Livia Halim
Livia Halim pelajar/mahasiswa

Surrealism Fiction | Nominator Kompasiana Awards 2016 Kategori Best in Fiction | Faculty of Law, Parahyangan Catholic University | Personal blog: livilivilivilivilivi.blogspot.com | e-mail: surrealiv@gmail.com | LINE loonylivi | IG livilivilivilivilivi | Buku-buku antologi: "Katakan Cinta" (https://goo.gl/tpi2Nd), "Ada Sepotong Bulan Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam" (https://goo.gl/toqMVF), "Tentang Laki-Laki, Gema, dan Early Grey" (https://goo.gl/DS789x)

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight headline

Cerita-cerita Kecil dari Negeri Matahari Terbit

13 Agustus 2017   16:09 Diperbarui: 14 Agustus 2017   16:13 961 13 4
Cerita-cerita Kecil dari Negeri Matahari Terbit
Wisata ke Negeri Matahari Terbit| Ilustrasi: Kompas/Frans Sartono

Hai Kompasianer!

Dalam artikel kali ini, saya akan memberikan "oleh-oleh" berupa cerita-cerita kecil dari Jepang yang saya dapat ketika berkunjung ke sana saat liburan lalu. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki banyak obyek wisata sejarah, Jepang lebih dikenal dengan obyek-obyek wisata unik yang modern (seperti Harajuku Street, Tokyo Disneyland, restoran-restoran unik dan Universal Studio). 

source: japanesestation.com
source: japanesestation.com

Selain itu Jepang juga identik dengan anime, cosplay, dan Harajuku. Nah, tentu saja saya tidak akan membahas tempat-tempat dan hal-hal tersebut di sini, melainkan saya telah merangkum tempat-tempat serta  fakta-fakta menarik yangunderrated di Jepang. Saya akan membahas sebuah kota tua yang cantik, boneka tanpa wajah, perbedaan kuil Shinto dan Kuil Buddha, serta pakaian-pakaian adat dari Jepang.

Selamat membaca!

1. Takayama, Kota Tua di Tengah Negara Jepang yang Modern

Takayama Old Town | source: dok. pribadi
Takayama Old Town | source: dok. pribadi
Di negara Jepang yang begitu maju, rupanya ada sebuah kota tua yang cantik. Namanya Takayama, sebuah kota unik yang terletak di Perfektur Gifu. Berbeda dengan kota-kota besar nan modern di Jepang yang kita ketahui selama ini, Takayama dipenuhi dengan bangunan-bangunan tradisional dengan arsitektur yang ciamik khas zaman Edo.

Seluruh bangunan di kota ini dicat dengan warna-warna kusam, seperti cokelat kusam dan krem. Bahkan, jika seseorang hendak membangun toko di sana, ada ketentuan bahwa toko tersebut harus dicat dengan warna-warna yang kusam untuk memberikan kesan "jadul".

Selain toko-toko, bangunan-bangunan di sini juga merupakan restoran. Di kota ini, pengunjung dapat mencicipi makanan-makanan serta snack-snack khas Jepang. Ketika saya berkunjung ke sini, udara cukup dingin meski saat itu sedang musim panas.

2. Boneka Sarubobo yang Tidak Memiliki Wajah

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Pada zaman dahulu, anak-anak di Jepang suka bermain boneka bernama Sarubobo. Uniknya, boneka ini sengaja dibuat tidak memiliki wajah. Karenanya, anak-anak bisa menggambari wajah boneka kain ini sesuai dengan suasana hati mereka. Misalnya, ketika mereka sedang sedih, Sarubobo mereka akan digambari dengan wajah sedih.

Saya berkesempatan untuk membeli boneka ini di Takayama. Ada banyak sekali toko Sarubobo di sana!

