Mohon tunggu...
Lisa Selvia M.
Lisa Selvia M. Mohon Tunggu... Literasi antara diriku, dirimu, dirinya

Anti makanan tidak enak | Suka ke tempat unik yang dekat-dekat | Emosi kalau nemu hoaks

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Berapa Banyak yang Memberi Tanda "Like" untuk Food Tour Melawai-Little Tokyo ?

24 Mei 2017   14:35 Diperbarui: 25 Mei 2017   22:52 0 2 0 Mohon Tunggu...
Berapa Banyak yang Memberi Tanda "Like" untuk Food Tour Melawai-Little Tokyo ?
Mikoshi (dok. Reza)

Setelah menembus kemacetan daerah Blok-M, tibalah saya di Taman Sepeda. Di taman inilah pertama kalinya jalur sepeda diberlakukan secara resmi oleh Gubernur yang menjabat saat itu, Fauzi Bowo dengan tujuan memuaskan warga Jakarta khususnya Jakarta Selatan yang sedang senang-senangnya menggowes sepeda ke tempat kerja (Bike to work) pada saat itu. Walau hanya 2 jalur yaitu Track #1 : Taman Ayodya-Persimpangan melawai (dan sebaliknya);Track #2 : Persimpangan Melawai-Melawai Plaza (dan sebaliknya).

Taman sepeda (dok. Ira)
Taman sepeda (dok. Ira)
Jadi, di sinilah titik temu kami Food Tour Melawai-Little Tokyo. Diawali perkenalan para peserta yang diselingi oleh dentuman knalpot Metromini dan nyanyian pengamen jalanan yang sedang berlatih di halte.
Supermarket Papaya (dok. pribadi)
Supermarket Papaya (dok. pribadi)
Berjalanlah kami ke Supermarket Papaya (Jam Operasional 09.00-21.00 WIB) yang salah satu keunggulannya menyediakan bahan pangan dan makanan khas Jepang yang serba segar. Jadi, setelah jam 8.00 malam mereka memberikan potongan harga 50 % untuk produk makanan yang tidak bisa dijual lagi esoknya, seperti sushi, bento dan cake. 

Setelah melihat-lihat, memperhatikan harga dan membayar di kasir, salah satu peserta tour yang pernah ke Jepang berkata bahwa ada produk di sini harganya lebih murah dibandingkan di Jepang. Jadi saran saya, kalau ke Jepang dan tidak sempat beli oleh-oleh di sana, silahkan cari di sini.

img-6889-jpg-592535c0e422bd683d4f4045.jpg
img-6889-jpg-592535c0e422bd683d4f4045.jpg
Keluar dari Papaya langsung terlihat 2 lapak penjual piring cakram bajakan yang ternyata isinya rata-rata film atau lagu Jepang.

Papan petunjuk festival Ennichisai (dok. Pribadi)
Papan petunjuk festival Ennichisai (dok. Pribadi)
Karena hari ini sedang berlangsung Festival Ennichisai, maka kami sempatkan untuk melirik-lirik tenda dengan berbagai macam jualan berbau Jepang dan berfoto dengan peserta cosplay dari yang berdandan manis dan lucu serta memandangi dari kejauhan yang berdandan seram (Cukup dipandang dari jauh saja, nanti terbawa ke mimpi pusing sendiri).
dengan peserta cosplay (dok. pribadi)
dengan peserta cosplay (dok. pribadi)
Setelah bersusah payah menembus keramaian festival yang tahun lalunya didatangi sampai 250.000 orang dalam 2 hari, kami tiba di Kedai Kopi Filosofi Kopi (Jam buka Senin-Jumat: 11.00-23.00 WIB, Sabtu-Minggu 07.00-23.00 WIB). Awalnya dibangun untuk keperluan film tahun 2015 dengan berjudul sama. Film tersebut menjadi hits sehingga dilanjutkan menjadi kedai kopi dalam kenyataan.
Menambah gula pada kopi Tiwus (dok. pribadi)
Menambah gula pada kopi Tiwus (dok. pribadi)
Masyarakat Indonesia suka penasaran dan menganggap sesuatu adalah hebat jika bisa mendatangi tempat yang sedang trend, berswafoto dan segera dipamerkan di media sosial mereka. Karena saya adalah bagian dari masyarakat itu, jadi tidak ketinggalan kami mencari sudut pemandangan foto terbaik yang bertuliskan Filosofi Kopi walau harus menunggu lama karena kedai kopi sedang padat-padatnya. Plus ketebalan kulit muka kami pasti bertambah minimal ½ cm selama proses ini. Tapi “Biarlah anjing menggonggong, kami pun berlalu

Setelah dahaga kami terpuaskan oleh berbagai minuman kopi khususnya Tiwus, kopi tubruk andalan mereka disertai terpenuhinya nafsu menambah koleksi foto di memori gawai kami. Berlanjutlah rombongan peserta tour dengan langkah yang cepat berkejaran dengan Mikoshi (miniatur arak-arakan kuil Shinto).

