Mohon tunggu...
Lis Liseh
Lis Liseh Mohon Tunggu... Apoteker/Pengajar

Apoteker dan Pengajar di Pesantren Nurul Qarnain Jember | Tertarik dengan isu kesehatan, pendidikan dan filsafat | PMII | Fatayat NU. https://www.facebook.com/lis.liseh https://www.instagram.com/lisliseh

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pendidikan Multi Aksara

16 September 2019   15:22 Diperbarui: 16 September 2019   15:30 132 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pendidikan Multi Aksara
Seorang lansia belajar menulis | Dokpri

Perjuangan berat membebaskan Indonesia dari buta aksara masih jauh panggang dari api. Meskipun pemerintah pernah menargetkan Indonesia bebas buta aksara pada tahun 2015, nyatanya sampai tahun 2018 Kemendikbud menyatakan bahwa masih terdapat 2,07 persen yang belum terbebas dari buta aksara.

Walaupun secara persentasi kecil, namun dilihat dari sisi angka masih cukup tinggi, yaitu sekitar 3,47 juta orang dan 2,25 juta diantaranya adalah perempuan, padahal banyak adagium menyebutkan bahwa "Perempuan tiang negara", atau "Perempuan tiang agama".

Hal ini menjadi ironi ditengah gencarnya revolusi 4.0 yang serba digital dalam persaingan global dengan arus informasi yang serba cepat serta maklumnya perempuan bekerja di ranah publik, meningkalkan sarang domestiknya.

Badan Pusat Statistik (BPS) sudah tidak lagi memasukkan angka melek huruf sebagai indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikarenakan tingkat melek huruf sudah tidak lagi relevan menilai tingkat pendidikan suatu daerah, sebab sebagian besar wilayah memiliki angka melek huruf yang cukup tinggi, sehingga tidak bisa dijadikan tolak ukur pembeda antar daerah. Meski demikian, keberaksaraan masih tetap menjadi penentu kualitas hidup masyarakat.

Mereka yang buta huruf rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan dan tinggal di desa-desa dengan aktivitas ekonomi rendah. Masyarakat miskin cenderung terbatas mengakses kebutuhan dasar hidupnya, terutama dalam pekerjaan, pendidikan dan kesehatan. Sehingga tak jarang banyak anak mereka putus sekolah dengan alasan biaya, meski dapat pula disebabkan oleh rendahnya kesadaran orang tua miskin terhadap pentingnya anak mendapat pendidikan yang layak.

Belum lagi dalam hal pekerjaan, mayoritas penyandang tuna aksara bekerja kasar atau skala mikro sehingga taraf hidupnya belum bisa mencapai sejahtera. Sebab melek aksara merupakan kemampuan dasar yang memiliki efek keberkaitan yang luas. Bermula dari melek aksara, selanjutnya dengan budaya literasi yang baik akan melahirkan masyarakat melek informasi, melek media hingga melek politik. 

Sehingga pemberdayaan individu akan terasah menuju tercapainya kualitas hidup yang lebih baik meliputi kemandirian ekonomi, sosial-budaya, politik, hingga akses pendidikan dan kesehatan. Sehingga orang tua dengan budaya literasi yang baik, akan dapat mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang dipundaknya dapat memikul harapan gemilang Bangsa Indonesia.

Melalui peringatan Hari Aksara Internasional ke-54 yang dirayakan setiap 8 September yang tahun ini mengambil tema "Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat", sudah sepatutnya pengentasan buta aksara harus dikeroyok oleh segenap elemen masyarakat agar penurunan angka buta aksara terus terjadi hingga menyentuh angka nol bersih, terutama di daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T). 

Sebab meski pemerintah telah meluncurkan berbagai macam program seperti Gerakan Indonesia Membaca, Gerakan Literasi Sekolah, pembangunan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, Gerakan Literasi Keluarga, hinga menggalakkan Kampung Literasi, tanpa dukungan seluruh masyarakat, angan Indonesia bebas buta aksara masih akan lama terjadi.

Segenap kepedulian elemen masyarakat dan pemerintah inilah yang kemudian akan membentuk supporting system. Dari yang paling sederhana, meningkatkan literasi membaca yang kritis, dimulai dari diri sendiri, keluarga dan ditularkan pada lingkungan sekitar, memastikan orang terdekat atau tetangga kita terbebas dari buta aksara hingga efek dominonya terasa pada masyarakat yang lebih luas. 

Budaya literasi kritis ini tentunya tidak hanya berhenti pada bisa melek huruf saja, lebih luas harus belajar mencerna informasi secara utuh dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Informasi yang diperoleh dari media sosial jangan langsung dipercaya lalu disebar, tapi lakukan pengecekan ulang pada media mainstream terpercaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x