Mohon tunggu...
Livia Halim
Livia Halim Mohon Tunggu... Surrealist

Surrealism Fiction | Nominator Kompasiana Awards 2016 Kategori Best in Fiction | Sarjana Hukum | sedang menempuh pendidikan S2 seni murni (Master of Arts - Fine Art) di Curtin University, Perth, Australia | e-mail: surrealiv@gmail.com | LINE: loonylivi | Personal Instagram: livilivilivilivilivi | Art Instagram: surrealiv

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Review Film-film Plot Twist Berlatar Near Future

5 Februari 2020   10:10 Diperbarui: 5 Februari 2020   20:50 496 6 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Review Film-film Plot Twist Berlatar Near Future
White Christmas | imdb.com

Hai, Kompasianer!

Kali ini saya akan me-review film-film plot twist yang berlatar near future. Near future sendiri adalah sebuah era waktu masa depan yang rentangnya tidak terlalu jauh dengan masa sekarang. Biasanya, pada era waktu ini, teknologi di dunia sudah  lebih berkembang, namun pemikiran maupun mental manusia masih sama seperti saat ini. 

Jika biasanya saya selalu me-review film-film panjang, kali ini saya akan me-review dua film panjang dan satu film pendek. Seperti kebanyakan film-film lain yang saya review di sini, film-film kali ini juga bernuansa gelap dan (terlepas dari sisi twisty-nya) juga memiliki keseluruhan plot yang unik. 

Jadi, jika Kompasianer sedang sibuk beraktivitas namun ingin menikmati film plot twist unik sekaligus berlatar near future saat ini juga, well, you can do it here!

Selamat membaca!

1. White Christmas (2014)

mv5bowq0mzu4njctzwi5ys00njnlltgwodmtyjzkmjzknwi0mtnixkeyxkfqcgdeqxvynje4ndu1njkat-v1-sy1000-cr0-0-708-1000-al-5e39bd79097f36358a48a8b2.jpg
mv5bowq0mzu4njctzwi5ys00njnlltgwodmtyjzkmjzknwi0mtnixkeyxkfqcgdeqxvynje4ndu1njkat-v1-sy1000-cr0-0-708-1000-al-5e39bd79097f36358a48a8b2.jpg

Plot

Dua orang pria (Jon Hamm dan Rafe Spall)  dalam sebuah kabin berbagi cerita mengenai hal-hal buruk yang mereka lakukan di masa lalu sehingga berakhir dalam tempat tersebut.

imdb,com
imdb,com
Review Film

Mungkin Kompasianer sudah tidak asing lagi dengan sebuah serial garapan Netflix berjudul Black Mirror. Selaras dengan judulnya, White Christmas adalah sebuah episode spesial Black Mirror yang dirilis pada musim natal tahun 2014.

Meski merupakan bagian dari Black Mirror, namun film yang disutradari oleh Carl Tibbetts ini adalah sebuah film utuh dengan durasi lebih dari satu jam. 

Sehingga apabila Kompasianer belum pernah menonton serial Black Mirror sebelumnya, Kompasianer tetap dapat menonton film ini dan memahami alurnya dengan sangat baik. 

Memang ada beberapa sangkut paut dengan episode-episode Black Mirror yang lain, seperti gadget yang digunakan, dan referensi terkait episode-episode tersebut, namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi keutuhan pengalaman menonton White Christmas sebagai satu film utuh.

Hal ini dikarenakan, penggunaan gadget dalam White Christmas dijelaskan ulang oleh tokohnya dengan sangat gamblang melalui dialog-dialog yang tersaji, dan referensi pada episode-episode lain juga sama sekali tidak mengganggu plot film ini.  

Ketika kedua tokoh utama sedang bertukar kisah di masa lalu, kita disuguhkan adegan-adegan flashback yang sangat menarik. Setiap kisah flashback seolah adalah sebuah film pendek sendiri, jadi bisa dibilang, penonton disuguhi tiga film pendek di dalam sebuah film panjang. 

Adegan-adegan flashback ini juga memberikan clue di sana-sini terkait dengan ending film ini. Biar begitu, film ini tidak menuntut penontonnya untuk berpikir keras, jadi Kompasianer bisa duduk manis saja dan menonton karena di akhir film, ketika mencapai bagian twist-nya, semuanya akan sangat jelas dan sangat bisa dimengerti.

2. What Happened to Monday (2017)

imdb.com
imdb.com

Plot

Karena dunia mengalami overpopulasi, semua keluarga diharuskan memiliki satu anak saja. Seorang kakek bernama Terrence Settman (Willem Dafoe) memberikan satu identitas -kepada tujuh cucu kembarnnya (yang diberi nama Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday dan Sunday)- sebagai Karen Settman (Noomi Rapace) agar mereka tetap dapat tinggal bersama. Suatu hari, Monday menghilang.