suasana festival Ennichisai (dok. pribadi)
suasana festival Ennichisai (dok. pribadi)
Segala sesuatu terjadi begitu cepat. Rombongan kami tercerai berai. Salah satu anak peserta menghilang dan untungnya sedang bersama peserta dewasa lain yang langsung menghubungi orang tuanya sedang harap-harap cemas. Sementara saya dan dua orang peserta sukses menyebrangi arak-arakan dengan mengalami; terjepit antara meja dan manusia ; terjepit dada perempuan raksasa dan manusia biasa; terjepit meja dan manusia serta hampir tertimpa pelantang, itu saya. Untung ada penolong yang menahan benda tersebut. Yaitu panitia yang memandang cemas, takut ada yang lecet sepertinya.
dekorasi rumah hantu ala Jepang (dok. pribadi)
dekorasi rumah hantu ala Jepang (dok. pribadi)
Bernapas lega selepas dari tragedi tadi, kami menuju ke Pasar Mandiri Foppi yang biasanya pukul 4 sore sudah tutup. Yaitu pasar tradisional, dimana ada toko yang khusus menjual biji kopi dan biasanya orang Jepang suka membeli di sini. Kesukaan mereka kopi Toraja, walaupun ada berbagai macam kopi seperti Robusta, Gayo Aceh dan Luwak. Beberapa ibu-ibu peserta (termasuk saya) segera berbelanja dengan antusias.
Macam-macam kopi (dok. pribadi)
Macam-macam kopi (dok. pribadi)
Puas dengan hasil buruan kami (Ibu-Ibu), masuklah kami ke toko roti Jepang, Bakery La Moutte dengan jam buka 08.00-22.00 WIB dengan produk roti tidak mengandung pengawet. Seperti biasa orang Jepang suka memakai nama berbau Perancis. Produk mereka yang paling laku adalah Pudding Nameraka, Marugoto Banana dan Cheese Stick.
Etalase depan Bakery La Moutte
Etalase depan Bakery La Moutte
Setelah saya coba 2 macam rotinya, rasanya tidak semanis dan tidak selembut selera roti orang Indonesia, bahkan ada rasa sedikit pahit.Tapi saya tetap suka, karena saya kurang suka roti manis. Oh, ya. Sedikit info untuk para pemburu diskon, menjelang tutup toko, mereka memberikan harga spesial untuk sebagian roti.

Karena ada peserta yang hendak menjalankan ibadah, maka kami sempat berpisah dan akan berjumpa kembali di Restoran Kashiwa yang terkenal dengan rasa asli Jepangnya dengan harga hanya Rp29.800/piring, tapi belum termasuk pajak dan biaya layanan.

Selama menunggu kami sempat melewati lapak-lapak makanan lesehan di depan pintu masuk Blok-M Square. Menurut teman, yang enak di sini antara lain Gulnik (Gulai Nikmat) dan Bu De Jum. Jangan lupa budayakan menanyakan harga makanan di tempat yang tidak ditulis harga makanannya dari pada menyesal seperti saya yang pernah makan ala makanan warteg untuk 3 orang ditagih Rp 250.000,-

Salah satu penjual di festival Ennichisai (dok. pribadi)
Salah satu penjual di festival Ennichisai (dok. pribadi)
Sesampainya di sana, takdir berkata lain, restoran sangat penuh. Antrian pun sangat menumpuk. Diperkirakan baru bisa masuk 2 jam kemudian, itu juga kalau beruntung masih lengkap menunya. Jadi beralih ke restoran Yozora Ramen di samping kirinya dengan jam bukanya 17.00-02.00 WIB. Sementara menunggu, kami melepas lelah dengan sajian handuk dingin dan batu alam di bawah telapak kaki kami yang telanjang, nikmat.
bersantai di Yozora Ramen (dok. pribadi)
bersantai di Yozora Ramen (dok. pribadi)
Kami pesan banyak macam menu tapi saya rekomendasikan ramen isi daging sapinya. Karena porsinya yang besar, kami membaginya dalam dua mangkuk. Dan baru kali ini saya disuguhi ocha panas di restoran Jepang dengan cangkir bergagang.
Ramen dibagi dua mangkuk (dok. pribadi)
Ramen dibagi dua mangkuk (dok. pribadi)
Demikian berakhirlah perjalanan tour Little Tokyo hari ini, setelah berfoto (lagi dan lagi). Kami berpamitan satu sama lain. Saya melangkah ke tempat parkir mobil di belakang Taman Sepeda dengan pikiran kira-kira ada berapa banyak “like” yang dihasilkan foto-foto dan status di laman sosial saya hari ini ya ? Beberapa saat kemudian kembang api dinyalakan menandakan Festival Ennichisai selesai. Dengan secepat kilat saya mengeluarkan kamera poket kesayangan untuk mengabadikan waktu berharga itu.

 Sampai bertemu di food tour selanjutnya oleh Jakarta Food Traveler. Salam Kenyang !

kembang api festival Ennichisai (dok. pribadi)
kembang api festival Ennichisai (dok. pribadi)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x