Mohon tunggu...
Lis Liseh
Lis Liseh Mohon Tunggu... Apoteker - Apoteker/Pengajar

Apoteker dan Pengajar di Pesantren Nurul Qarnain Jember | Tertarik dengan isu kesehatan, pendidikan dan filsafat | PMII | Fatayat NU. https://www.facebook.com/lis.liseh https://www.instagram.com/lisliseh

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Trouble Maker [Part 1]

8 Februari 2019   12:06 Diperbarui: 21 Maret 2019   11:54 147
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Temani aku main." Ucapnya menghentikan suasana romantis itu.

"Tapi hujan tambah deras, Dit."

Radit menyatukan kedua telapak tangannya, memohon dengan wajah sok melasnya. Aduuhhh.... cute banget wajahnya. Oh, Radit. Kau buat hatiku meleleh. Peduli amat deh sama hujan ini. Aku hanya berharap waktu enggan berjalan saat ini. Radit yang begini sudah sangat cukup bagiku. Jangan sampai berubah jadi manusia batu atau alien lagi ya, Raditku sayang.

"Boleh.... " Ku ambil bola basket yang bergelinding sampai tepi lapangan. Segera aku dribel, melakukan sedikit atraksi menggoda Radit untuk mendekat dan berebut bola denganku. Radit merespon mauku, ia tak segera mematahkan langkahku. Tapi masih menurutiku untuk sedikit bermain nakal. Nggak apa-apa meski harus menahan rasa nyeri keseleo tadi, asal bisa berdua sama Radit.

Lama, mungkin sejam telah berlalu. Radit masih memaksaku untuk meladeninya main basket. Hujan mungkin sudah agak reda, tapi gerimis masih ada ssatu dua. Tubuhku menggigil kedinginan. Tapi Radit tak peduli, ia tetap bersih kukuh untuk terus main. Selain sikap cueknya yang nggak ketulungan, satu lagi yang tidak kalah buat kesal, yaitu keangkuhannya. Jadi bukan alasan jika aku menamainnya manusia batu.

Semakin tak kuasa menahan dingin yang kian menggigit dan nyeri yang kian menjadi, ujung jemarikupun mengkerut, kepalaku terasa berat. Mengaduh, aku tak kuat lagi menahan. Tubuhku ambruk tergeletak, terkulai diguyur gerimis.

****

Begitu tersadar, aku sudah terlentang di sebuah ranjang dengan selimut setinggi dada. Ku edarakan pandang, seluruh ruangan ini dipenuhi dengan nuansa hijau. Bagus, kamar ini di tata rapi. Aku bangun, ternyata bajukupun telah berubah dengan piyama yang juga warna hijau. 

Aku duduk, gorden kamar itu masih tertutup tapi jelas diluar terang menandakan telah pagi. Ku lihat jam di meja kecil dekat ranjang telah menunjukkan pukul 07.35. Di dekat jam itu ada pigora kecil yang terisi fotoku dan Radit. Aku yakin ini kamar Radit.

Tiba-tiba ada yang membuka pintu, seorang perempuan setengah baya membawa nampan berisi semangkok bubur dan segelas susu hangat. Aku tahu dia mamanya Radit.

"Sudah bangun, Nak? " Sapanya dengan senyum ramah sambil meletakkan nampan itu di atas meja kecil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun