Mohon tunggu...
Litazkiyyah
Litazkiyyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi

Sains dan Teknologi Universitas Airlangga

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Filosofi Hidup Biasa Aja

3 Juni 2022   21:45 Diperbarui: 3 Juni 2022   21:57 815
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Untuk semua orang yang membaca artikel ini, aku yakin kemungkinan besar kalian sudah merasakan banyak tuntutan di hidup kalian. Apalagi di zaman sekarang, lulus kuliah harus tepat waktu atau bahkan lebih cepat, kuliah harus di universitas ternama, cepat dapat kerja setelah kuliah dengan gaji yang besar atau diterima kerja di perusahaan berkelas, menikah di usia muda, membeli rumah, membeli mobil, melakukan investasi untuk mendapatkan passive income, dan masih banyak lagi. Belum lagi, kita melirik teman atau orang-orang kaya, misalnya Maudy Ayunda dan Nadiem Makarim, yang berhasil mencapai itu semua dengan sangat perfect. Mulailah kita merasa stres, overthinking, dan jadi susah untuk bahagia. Apa nggak bisa ya hidup biasa-biasa aja dan tetap bahagia gitu?

Nah, artikel kali ini akan membahas tentang cara hidup biasa aja. Ini adalah filosofi yang dibahas oleh Alain de Botton. Dia dikenal sebagai filsuf modern dan pendiri institusi pendidikan school of life. Dia adalah penulis 12 buku best seller juga pengisi berbagai macam acara di TED Talks. Kontras dari pencapaiannya yang keren banget, sebenarnya Alain justru banyak membahas tuntas seputar bagaimana mencapai kebahagiaan meskipun kita hidup biasa aja atau istilahnya ordinary life. Menurut Alain, hidup bahagia di zaman sekarang itu susah. Alain de Botton menentukan bahwa ada 3 masalah besar yang terjadi di zaman sekarang, antara lain:

  • Snobbery

Alain de Botton berkata bahwa salah satu masalah yang terjadi di masyarakat saat ini adalah kecongkakan. Hal ini berkaitan dengan dunia modern yang semakin materialistik. Jadi, sejujurnya kata “snobbery” ini susah untuk didefinisikan dalam Bahasa Indonesia karena membicarakan sebuah kebiasaan. Contohnya, kita bertemu orang-orang baru di suatu acara mungkin pertanyaan paling umum diberikan adalah “Apa pekerjaanmu saat ini? Kamu sibuk ngapain?”. Menurut Alain, pertanyaan ini merupakan salah satu bentuk sifat congkak di dunia modern. Sebenarnya, hal tersebut sudah ada sejak dahulu. Namun, dulu orang melihatnya dari power keluarga atau keturunan. Kalian pasti pernah melihat atau merasakan langsung kalau orang yang pekerjaannya bagus berhak mendapat perhatian dari orang sekitar. Sebaliknya, jika seseorang mendapat pekerjaan biasa saja justru ditinggalkan. Hal yang sama dari dahulu hingga sekarang masih ada ialah kita sebagai manusia memang mempunyai semacam kebutuhan mendalam untuk hal ini karena kita memang ingin memiliki status sosial yang lebih tinggi. Maka dari itu, banyak orang yang memamerkan status, pekerjaan, dan harta benda karena mereka butuh pengakuan atas status sosialnya menurut Alain de Botton. Menariknya, tidak jarang harta benda dan status ini membuat kita semakin jauh dari makna hidup yang sebenarnya.

  • Kebanyakan dari kita kurang rasa kasih sayang

Menurut Alain, banyak dari kita yang kekurangan sosok yang bisa menerima kita apa adanya. Contohnya, bagaimana cara seorang ibu yang ideal memperlakukan anak-anaknya atau bahkan terkadang ibu kita suka membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Karena kurangnya rasa sayang itu, kita akhirnya mencoba untuk membuat orang berpendapat dan memberikan rasa kagum pada mereka. Hal tersebut yang sering membuat kita membanding-bandingkan diri kita sama teman kita yang dirasa lebih sukses dan akhirnya merasa diri pribadi tidak berguna. Setiap kali kita mendapat penghargaan, kita biasanya semudah itu untuk langsung upload posting-an ke media sosial agar kita merasa berharga dan diterima oleh orang lain. Menariknya, orang yang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mencari kekayaan, pamor, dan status untuk membuat orang lain kagum itu terjadi karena tidak nyaman dengan diri sendiri. Dampaknya yaitu memungkinkan seseorang mengalami depresi dan kesepian yang lebih tinggi.

