Mohon tunggu...
Listian Nova
Listian Nova Mohon Tunggu... Guru - Tukang menghayal dan pemikir ngalor ngidul.

Listian Nova. Penombak bebas (freelancer) yang suka bertualang di berbagai dimensi kata, baik fiksi, opini, sastra, maupun ceracau ngawur.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Ilmu, Peradaban, dan Guru Swasta

30 Agustus 2022   12:17 Diperbarui: 30 Agustus 2022   12:54 290
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Sebagai anak, hormatilah kedua orang tua kita. Merekalah yang mendorong kalian melawan kerasnya dunia, sekaligus tempat kalian pulang saat terluka dan lelah. Ibu telah bertaruh nyawa untuk melahirkan kita. Ayah telah berpeluh bersusahpayah, bahkan berdarah-darah untuk menafkahi keluarga. Dengarkanlah nasihat mereka, patuhilah mereka selama itu tidak keluar dari kebaikan.

Sebagai murid, hormatilah guru-guru kalian. Mereka mungkin belum bisa menjadi pendidik terbaik versi kalian, tapi mereka pasti akan melakukan yang terbaik agar kalian menjadi bisa. Hormatilah mereka, sebab berkah sebuah ilmu jauh lebih utama dari ilmu itu sendiri.

Untuk para orang tua

Sebagai orang tua bagi anak, didiklah anak-anak kita dengan kasih dan sayang. Lihatlah anak-anak sebagai diri mereka, bukan sebagai karakter fiksi serba bisa yang kita bayangkan dalam kepala. Orang tua kepada anaknya juga merupakan seorang guru, maka teruslah belajar dan bersabar. Apalagi sesungguhnya tanggung jawab pendidikan anak itu berada di tangan orang tua, dan pada orang tua jugalah pertanggungjawaban itu akan diminta di akhirat kelak

Sebagai orang tua yang menitipkan anaknya ke sekolah, hormatilah para gurunya. Orang tua menjadi jalan lahirnya anak ke dunia, sementara jalannya ke surga seringkali ditunjukkan oleh para gurunya. Bersikaplah lemah lembut kepada guru, sebab sekali lagi, keberkahan ilmu terletak pada adabnya. Sebagaimana kisah Syaikh Abdul Qadir:

Saat itu Syaikh Abdul Qadir dan murid-muridnya sedang makan bersama. Sesuai adab yang berlaku di madarasah itu, maka Syaikh menyelesaikan makanannya terlebih dahulu, kemudian murid-muridnya mulai makan. Saat itu, Syaikh Abdul Qadir telah menyelesaikan makannya dan menyisihkan sebagian daging ayam untuk disantap murid-muridnya.

Salah satu orang tua kemudian melihat hal itu dan berprasangka buruk bahwa murid-murid di madrasaha Syaikh Abdul Qadir diperlakukan layaknya kucing. Prasangka buruk itu dilisankan, dan sampailah pada orang tua, seorang bapak, yang memiliki pengaruh dan kuasa. Sang bapak kemudian menemui Syaikh Abdul Qadir dan berkata: “Saya menitipkan anak untuk belajar ilmu dan adab, tapi kenapa justru diperlakukan seperti kucing?”

Sang Syaikh menjawab singkat: “Maka ambillah anakmu.” Dan dibawalah sang anak oleh sang bapak.

Selama perjalanan, ditanya-tanyalah sang anak oleh bapaknya. Dan ternyata kejadiannya bukanlah seperti yang diceritakan. Bahkan, sang anak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sang bapak tentang syariah dan fiqh dengan amat baik. Maka tersadarlah sang bapak, dan dibawanya anak itu kepada Syaik Abdul Qadir, berharap sang syaikh menerima anaknya kembali.

Sang Syaikh menjawab; “Bukannya aku tidak mau menerima anak itu kembali, tetapi Allah telah menutup futuh (keterbukaan hati) anak itu sebab perlakuan bapaknya yang tiada beradab kepada guru.”

Maka para orang tua, jadikanlah para guru sebagai sahabat, sebagai partner dalam mendidika anak-anak kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun