Livia Halim
Livia Halim pelajar/mahasiswa

Surrealism Fiction | Nominator Kompasiana Awards 2016 Kategori Best in Fiction | Faculty of Law, Parahyangan Catholic University | Personal blog: livilivilivilivilivi.blogspot.com | e-mail: surrealiv@gmail.com | LINE loonylivi | IG livilivilivilivilivi | Buku-buku antologi: "Katakan Cinta" (https://goo.gl/tpi2Nd), "Ada Sepotong Bulan Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam" (https://goo.gl/toqMVF), "Tentang Laki-Laki, Gema, dan Early Grey" (https://goo.gl/DS789x)

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Film-film Plot "Twist" ini Hanya Berlatar di Satu Lokasi!

28 Mei 2018   10:00 Diperbarui: 30 Mei 2018   12:12 4404 9 5
Film-film Plot "Twist" ini Hanya Berlatar di Satu Lokasi!
imdb.com

Hai Kompasianer!

Kali ini, saya akan me-review beberapa film yang sangat menarik. Film-film ini bukan hanya memiliki alur yang sulit ditebak dengan akhir yang mengejutkan (plot twist), melainkan juga hanya berlatar di satu tempat!

Meski hanya berlatar satu tempat, namun film-film ini sama sekali tidak membosankan, justru sebaliknya mampu membuat penonton takjub karena ada begitu banyak konflik, emosi, dan kisah yang tersaji hanya dalam satu ruangan. Pastinya, seperti review-review sebelumnya, film-film berikut ini mayoritas bergenre thiller, memiliki kekuatan di plot dan sangat recommended untuk ditonton.

Di sini saya akan memaparkan garis besar alur film (tentunya tanpa spoiler), memberikan opini pribadi saya, dan menyertakan trailer-trailer filmnya, sehingga dapat langsung Kompasianer tonton.

Selamat membaca!

1. Exam (2009)

imdb.com
imdb.com

Plot

Film ini mengisahkan delapan orang dewasa (Jimi Mistry, Luke Mably, Gemma Chan, Chuk Iwuji, John Lloyd Fillingham, Pollyanna McIntosh, Adar Beck, Nathalie Cox) yang berada di sebuah ruangan kelabu untuk mengikuti tahapan akhir dari seleksi untuk mendapatkan suatu pekerjaan.

Mereka semua masing-masing duduk di kursi yang sudah disediakan. Di meja mereka masing-masing, terdapat selembar kertas A4 dengan tulisan "Candidate 1" hingga "Candidate 8". Seorang pengawas seleksi (Colin Salmon) masuk dan menjelaskan kepada mereka mengenai peraturan-peraturan yang harus mereka taati selama mengikuti seleksi. 

Mereka dilarang untuk berbicara kepada pengawas dan penjaga ruangan (Chris Carey), dilarang untuk merusak lembar seleksi, dan dilarang keluar ruangan dengan alasan apa pun.

Ketika sang pengawas keluar (dan ruangan hanya dijaga oleh seorang penjaga seleksi), para kandidat mulai membalikkan lembar seleksi mereka untuk melihat pertanyaan apa yang tertera di balik kertas tersebut. Namun mereka terkejut, karena ternyata lembar seleksi mereka kosong. Seorang perempuan peserta seleksi mencoba menulis di lembar kosong itu, menjelaskan bahwa ia berhak untuk mendapatkan pekerjaan tersebut, namun tak lama kemudian, sang penjaga seleksi menghampirinya dan memaksanya keluar ruangan.

Tujuh kandidat yang tersisa melakukan segala cara untuk mencari pertanyaan yang perlu mereka jawab dari seleksi ini. Upaya-upaya yang mereka lakukan sangat beragam, mulai dari merusak seluruh lampu di ruangan untuk mendapatkan penerangan dari lampu darurat yang mereka percaya dapat mendeteksi pertanyaan tersembunyi di kertas-kertas kosong tersebut, hingga memaksa kandidat lain untuk merusak kertasnya sendiri agar didiskualifikasi dari seleksi.


Opini

Menurut saya film yang disutradarai oleh Stuart Hazeldine ini sama sekali tidak membosankan dari awal hingga akhir. Jika kebanyakan film-film plot twist memiliki satu tokoh sentral yang cerdas, maka dalam film ini ada delapan tokoh cerdas sekaligus. Setiap topik dialog yang diucapkan para tokoh sangat menarik. Ada banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari dialog-dialog antar tokoh.

Setiap tokoh seakan mewakili karakter-karakter umum yang ada di masyarakat, ada tokoh yang banyak bicara, yang terlalu gegabah, yang baik hati, yang menyimpan misteri dan lain-lain. Bukan hanya itu, semua tokoh juga merepresentasikan keberagaman yang ada di dunia karena terdiri dari tokoh berkulit putih, berkulit hitam, berkulit cokelat, berambut pirang, bermata sipit, dan berambut gelap.

Sepanjang film, penonton juga seolah diajak untuk ikut berunding bagaimana sebenarnya cara menemukan pertanyaan seleksi tersebut. Meskipun ada banyak perdebatan yang terjadi dalam film ini, namun di akhir film, ketika saya melihat ke belakang, sebenarnya film ini cukup manis. Ada nilai-nilai moral yang dapat diambil dari film yang berhasil mendapatkan penghargaan Independent Feature Award di Santa Barbara Film Fest dan memenangkan Bronze Hitchcock di Dinard British Film Festival ini. 

Meski menurut imdb.com film ini bergenre mystery thriller, namun menurut saya film ini tidak sebegitu thriller karena adegan kekerasan dalam film ini begitu minim dan tidak mengerikan. Sehingga film ini sangat cocok ditonton oleh Kompasianer yang kurang suka film yang mengerikan tetapi tetap ingin menonton film yang beralur kuat dan misterius.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otak saya sepanjang menonton film ini, terjawab ketika film mendekati akhir. Film ini diakhiri dengan pelintiran alur yang sangat apik dan mulus. Meski hanya berlatar di satu ruangan saja, namun plot film ini setara kuatnya dengan film-film plot twist yang latarnya lebih kompleks seperti Sound of My Voice (2012) dan Parallels (2015) yang review-nya dapat Kompasianer baca di sini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3