Review Film

Saya selalu tertarik dengan film-film beralur dark yang tokoh utamanya perempuan, dan What Happened to Monday adalah salah satunya. 

Film ini cukup relevan dengan zaman sekarang, di mana program pembatasan anak yang serupa dengan program yang dicanangkan dalam dunia What Happened to Monday (two-child policy) sudah berlaku di beberapa negara di dunia. Perilaku sang kakek dalam film yang disutradarai Tommy Wirkola ini yang melakukan manipulasi terhadap hukum yang berlaku demi mempertahankan ketujuh cucunya, juga sangat bisa dimengerti.

Hal yang sangat menarik dari film ini adalah penggabungan undang-undang yang berlaku (bahkan saat ini di kehidupan nyata) dengan teknologi masa depan yang sifatnya futuristik. 

Dalam film ini, tekhnologi masa depan digambarkan sebagai media krusial dalam menyokong hukum yang berlaku dalam suatu negara (bahkan dunia), agar dapat direalisasikan dengan sempurna. Konsep besar kombinasi kuat antara dua hal tersebut sama dengan yang disuguhkan Netflix dalam episode serial Black Mirror berjudul White Bear (2013), yang juga sangat recommended

What Happened to Monday, kita melihat bagaimana kombinasi antara dua hal besar yang mendunia itu mempengaruhi Keluarga Settman, suatu keluarga yang merupakan warga biasa, yang mungkin memiliki banyak kesamaan dengan keluarga kita. Di sini dapat dilihat bahwa ada perpaduan kontradiksi yang apik sekali (antara hal-hal besar nan futuristik yang mendunia dengan keluarga biasa). 

Menurut saya konsep tersebut sangat jenius, dan mungkin juga merupakan salah satu sebab mengapa kita dapat merasa sangat relevan dengan film ini, sekaligus terkagum dengan teknologi canggih yang belum kita temui di masa sekarang).

Film ini juga sangat mengagumkan dari sisi pemilihan aktor. Noomi Rapace memerankan Settman bersaudara, tujuh orang kembar dengan karakter yang sangat- sangat berlawanan satu sama lain, tanpa cela.

Film yang  bergenre drama mystery ini memiliki beberapa twist. Biar begitu, film ini sama sekali tidak memerlukan interpretasi mendalam. Alurnya sangat jelas dan endingnya pun tuntas (bukan open-ending).

3. Don't Feed The Freaks (Short Film) (2018)

Plot

Sebuah kota yang sempurna telah hancur, hanya ada satu orang manusia yang tersisa di sana, sisanya adalah sekumpulan makhluk menyeramkan yang disebut-sebut sebagai The Freaks.

Review Film

Seorang seniman dan filmmaker bernama David James Armsby memproduksi sebuah serial film pendek animasi yang ditayangkan di Kanal Youtube "Dead Sound", bertajuk Autodale. 

Meski merupakan salah satu episode dari serial tersebut, namun Don't Feed The Freaks tetaplah sebuah film pendek yang berdiri sendiri dengan plot yang kuat.

Autodale sendiri adalah sebuah kota futuristik yang lahir dari imajinasi Armsby. Penduduk kota ini adalah manusia, namun para penguasanya adalah robot.

Robot-robot ini membuat peraturan ketat untuk menjaga keseimbangan Autodale agar tetap menjadi kota yang ideal.

Menurut saya pribadi, Don't Feed The Freaks adalah film pendek terbaik dari seri Autodale karena memiliki visual tercantik, alur yang plot twist, dan ending yang bisa diinterpretasi secara beragam.

Jadi, selain cocok ditonton oleh Kompasianer pecinta film plot twist dan near future, film ini juga cocok ditonton oleh Kompasianer pecinta visual-visual indah yang bernuansa kelam. 

Meski merupakan film animasi, namun film sama sekali tidak kekanak-anakan. Menariknya lagi, karena durasinya yang hanya enam menit, Kompasianer bahkan bisa menyaksikannya sekarang di bawah ini. Selamat menonton!


-
Sekian review film-film plot twist berlatar near future. Jika Kompasianer memiliki rekomendasi film-film plot twist berlatar near future lainnya, silakan berbagi di kolom komentar. Semoga review ini bermanfaat. 

Terima kasih sudah membaca!

Review Film Lainnya

Artikel edukatif seputar fiksi dan Bahasa

Fiksi

Jamuan Melahap Matahari 
Rajani
-
Kontak
surrealiv@gmail.com
Instagram.com/livilivilivilivilivi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x