Mohon tunggu...
Listhia H. Rahman
Listhia H. Rahman Mohon Tunggu... Ahli Gizi yang sedang Melanjutkan Studi

❤ Student at Postgraduate Program of Public Health (Nutrition), Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada ❤ Bachelor of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Diponegoro University ❤ "Kalau tidak membaca, bisa menulis apa" ❤ listhiahr@gmail.com❤

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Ghrelin "Aku Lapar" dan Leptin "Sudah Kenyang!"

15 Januari 2016   12:18 Diperbarui: 15 Januari 2016   18:44 3472 9 4 Mohon Tunggu...

[caption caption="http://www.shemazing.net/"]

[/caption]Kira-kira apa sih yang menyebabkan kita bisa merasakan lapar ketika belum makan dan bisa merasa kenyang setelah perut terisi?

Yap, ternyata tubuh kita memiliki mekanisme pengatur nafsu makan untuk menjaga homeostasis energi. Dimana jika tubuh mendeteksi adanya kekurangan energi, sinyal lapar akan dikirimkan ke otak. Begitupun sebaliknya, jika tubuh mendeteksi sudah cukup, sinyal kenyang memainkan perannya. Bagian otak yang menerima sinyal ini adalah hipotalamus, pengatur penting dalam syaraf tubuh manusia.

Adalah ghrelin dan leptin. Dua hormon yang memiliki peran penting dalam regulasi asupan makan dan berat badan. Aktivasi dari leptin dan ghrelin akan memberikan sinyal yang berbeda dalam mengubah perubahan asupan makan. Ibarat dua sisi, hormon-hormon tersebut memiliki fungsi umpan balik.

Ghrelin, “Aku lapar, aku lapar..”
Hormon ini dihasilkan oleh lambung, tetapi bisa juga ditemukan di saluran pencernaan, pankreas, ovarium dan korteks adrenal. Kadar hormon ghrelin akan meningkat sebelum lapar dan kemudian akan menurun setelah makan. Ghrelin berperan dalam meningkatkan asupan makanan dan mengurangi pengeluaran energi dengan menurunkan katabolisme (pemecahan) lemak. Saat tubuh kekurangan energi, si ghrelin-lah yang memberi sinyal lapar kepada hipotalamusmu.

Faktor utama yang terlibat dalam regulasi ghrelin adalah makan. Terbukti bahwa konsentrasi ghrelin meningkat selama puasa dan menurun setelah mengasup makanan. Penelitian yang dilakukan oleh Kojima dan Kangawa tentang pengaruh glukosa terhadap sekresi ghrelin menemukan fakta bahwa ghrelin memberikan sinyal ketika tubuh menyimpan energi yang rendah. Ohya, pelepasan ghrelin ini juga dipengaruhi berbagai macam faktor. Seperti makin bertambahnya usia, kadar ghrelin cenderung menurun.

Jika tidak segera makan, biasanya perut juga akan memberikan alarm bunyi yang familiar kita sebut sebagai perut keroncongan. Untuk lebih lanjutnya akan diulas pada tulisan berikutnya.

Leptin , “Sudah kenyang!”
Leptin adalah hormon yang utamanya diproduksi oleh jaringan lemak (adiposa). Dalam jumlah kecil, leptin juga diproduksi di jaringan tubuh manusia yang lain seperti perut, mammary epithelium, plasenta dan  jantung. Fungsi leptin adalah sebagai mekanisme umpan balik  sinyal untuk menghambat asupan makan dan mengatur berat badan dan juga homeostasis energi. Selain itu, leptin juga memiliki pengaruh pada berbagai mekanisme biologis lain di antaranya adalah reproduksi, respon imun dan inflamasi, haematopoiesis (pembentukan sel darah merah), angiogenesis (pembentukan pembuluh darah), pembentukan tulang dan penyembuhan luka.

Setelah dilepas oleh jaringan adiposa, sinyal leptin akan menuju ke otak untuk memberikan informasi tentang status simpanan energi tubuh. Pada tikus dan manusia, diperoleh hasil adanya penurunan asupan makan dan peningkatan energi ekspenditur untuk mempertahankan ukuran dari simpanan lemak tubuh. Kadar leptin lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan pria. Sekresi leptin juga distimulasi oleh insulin– hormon yang dilepas ke dalam aliran darah sesaat setelah mengasup makanan.

Kadar leptin dalam darah dapat menggambarkan jumlah simpanan lemak trigliserida di jaringan lemak. Makin banyak cadangan lemak, maka makin banyak juga leptin yang dilepaskan dalam darah. Oleh sebab itu, tidak heran jika pada orang obesitas akan ditemukan kadar leptin yang meningkat. 

Kabar tak baiknya, leptin yang meningkat bukan berarti kita akan mudah kenyang. Karena sebaliknya, leptin yang diproduksi dalam jumlah yang berlebihan justru akan membuat tubuh terutama otak menjadi tidak peka. Adalah resistensi leptin, yang sering terjadi pada orang dengan obesitas. Di mana dalam kondisi ini, tubuh tidak lagi peka dan mengenali leptin yang beredar sehingga tidak tahu lagi kapan harus berhenti makan. Otak akan mengganggapnya sebagai kondisi kelaparan, dan menyuruh terus makan. Kondisi inilah yang  makin memperparah orang dengan obesitas.

***

Nah, sekarang sudah tahu kan? Tubuh manusia sudah didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan energinya dengan tepat oleh pengaturnya –baca:hormon- .  Jadi, bukanlah mimpi jika tubuh manusia dapat memiliki berat badan yang normal selama bertahun-tahun. Kuncinya tentu jika kebutuhan energinya dipenuhi secara seimbang. Sehingga hormon-hormon dalam tubuh pun melakukan fungsi seharusnya.

Sekarang, kira-kira hormon ghrelin atau leptin yang sedang mengetuk pintu hipotalamusmu?

 

Salam sehat,

Listhia H Rahman

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x