  • Meritokrasi

Meritokrasi adalah sistem yang mendefinisikan kesempatan seseorang untuk sukses dan jadi pemimpin karena kemampuan yang dia miliki. Sistem ini yang mendasari sistem lain seperti kapitalisme. Semakin kita bekerja keras semakin kita mendapat value dan mendapat reward yang tinggi. Sekarang ini, tanpa sadar, sistem yang kita anut adalah sistem meritokrasi. Sistem ini bagus untuk memberikan gambaran bahwa jika kita ingin sukses maka kita harus bekerja dengan baik. Smart work, hard work. Kita mungkin sering mendengar cerita tentang Jeff Bezos, Elon Musk, dan Steve Jobs yang bermula dari tempat kerja yang kecil hingga akhirnya memiliki kekayaan melimpah. Hal ini terjadi karena mereka berhak untuk sukses atas kerja keras yang telah dilakukan. Di sisi lain, sistem meritokrasi juga memberikan implikasi ketika orang itu gagal atau ada di posisi bawah, dia memang berhak gagal dan berhak berada di posisi bawah. Jika usaha kita tidak sukses sebab kesalahan kita sendiri. Jika kita gagal maka kita berhak mendapatkan itu. Ini yang menyebabkan kegagalan menjadi sangat menyeramkan. Padahal, sebenarnya kegagalan terjadi karena banyak faktor lain yang mempengaruhi kinerja kita. Seringkali kita mendapat judgement dari orang lain ketika kita gagal.

Nah, ketiga masalah ini yang membuat orang-orang mengejar kesuksesan, materialistik, dan lain sebagainya yang seringkali tanpa benar-benar memikirkan makna dia melakukan semua ini. Terus, gimana hidup biasa aja?

Akhirnya, kita harus menyadari fakta bahwa mungkin cuma 1% orang di dunia ini yang benar-benar merasakan sukses seperti Jeff Bezos dan 99% dari populasi akan menjalani hidup yang biasa-biasa aja atau hidup ordinary life. Jika kalian sadar bahwa sebenarnya saat ini adalah masa dimana hidup biasa aja itu nyaman banget dibandingkan masa-masa sebelumnya. Misalnya, kita dapat mengakses segala informasi melalui internet, kita bisa membeli obat ketika sakit, dan lain-lain. Namun, entah kenapa, banyaknya hal yang diberikan kepada kita justru kita merasa banyak hal yang tidak cukup untuk diri kita. Padahal, menurut Alain de Botton, menjalankan hidup biasa aja itu sebenarnya juga luar biasa yang terkadang kita tidak sadari.

Coba kita lihat hidup orang-orang zaman dahulu yang hidup biasa aja dengan bekerja di perusahaan selama 60 tahun, menikah, dan mempunyai anak. Apakah salah menjalani hidup seperti itu? Well, kalau menurutku nggak salah dan bukan berarti jika kita mempunyai ambisi itu jadi jelek. Kalau kalian ingin memiliki hidup extraordinary, it’s good. Misalnya, kita mengincar universitas terbaik, berusaha mencari passion, berusaha mempunyai uang banyak, dan sebagainya. Namun, jangan lupa untuk tujuan kita melakukan semua hal itu. Kalau hal tersebut sampai merugikan diri, jangan-jangan memang harus secukupnya aja atau mungkin ini bukan hal yang kita mau. Pada akhirnya, menurutku, hidup bermakna itu bukan hanya datang dari uang, barang, fashion style, pekerjaan, dan lain-lain, tetapi muncul dari berbagai macam hal yang tidak bisa dibayar dengan materialistik atau kesuksesan, contohnya membangun relationship, mengapresiasi hal-hal kecil di sekitar kita, atau kebebasan melakukan apapun tanpa takut untuk di-judge orang lain. Meskipun 99% orang menjalani hidup biasa-biasa aja, menurutku nggak ada salahnya untuk merendahkan ekspektasi diri dan happy menjalani hidup yang biasa aja. Ya, menurutku itu salah satu cara untuk bisa menjalani hidup seutuhnya.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun