Mohon tunggu...
Kevin Ivan
Kevin Ivan Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Belajar dari Kasus "Brent Spar". Sebuah Contoh Komunikasi Risiko

3 Desember 2017   04:59 Diperbarui: 3 Desember 2017   06:01 1334
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Dalam sebuah perusahaan industri tidak akan terlepas dari yang namanya krisis maupun resiko baik dari luar atau dari dalam perusahaan. Perusahaan yang mengalami krisis dipenuhi dengan ketidakpastian, perubahaan dan banyaknya ancaman dari luar yang mengharuskan perusahaan untuk bertanggung jawab atas masalah yang ditimbulkannya. 

Sehingga perusahaan dituntut untuk mengambil keputusan yang tepat untuk menghasilkan solusi yang bersifat win-win solutionbaik bagi masyarakat secara luas maupun bagi perusahaan. 

Pada artikel ini kita akan membahas mengenai kasus perusahaan minyak Shell dan Exon yang mengalami krisis mengenai pembuangan tempat penyimpanan minyak bernama "Brent Spar" yang berada di Samudera Atlantik bagian utara pada tahun 1994. 

Pada saat itu perusahaan minyak Shell inigin menenggelamkan tempat penyimpanan minyak "Brent Spar" di dasar laut, yang sudah di mempertimbangkan dampak teknis, keamanan, dan lingkungan dari penenggelaman tersebut. Namun sebelum izin penenggelaman itu "Brent Spar" telah diambil alih oleh aktivis Greenpeace di Jerman. Setelah kejadian tersebut, krisis terus berkembang dan terus menerus menadapat tekanan dari media.

Kementrian Lingkungan dan Pertanian Jerman mengajukan protes kepada pemerintah Inggris dengan alasan bahwa pembuangan di darat belum diteliti secara signifikan. Oleh karena itu Greenpeace membuat sebuah petisi untuk menentang penenggelaman di dasar laut dan memboikot perusahaan Shell. Pemboikotan berhasil dilakukan di Jerman, Belanda dan Scandinavia.  

Greenpeace mengklaim bahwa ada sejumlah logam berat dan material racun organik yang tinggi di tangki minyak Brent Spar.

Dalam membahas kasus ini dengan menggunakan teori-teori dan ide dari komunikasi resiko untuk melihat bagaimana proses pembuangan penyimpanan minyak Brent Spar ini bisa menjadi isu internasional dan bagaimana Greenpeace sukses dalam mengkomunikasikan isu ini sedangkan perusahaan minyak Shell beserta pemerintah Inggris Raya gagal.

Sebenarnya apa yang membuat Shell kehilangan kredibilitasnya? Mengapa boikot terhadap pom bensin milik Shell berhasil dilakukan? Hal ini berkaitan dengan salahnya strategi komunikasi resiko yang dilakukan oleh Shell dan pemerintah Inggris Raya. Yang pertama, Sikap perusahaan Shell dalam mengambil keputusan bahwa pembuangan di dasar laut adalah pilihan yang tepat dan pemerintah Inggris Raya menyetujui keputusan tersebut. 

Kedua, Shell tidak memikirkan dampak lingkungan yang akan ditimbulkan karena memilih pilihan yang lebih praktis dan murah tetapi tidak melihat dampak yang akan ditimbulkan dan kehilangan kredibiltasnya atas keputusannya tersebut. Ketiga, Shell menjadi target boikot yang mudah, karena Shell hany memiliki pom bensin, tidak memiliki merk atau produk lain. 

Keempat, para politisi yang terlibat sangat tidak menyetujui dengan pembuangan limbah di dasar laut. Jerman, Denmark dan Swedia menjadi negara yang sangat menentang akan pembuangan limbah di dasar laut.

Berikut adalah faktor-faktor yang penyebab kegagalan Shell dalam mengkomunikasikan komunikasi resiko:

  • Shell dan Pemerintah Inggris Raya tidak membalas serangan Greenpeace dengan strategi komunikasi resiko yang baik
  • Informasi yang berbeda antara Shell di Inggris Raya dengan Shell di Jermana dan Belanda sehingga membingungkan publik dan mengurangi kredibilitas Shell
  • Greenpeace memanfaatkan media dengan optimal, memberikan info terkini terkait kasus ini dan menyatakan sikapnya. Sedangkan Shell dan pemerintah Inggris Raya tidak melakukan hal ini dan semakin mendapat tekanan dari publik internasional.
  • Dalam prinsip-prinsip komunikasi resiko, diharapkan untuk lebih menganal audiens nya guna merumuskan pesan-pesan komunikasi resiko. Audiens perlu di analisis untuk mengetahui motivasi dan pandangan mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun