Mohon tunggu...
Livia Halim
Livia Halim Mohon Tunggu... Surrealist

Surrealism Fiction | Nominator Kompasiana Awards 2016 Kategori Best in Fiction Bachelor of Law | Currently studying fine art in Curtin University, Perth, Australia Instagram: livilivilivilivilivi Personal blog: livilivilivilivilivi.blogspot.com | e-mail: surrealiv@gmail.com | LINE loonylivi | Buku-buku antologi: "Katakan Cinta" (https://goo.gl/tpi2Nd), "Ada Sepotong Bulan Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam" (https://goo.gl/toqMVF), "Tentang Laki-Laki, Gema, dan Early Grey" (https://goo.gl/DS789x)

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Perbandingan Plot Film "Parasite" dan "Joker"

26 Februari 2020   09:09 Diperbarui: 26 Februari 2020   23:42 1158 19 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perbandingan Plot Film "Parasite" dan "Joker"
times.hinet.net

Hai, Kompasianer!

Joker dan Parasite bisa dibilang adalah dua film layar lebar yang paling sukses mencuri perhatian publik dari berbagai kalangan dalam satu tahun terakhir ini. Opini mengenai film mana yang layak membawa pulang piala Oscar pun sempat cenderung terbagi menjadi dua kubu besar. 

Publik juga membanding-bandingkan kedua film ini dari berbagai sisi. Karenanya, saya (yang kebetulan penikmat DC, film thriller, dan film-film berplot dark) tertarik untuk membandingkan keduanya dari sisi plot. 

Dalam artikel ini, saya akan memberikan pandangan saya pribadi terkait unsur-unsur yang ada dalam plot dua film ini. Oh ya, akan ada spoiler bertebaran di sini. 

Selamat membaca!

1. Unreliable Narrator

Sebelumnya, saya pernah membahas mengenai unreliable narrator secara rinci, yang dapat dibaca di sini. Singkatnya, unreliable narrator atau pengisah lancung adalah sebuah konsep cerita di mana tokoh-tokohnya menggiring penonton untuk percaya pada suatu fakta (melalui monolog, dialog dan adegan-adegan dalam film), kemudian pada akhirnya terbongkar bahwa hal-hal yang dipercaya sebagai fakta tersebut sama sekali bukan fakta. Konsep unreliable narrator juga dapat ditemukan dalam film The Invisible Guest (2017) dan tentunya film legendaris Fight Club (1999).

Unreliable narrator memang bukan konsep besar yang utama dalam Film Joker, namun konsep ini ada dan berperan menambah kesan "sakit" dalam film yang disutradarai oleh Todd Phillips ini. Sudut pandang dalam film ini adalah sudut pandang orang pertama. Sehingga, penonton melihat segalanya melalui kacamata tokoh sentral, yaitu Joker (Joaquin Phoenix) sendiri. 

Berdasarkan analisis William Riggan, ada empat jenis unreliable narrator, di antaranya the picaro, the madman, the clown dan the naif (yang masing-masing maknanya dapat dibaca di sini). Untuk Film Joker sendiri, jenis unreliable narrator yang digunakan adalah the madman

Hal ini dikarenakan Joker memiliki penyakit mental yang membuatnya banyak berhalusinasi (seperti halusinasi flashback menjadi penonton Murray (Robert de Niro) di studio, dan kisah cinta bersama seorang perempuan yang tinggal satu gedung dengannya (Zazie Beetz). 

Semua halusinasi tersebut terlihat nyata (sebelum akhirnya terbongkar) karena penonton melihat semua kejadian tersebut dari kacamata si madman sendiri. Menjelang akhir film, penonton dikejutkan dengan fakta yang sebenarnya dan tersaji lah bagian alur twisty-nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x