Livia Halim
Livia Halim pelajar/mahasiswa

Surrealism Fiction | Nominator Kompasiana Awards 2016 Kategori Best in Fiction | Faculty of Law, Parahyangan Catholic University | Personal blog: livilivilivilivilivi.blogspot.com | e-mail: surrealiv@gmail.com | LINE loonylivi | IG livilivilivilivilivi | Buku-buku antologi: "Katakan Cinta" (https://goo.gl/tpi2Nd), "Ada Sepotong Bulan Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam" (https://goo.gl/toqMVF), "Tentang Laki-Laki, Gema, dan Early Grey" (https://goo.gl/DS789x)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen ǀ Jamuan Melahap Matahari

11 Maret 2018   21:07 Diperbarui: 15 Maret 2018   01:17 1294 19 11
Cerpen ǀ Jamuan Melahap Matahari
Ilustrasi: artsy.net

-Kamala-

"Alka, adakah kudapan berjenis 'matahari'?" tanya saya, masih bingung dengan isi surat di tangan ini.

"Tidak, Kamala, hanya ada kue bulan. Mengapa?" Alka bertanya balik, matanya tidak lepas dari buku ilmu alam yang sedang dibacanya. Alka terlampau menyukai buku itu, ia membawanya kemana saja, bahkan ke rumah saya seperti saat ini.

"Saya baru saja dikirimi surat yang membingungkan dari manusia terkaya di dunia. Undangan ini dikirimkan ke seluruh dunia. Mungkin undangan serupa saat ini sedang menanti di kotak pos rumahmu."

"Apa isinya?" kali ini Alka menutup buku ilmu alamnya.

 "Undangan makan malam... Menu utama: Matahari."

"Apa?"

Lantas saya menyerahkan surat itu kepada Alka.

-Adhisti-

Saya menerima pesan dari Ervani, sahabat saya bahwa ada semakin banyak bunga matahari yang mati di bumi ini. Bunga matahari adalah jenis tumbuhan yang paling Ervani sukai. Dulu, saya dan Ervani menangisi kepergian bunga-bunga yang mati satu persatu, namun air mata kami telah lama surut. 

Percuma, air mata biar selaut pun tidak akan sanggup menyalakan kembali api kehidupan bunga-bunga itu. Saat ini, saya hanya memandangi Ervani sambil menghela napas, juga mengenang kembali hal  yang terjadi di bumi bertahun-tahun yang lalu.

-Kamala-

"Mengapa memandangi saja? Baca ini," keluh saya karena Alka terus memandangi saya dengan wajah bingung.

Lalu, Alka mengambil surat itu dan mulai membacanya dalam hati, cukup lama. Setelahnya, ia memicingkan mata. "Ini meresahkan. Apakah kita sungguh akan melahap Matahari?"

Saya mengangkat bahu, "Jika itu benar, walau seandainya kita memutuskan tidak hadir, manusia-manusia lain tetap akan melahap Matahari."

"Bagaimana mungkin?"

"Mungkin ini semacam metafora belaka, Alka. Mungkin mereka tidak benar-benar akan menjamu manusia dengan Matahari yang kita kenal selama ini."

"Bisa jadi. Melahap Matahari, rasanya ganjil membayangkan manusia bisa berpikir segila itu."

-Adhisti-

Ah, manusia. Entah mereka gila atau bodoh. Mungkin bodoh lebih tepat. Bertahun-tahun yang lalu, manusia-manusia bodoh memutuskan untuk melahap seluruh Matahari. Tunggu, apakah kamu saat ini sedang mendengarkan kisah ini dari masa lalu? Dapatkah kamu membubarkan pesta makan malam itu segera?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3