Mohon tunggu...
Linda Erlina
Linda Erlina Mohon Tunggu... Dosen - Blogger and Academician

Seorang yang suka menonton film apa saja apalagi yang antimainstrim.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

The Bleeder: Halusinasi "Rocky" dalam Diri Chuck Wepner

16 Juli 2017   18:31 Diperbarui: 16 Juli 2017   21:27 1511
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
The Bleeder (Doc. Google Image)

Baru kali ini saya mencoba "sensasi" nonton film tinju di layar lebar. Sebenarnya saya adalah orang yang agak takut melihat adegan kekerasan dalam film. Namun rasa penasaran saya rupanya lebih besar, dan spesialnya lagi film The Bleeder ini diangkat dari kisah nyata. Akhirnya saya terpilih menjadi salah satu peserta Komik Nobar The Bleeder di Plaza Semanggi tanggal 11 Juli 2017. Senangnya 

Film ini menceritakan kehidupan Chuck Wepner, seorang petinju asal Bayonne, New Jersey sebuah kota kecil di Amerika. Chuck telah mempunyai seorang istri bernama Phyllis dan seorang anak perempuan. Chuck menjalani kehidupannya sebagai petinju yang cukup terkenal di kota tersebut. Chuck terinspirasi menjadi seorang petinju karena kekerasan hidup di kota Bayonne yang rentan terjadi perkelahian antar remaja.

Chuck memulai karir profesionalnya sebagai petinju tahun 1964. Reputasinya sebagai petinju membuat namanya melambung, hingga julukan "The Bayonne Bleeder" melekat padanya, walaupun sesungguhnya ia kurang menyukai nama tersebut. Bersama dengan manajernya yaitu Al Braverman karirnya terus melejit. 

Hingga pada tahun 1975 karena adanya sebuah keberuntungan, Chuck mendapatkan kesempatan untuk bertarung melawan Muhammad Ali untuk meraih gelar juara tinju dunia. Kesempatan langka ini diambil oleh sang "Bleeder", ia menjalani karantina dan latihan khusus sebelum pertandingan di New York. Saat itu kondisi rumah tangga Chuck sedang mengalami masalah, istrinya memutuskan untuk pindah ke rumah orang tuanya bersama anak perempuannya.

Banyak orang yang memandang rendah kemampuan Chuck yang tergolong kelas "teri" untuk berhadapan dengan Muhammad Ali petinju kelas dunia. Namun, hasil pertandingan melawan Muhammad Ali sungguh mengejutkan, karena Chuck berhasil bertahan 15 ronde, tepat sebelum ronde ke-15 berakhir ia terjatuh alias KO. 

Setelah pertandingan itu nama Chuck Wepner meluas ke media dan menjadi sangat terkenal. Suatu hari ia diundang oleh seorang produser film, Sylvester Stallone yang mengangkat kisah Chuck sang "The Bleeder" ke layar lebar dengan judul "Rocky". Film tersebut dirasa mewakili kehidupan dan perasaan Chuck. Chuck merasa dirinya adalah "The real Rocky", walaupun dalam pengerjaan filmnya tidak melibatkan ide Chuck sama sekali. Halusinasi bahwa "Rocky" adalah dirinya membuat Chuck berhalusinasi hebat. Ia bahkan kegirangan saat film "Rocky" menjadi nominasi pada penghargaan film, mirisnya ia sama sekali tidak mendapatkan royalti dari keuntungan film tersebut.

Kondisi makin buruk, Chuck makin terlarut dalam halusinasi dengan perannya sebagai "The Real Rocky". Ini yang menyebabkan putusnya hubungan Chuck dengan Phyl. Kehidupan dunia malam penuh glamor, wanita dan alkohol mewarnai hidup Chuck semenjak itu, kondisinya semakin diperparah oleh kokain dan menyebabkan ia masuk dalam penjara selama 6 bulan. Beruntung ia memiliki adik yang menyayanginya dan adanya kehadiran Linda. Kehadiran Linda mengubah hidup Chuck, lebih tepatnya kembali memperbaharui Chuck dan merubah keegoisan Chuck selama ini.

Kisah Chuck Wepner sang "The Bleeder" dan "Real Rocky" ini sungguh membuat saya banyak merenung, dan kami berdiskusi setelah menonton film ini. Bagi saya film ini memiliki beberapa nilai moral yang dapat dijasikan pelajaran yang sungguh berharga. Kehidupan glamor, popularitas dan uang tidak selamanya membuat hidup menjadi bahagia. 

Tingkat egois yang tinggi dapat membuat orang-orang yang sayang dengan kita menjadi tersakiti. Keluarga dan orang yang sungguh mencintai kita adalah orang yang selalu hadir saat kita mengalami kesulitan dan kebobrokan. Saya salut dengan Linda yang akhirnya menjadi istri kedua Chuck yang mampu menyadarkan betapa egoisnya Chuck pada keluarganya selama ini serta mendampingi Chuck untuk menjadi pribadi yang baru dan lebih baik. 

Saya sungguh tergelitik pada bagian Chuck bertemu Linda karena namanya sama dengan saya ya, hehehe. Saya sempat berpikir juga, kalau teman saya ikut sepertinya ia akan ketawa sambil guling guling nih, hehehe. Secara garis besar saya suka film ini, karena banyak analisis psikologis yang muncul dari film ini mulai dari bagaimana manajemen emosi, manajemen stres, self healing, dan komunikasi dalam kehidupan rumah tangga. Walaupun saya sungguh kesal sih waktu lihat adegan kehidupan "Brutal" Chuck. Seperti kata pepatah, ambilah sisi positifnya dan buanglah bagian negatifnya.

Keseruan KoMiK Nobar The Bleeder bersama pada Kompasianer (Doc. Facebook KoMiK)
Keseruan KoMiK Nobar The Bleeder bersama pada Kompasianer (Doc. Facebook KoMiK)
Terima kasih banyak untuk KoMiK Kompasiana yang telah memberikan saya kesempatan untuk menonton Screening Film "The Bleeder". Buat kamu yang penasaran yuk langsung aja ke bioskop kesayangan terdekat di kota mu. Rasakan sensasi aura Chuck Wepner yang membuat emosi kita bermain saat menonton film ini. Two thumbs up untuk KoMik Kompasiana, saya jadi ketagihan untuk ikut KoMiK Nobar selanjutnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun