Linda Erlina
Linda Erlina pelajar/mahasiswa

Pharmacist || Sociopreneur at EMCEKAQU (Empowering Community through Economy & Health Quality Improvement). || Find out our new updates and activities at Website: http://emcekaqu.com, Facebook: https://www.facebook.com/emcekaqu , Instagram: @emcekaqu and Twitter: @EmcekaQu.

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Stres dengan Kemacetan Jakarta? Saatnya "Ride Sharing" Yuk

12 November 2017   23:50 Diperbarui: 13 November 2017   05:37 409 1 1
Stres dengan Kemacetan Jakarta? Saatnya "Ride Sharing" Yuk
maxresdefault-5a0877e29f91ce082b1f6c72.jpg

Pusing, kesel, capek badan rasanya rontok semua!!!

Ini kata-kata yang menggambarkan diri saya saat ini. Bukan karena pekerjaan saya sebagai salah satu tenaga pendidikan di sebuah universitas di Jakarta, melainkan karena setiap hari saya harus menghadapi 2 sesi jam kantor dan perjalanan. Pekerjaan utama saya dari jam 08.00 - 16.00 dan 6 jam untuk pulang pergi kantor (Bekasi - Salemba). Betapa saya merasa sedih ketika rumah hanya sebagai lokasi transit saja.

Kemacetan Jakarta memang menjadi momok yang harus dihadapi setiap hari. Kemacetan yang "abadi dan sejati" ini semakin "ganas" ketika disertai penutupan dan penyempitan ruas jalan untuk keperluan pembangunan LRT dan jalan tol. Setiap hari saya dan adik menggunakan angkutan umum dari depan kompleks rumah menuju ke halte Trans Jakarta Pinang Ranti hingga halte Cawang Cikoko, selanjutnya saya menaiki kereta sampai di Stasiun Cikini dan naik kopaja untuk sampai di kantor. Pagi jam 5 sudah harus berangkat mengejar busway, sampai di kantor kira-kira jam 8 pagi dengan resiko "deg-degan" takut terlambat. Beberapa kombinasi transportasi telah dicoba yaitu angkot, Trans Jakarta, dan kereta, namun tetap saja masih sulit untuk mencapai kantor lebih cepat. Total titik kemacetan yang saya hadapi dari Bekasi - Salemba total ada 6 titik kemacetan. Frustasi pastinya karena setiap hari harus berangkat lebih pagi, terlambat beberapa menit saja akan mengakibatkan keterlambatan 30-60 menit. Sungguh perjalanan pulang pergi kantor lebih membuat saya stress.

Setelah sekitar 1 bulan, penyempitan makin banyak, jam berangkat pulang pergi makin lama. Saya harus mengubah strategi baru, harus! Akhirnya saya menemukan sebuah solusi yang sangat membantu saya mencapai lokasi kerja lebih cepat. Ya, kendaraan online merupakan salah satu "pencerahan" ketika saya hampir menyerah dengan kondisi kemacetan akut Jakarta. Berkat kombinasi kereta dan ojek online saya dapat menghemat waktu perjalanan saya sebanyak 3 jam. Kini pulang dan pergi hanya memakan waktu masing masing 1,5 jam saja.

Kisah lain adalah teman saya sendiri, sebut saja namanya Taufan. Taufan merupakan seorang guru matematika di sebuah sekolah daerah Jakarta Utara. Rumah Taufan berada di Jakarta Timur. Setiap hari Taufan juga menghadapi kemacetan "lahir batin" dari Jakarta Timur hingga mencapai Jakarta Utara. Taufan mulanya juga stress menghadapi ini semua karena ia sendiri mengendarai motor untuk pergi pulang ke kantor. Namun Taufan menemukan pencerahan juga karena ia bergabung dengan Uber menjadi salah satu driver. Taufan mengaku ia telah bergabung dengan Uber sejak tanggal 29 September 2017. Profesinya sebagai driver Uber dimulai setiap hari setelah jam kantor. Taufan merasakan bahwa ini adalah peluang yang sangat baik baginya untuk memanfaatkan kemacetan Jakarta. Berkat idenya menjadi driver, kini ia dapat memperoleh tambahan penghasilan untuk mencukupi kehidupannya. Ia merupakan anak pertama dari 3 bersaudara yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Dalam sehari Taufan bisa mengantongi uang tambahan yang digunakannya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Selain itu, Taufan juga bercerita kepada saya bahwa sistem kendaraan online dapat mengurangi jumlah mobil di Jakarta dengan adanya ride sharing.

Menurut Taufan, kendaraan online ternyata juga belum mampu menyembuhkan kemacetan Jakarta. Kini para pengusaha kendaraan online kini sedang gencar dengan istilah "ride sharing". Konsep ride sharing merupakan sebuah inovasi untuk mengurangi jumlah kendaraan yang beredar di jalanan pada suatu waktu dengan cara membuat beberapa orang dengan arah atau tujuan yang sama dapat ikut naik dalam satu mobil atau motor atau istilahnya "nebeng". Saya pun tertarik dengan penjelasan Taufan. Selama ini saya hanya berpikir kendaraan online hanya seperti Taufan, namun ternyata kita semua bisa menerapkan ride sharing ini jika kita bersedia mendaftar pada perusahaan kendaraan online. Sistem ride sharing ini merupakan salah satu ide gemilang sebagai obat kemacetan Jakarta. Bayangkan saja bila saya memiliki mobil dan saya ingin menuju ke Cikini dari Bekasi. Ketika saya mengaktifkan fitur ride sharing saya, maka akan ada beberapa orang yang dapat bergabung dalam mobil saya untuk ke tujuan yang searah. Salah satu ilustrasi mengenai bagaimana prediksi kondisi kemacetan Jakarta di masa mendatang dan pentingnya ride sharing dapat dilihat pada video berikut ini:

Berdasarkan hasil perenungan dan pembicaraan dengan Taufan serta saat melihat video di atas membuat saya tersadar, bahwa kemacetan akan dapat berkurang atau bahkan hilang jika setiap individu mampu mengalahkan egonya. Ketika semua orang saling berbagi, maka jalanan pun akan menjadi lega dan semuanya dapat sampai tepat waktu.

Impian saya Jakarta bebas dari kemacetan, saya yakin impian ini juga milik kamu dan kita semua.  Yuk kita dukung dan gunakan program ride sharing!