Sulistyo
Sulistyo Buruh Dagang

Buruh Dagang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mudik Lebaran, Mengingat Sejarah dan Hindari Kesan "Pamer"

13 Juni 2018   17:33 Diperbarui: 13 Juni 2018   17:40 370 11 6

Tradisi mudik atau sebutan populernya sebagai "pulang kampung" setiap menjelang atau saat lebaran tiba sudah menjadikan agenda rutin sebagain besar masyarakat kita. Mudik pada umumnya dilakukan mereka yang merantau atau bekerja di kota-kota untuk kembali menemui sanak keluarga, kerabat, leluhur, di mana dulu mereka diasuh dan dibesarkan.

Biasanya para pemudik "pulang kampung" ada yang menggunakan kendaraan pribadi, mobil atau bisa pula menggunakan moda transportasi publik seperti bus umum, kereta api, kapal laut, juga ada yang menggunakan transportasi udara, atau sarana lainnya.

Sudah tentu ketika mudik jarak jauh, tidak lepas dari barang-barang bawaan yang jumlahnya relatif banyak. Maklum liburan panjang sarana akomodasi dan asesoris serta kebutuhan penunjang lainnya akan melengkapi untuk kenyamanan berlama-lama di kampung halaman.

Banyak nilai yang bisa dipetik atas berlangsungnya acara mudik yang sangat menarik diamati dan dipahami, antara lain terjalinnya komunikasi (secara tatap muka) sekaligus sebagai ajang silaturahmi, saling berbagi serta maaf-memaafkan pada saat lebaran tiba.

Bertemunya kembali sanak saudara di saat-saat lebaran, bersalam-salaman disertai rasa kangen antar kerabat, atau dalam lingkup "silsilah keluarga" ini sungguh membawa kesan. Terutama bagi mereka yang sudah lama nian tidak mudik ke kampung halaman pastinya akan membangkitkan nostalgia maupun haru tersendiri.

Mudik lebaran bersama keluarga dalam waktu yang relatif panjang memang akan selalu mengasyikkan. Banyak cerita lama yang bisa diungkapkan, bisa mengingat sejarah masa lalu yang telah menjadikan kehidupan kita saat ini. Kita akan mengenang para leluhur, orang tua yang dulu membesarkan dengan kasih sayang, kesahajaan, disertai do'a dan harapan demi masa depan anak-anaknya.

Bila kita kembali mengingat sejarah masa lalu yang penuh suka duka, kegigihan, ketekunan, sabar, kesederhanaan perjuangan para orang tua di kampung yang kini sudah menjadi kakek- nenek, opa-oma, dengan cucu-cucu dan menantunya telah membuat suasana bahagia berkumpul keluarga besar dalam ikatan lahir dan batin yang sangat kental.

Bersamaan acara "pulang kampung" pastinya selalu mengingatkan kita tentang sejarah keluarga masa lalu, melihat kondisi indahnya alam pedesaan, bertemu handai taulan yang lama kita tinggalkan untuk merantau ke kota mencari nafkah demi meraih sukses.

Disamping berbagi dengan sanak saudara, ada kalanya momentum ini menjadikan saat yang tepat bagi para pemudik untuk ikut ambil bagian peduli terhadap situasi dan kondisi kampung atau pedesaan yang dulu telah ikut membesarkannya. Menyumbangkan sebagian dari rezeki yang diperoleh dari hasil kerja di rantau barangkali akan memberikan andil bagi pembangunan desanya.

Langkah demikian tentunya merupakan pilihan bijak, banyak memberi manfaat dan lebih menggugah "rasa memiliki" (sense of belonging) terhadap lingkungan kampungnya. Hal ini juga menunjukkan sikap empati daripada mudik hanya sebagai ajang "pamer" barang-barang mewah yang dibawa dari kota. Semua itu pantas untuk dihindari.