buat Michelle, kalau hanya diceritakan tentang kondisi alam pulau, belum cukup. Karena itu, minta diantar keliling pulau. Akses satu-satunya adalah menyisir mulai dari pantai berpasir hingga bebatuan.

sampah (dokpri)
sampah (dokpri)
Sampah (dokpri)
Sampah (dokpri)
Dalam perjalanan keliling pulau, tak sedikit ditemukan sampah menumpuk, terutama sampah plastik bekas minuman dan makanan. Slogan "jangan membuang sampah sembarangan" perlu ditulis dengan huruf besar-besar, agar pulau Lihaga ini lama-lama tidak menjadi pulau sampah. Bahkan, jika penuh sampah, Lihaga tidak bisa lagi menjadi daya tarik wisatawan khususnya wisman. Siapa peduli? Entahlah.

Jarum jam menunjuk angka 3. Kami bersiap untuk kembali ke Pelabuhan Likupang. Sebelum sampai ke pelabuhan, kami singgah di Desa Bulu Bulutui. Di desa itu, kami diterima oleh Hukum Tua (Lurah) Desa Bulutui, Likupang, Minahasa Utara. Dalam dialog, ternyata warga desa mayoritas nelayan. Ada yang melaut malam hari dan ada yang siang hari.

Dermaga desa Bulutui (dokpri)
Dermaga desa Bulutui (dokpri)
Selain ikan, Bobara, Goropa, Kakap Merah, Kakak Tua, yang diminati nelayan adalah Gurita dan Sotong. Alasannya, nilai jualnya tinggi. Per kilo harga Gurita atau Sotong bisa sampai 25 ribu.

"Sayang, kondisi sekarang sudah lain dengan dulu. Gurita apalagi Sotong langka didapat. Kemungkinan besar karena habitat mereka untuk berkembang-biak sudah rusak. Perubahan iklim berpengaruh dalam siklus hidup kedua binatang itu. Padahal warga disejahterakan oleh Gurita," kisah Aswadi Sahari, Hukum Tua Desa Bulutui.

Gurita, hasil tangkapan nelayan Bulutui (dokpri)
Gurita, hasil tangkapan nelayan Bulutui (dokpri)
Kedua tamu asing saya, tampak serius memperhatikan cerita Pak Aswadi. Lalu menyambungnya dengan bertanya soal pendidikan anak, kesehatan dan mencoba memikirkan seandainya siswa-siswa nanti dibawa ke desa ini, apa manfaatnya dan bagaimana proses belajarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2