3. Kuil Shinto dan Kuil Buddha, Apa Perbedaannya?

Seperti yang kita ketahui, mayoritas orang Jepang beragama Shinto. Mereka menyembah Dewa Matahari. Biar begitu, seringkali kuil Shinto ini berada satu lokasi dengan Kuil Buddha. Menurut keterangan yang saya dapat dari orang lokal (yang merupakan local guidesaya juga), orang Jepang beragama Shinto ketika mereka hidup dan beragama Buddha setelah mereka mati. Hmmm…

detail perbedaan arsitektur kuil Buddha (Asakusa) dan Kuil Shinto (Gunung Fuji) | source: dok. pribadi
detail perbedaan arsitektur kuil Buddha (Asakusa) dan Kuil Shinto (Gunung Fuji) | source: dok. pribadi

Sebelumnya perlu diketahui bahwa kuil Shinto biasanya disebut shrine dan kuil Buddha biasanya disebut temple.  Perbedaan di antara kedua jenis kuil ini terlihat mulai dari masing-masing gerbangnya. Pada gerbang kuil Shinto tidak terdapat atap (namanya tori), dan pada gerbang kuil Buddha terdapat atap. Selain itu, kuil Shinto didominasi warna abu-abu, sementara kuil Buddha didominasi warna merah (seperti layaknya kuil Buddha pada umumnya dan kuil-kuil Buddha di China).

Saya berkesempatan mengunjungi Kuil Shinto dan Kuil Buddha di Asakusa, Tokyo, yaitu Sensoji Temple (Asakusa Kannon Temple) dan Asakusa Shrine. Selain itu juga kuil Shinto di Gunung Fuji dan Kuil Buddha Kiyomizu-dera di Kyoto.

Kuil-kuil di Asakusa merupakan kuil-kuil paling terkenal di Jepang. Menurut saya, seperti layaknya kuil-kuil pada umumnya, arsitektur kuil-kuil Asakusa ini cantik sekali.

Selain berdoa, di lokasi kuil-kuil ini juga terdapat distrik perbelanjaan bernama Nakamise Street, sepanjang 200 meter, yang menjual berbagai barang dan makanan khas Jepang. Menurut saya, Nakamise Street ini “Jepang banget”. Hehe.

4. Kimono, Yukata, dan Jin Bei

Pada poin ini, saya akan membahas perbedaan tiga jenis pakaian adat wanita yang lazim di Jepang. Di tempat-tempat umum di Jepang, seringkali ada penyewaan pakaian adat. Bahkan, di beberapa hotel, pakaian adat ini boleh dipakai secara gratis oleh pengunjung dan disediakan di setiap kamar.

Kimono dan Yukata memiliki model yang cukup mirip, berbentuk seperti jubah panjang, dengan pita di pinggang. Namun, yukata lebih tipis dan dipakai pada musim panas. Sementara kimono sangat tebal dan dipakai di musim dingin. Nah, peletakan jubah ketika memakainya pun ada aturannya. Orang-orang yang masih hidup meletakkan bagian kanan jubah di atas, sementara pada orang-orang yang sudah mati dipakaikan sebaliknya, yaitu bagian kiri jubah lah yang diletakkan di atas.

Yukata | source: dok. pribadi
Yukata | source: dok. pribadi

Sementara itu, jin bei juga berbentuk jubah dan dipitakan di pinggang, namun jin bei terdiri dari dua bagian, yaitu atasan d inan bawahan. Bawahan jin bei adalah celana.

Jin Bei | source: dok. pribadi
Jin Bei | source: dok. pribadi

Saya berkesempatan mencoba yukata dan jin bei. Menurut saya, kedua pakaian adat ini sangat nyaman dipakai dan memang cocok untuk musim panas, karena meski menutupi tubuh dari pundak hingga mata kaki, namun berbahan tipis. Selain itu, memakainya pun mudah dan tidak memakan banyak waktu.

Itu tadi cerita-cerita kecil yang saya bawa dari Jepang. Meski singkat, semoga dapat menjadi bacaan yang menarik dan tambahan pengetahuan bagi Kompasianer serta menjadi rekomendasi kunjungan wisata Kompasianer yang selanjutnya!

Thanks for reading!