Mohon tunggu...
Listhia H. Rahman
Listhia H. Rahman Mohon Tunggu... Ahli Gizi yang sedang Melanjutkan Studi

❤ Student at Postgraduate Program of Public Health (Nutrition), Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada ❤ Bachelor of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Diponegoro University ❤ "Kalau tidak membaca, bisa menulis apa" ❤ listhiahr@gmail.com❤

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Hari Gini Nggak Bisa Nulis, Siap Rugi Jutaan Rupiah!

10 Juni 2019   21:32 Diperbarui: 11 Juni 2019   10:02 0 32 17 Mohon Tunggu...
Hari Gini Nggak Bisa Nulis, Siap Rugi Jutaan Rupiah!
Sumber ilustrasi | unsplash.com/@christinhumephoto

Jangan-jangan hoaks nih!

Biasakan baca dulu sampai selesai, dong.

Ternyata ada banyak artian dari menulis. Seperti dalam KBBI, salah satu pengertian menulis adalah membuat huruf, angka dan sebagainya dengan menggunakan pena (pensil, kapur dan sebagainya). Ya, soal menulis dalam artian ini biasanya telah diajarkan sejak dini. Menjadi sebuah kemampuan dasar yang harus kita miliki ketika bersekolah sampai hari ini.

Namun konteks menulis yang dimaksud disini bukan cuma artian itu semata. Barangkali setingkat lebih tinggi, yaitu menulis sebagai upaya melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang,membuat surat) dengan tulisan. Sebuah pengertian menulis lain yang juga dimaksud dalam KBBI.

Ya, soal pengertian menulis yang kedua nampaknya tidak semua lalu jadi melakukan. Bukan tidak bisa, melainkan belum mencoba atau malah sudah ada niatan tetapi terlalu takut untuk mempraktikannya. Jadi menunda lalu lupa saja, menjadi angan-angan semata? Tidak ingin memaksakan, hanya ingin memberi tahu saja bahwa dengan tidak menulis sama saja kamu membuang jutaan rupiah, lho.

Menulis untuk Mengumpulkan Pundi-pundi Rupiah, Memang Bisa?
Kalau dihubungkan dengan uang, siapa sih yang tidak tergoda?. Faktanya hari ini (dan dulu) cara mendapatkan uang ternyata bisa dari menulis. Dari huruf yang dirangkai jadi kata-kata, kalimat lalu menjelma jadi beberapa paragraf itu. Enak banget gak tuh? Cuma dari kata-kata ternyata bisa menghasilkan rupiah yang lumayan, bisa buat belanja dan macam-macam.

Pun sepertinya pandangan itu yang kemudian melekat pada saya di mata orang-orang dekat maupun yang tidak kenal amat. Yang sering menyangka rezeki saya dari menulis punya nilai yang fantastis bombastis. Halah, aminkan saja sih, ya. HAHA. Adanya pandangan inilah yang kemudian membuat jadi makin tertarik untuk mengikuti, jadi ingin menulis. Agar bisa merasakan rupiahnya juga?

Sedikit curhat saja. Orang-orang sering kali hanya melihat kesuksesan seseorang tanpa tahu bagaimana ia pernah berkali-kali gagal, jatuh bangun. Begitu juga yang saya alami. Tidak semua yang saya tulis berujung manis.

Diawal kali saya mengikuti sebuah lomba, saya juga pernah mengalami pengalaman yang cukup melekat dipikiran sampai sekarang. Dimana saya pernah ditipu, bukan hanya saya saja sih tetapi seluruh peserta yang mengikuti lomba tersebut. Memang kami tidak rugi banyak secara materi. 

Namun, usaha kita untuk menulis ternyata tidak pernah jelas juntrungannya, jadi cukup membuat kecewa. Hadiah yang ditawarkan pihak penyelenggara waktu itu adalah perjalanan ke pulau Dewata, dengan biaya akomodasi ditanggung oleh pihak tersebut. Intinya gratis! Eh, pada akhirnya, si pihak itu malah hilang bak di telan bumi. Tanpa kabar, media sosialnya pun tiba-tiba raib. Ajaib.

Bayangkan saja, disaat-saat awal saya mencoba untuk menulis berhadiah ternyata sudah mendapat pengalaman tidak mengenakan. Untunglah, kejadian itu tidak lalu membuat saya berhenti mencoba.

Apalagi saya juga sudah niati bahwa tujuan saya bukan semata mengejar hadiahnya tetapi lebih ke pengalaman. Hadiah yang terima soal bonus saja. Pengalaman pahit itu seperti jadi pelajaran untuk lebih berhati-hati juga peringatan deh. Jadi harus lebih kritis kalau ada info soal lomba, jangan langsung ditelan habis-habis langsung percaya begitu saja.

Coba lalu gagal, coba lalu gagal lagi. Itu bukan cerita baru. Anggap saja bbukan kegagalan tetapi memang belum waktunya saja. Dan, ya... tidak semua berakhir gagal, akhirnya ada juga yang nyangkut menjadi juara. Mau tahu berapa hadiah yang kali pertama saya dapat dari menulis? Dua ratus lima puluh ribu rupiah di tahun 2015. Senang sekali waktu itu, setelah mendapat transferan lalu saya habiskan ke toko buku.

Setelahnya itu jangan kira saya lalu jadi juara bertahan di tiap lomba. Menjadi kalah juga tidak kaget, kalau menang ya Alhamdulilah.

Salah Gak Nulis karena Ada Uangnya Aja?
Tidak salah sih. Kalau uang serta hadiah-hadiah yang ada lalu membuatmu bergairah untuk menulis, ya sah saja. Daripada tidak tertarik sama sekali, malah aneh. Apalagi hadiah menulis hari ini bukan puluhan ribuan, tetapi rata-rata jutaan. Sepanjang pantauan saya di Kompasiana saja misalnya. Baru-baru ini kompasiana sempat mengadakan event menulis dengan total hadiah 60 juta. Bukan kaleng-kalengkan.

Hanya mengingatkan, seperti yang sudah saya ceritakan diawal. Jika kamu memutuskan untuk menulis karena ingin mendapat hadiah, jangan ngambek kalau kalah. Apalagi kalau kamu baru debut, belum banyak pengalamannya. Wajar. Menulis itu tidak ujug-ujug langsung bagus. Butuh proses. 

Jadi kalau belum mendapatkan yang apa kamu inginkan, jangan sambat. Jangan buru-buru berhenti. Coba terus, coba sampai kamu biasa saja menghadapi kekalahan. Belum dapat sekarang, ya coba saja lagi dengan tulisan yang lebih baik lagi. Pelajari kenapa bisa tulisan itu menang. Jangan coba lagi tapi tidak ada peningkatan. Pokoknya gitu terus

Seperti yang sudah pernah saya bilang, kalah itu bukan kegagalan kok. Gagal itu ketika kamu berhenti untuk tidak mencobanya lagi.

Namun memang alangkah baiknya menulislah tidak hanya karena ada rupiahnya. Menulislah karena kamu ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat, kebaikan. Niscaya kamu juga akan bahagia ketika melakukannya kok. Sama-sama berharganya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2