Herlina Butar-Butar
Herlina Butar-Butar profesional

Cuma orang yang suka menulis saja. Mau bagus kek, jelek kek tulisannya. Yang penting menulis. Di kritik juga boleh kok. Biar tahu kekurangan....

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Identifikasi, Terima Kasih Polres Jakarta Timur

13 Juni 2018   02:53 Diperbarui: 13 Juni 2018   05:07 912 3 1
Identifikasi, Terima Kasih Polres Jakarta Timur
Dilengkapi CCTV

Senin Yang Melelahkan...


Pagi itu, kupersiapkan diri untuk membantu memberitahukan lokasi kepada tim identifikasi Polres Jakarta Timur...

Melakukan identifikasi pada lokasi obyek masalah lahan dan bangunan, bersama tim harbang Polres Jakarta Timur.

Saya menunjuk lahan dan bangunan 190 meter dengan 8 kamar kos-kosan dan satu rumah utama.

Bang Letus Topan bersama Iin, sepupu (istri Juhadi) bergegas menuju rumah RT untuk memberitahu, tapi RT tidak ada di rumah. "Pak RT lagi kerja", demikian kata bu RT nya. 

Bang Letus Topan memberitahukan maksud bahwa akan ada identifikasi lapangan dari Polres Jakarta Timur.

Kami mencoba mengetuk pintu masuk ke rumah utama. Terdapat CCTV di pojok kiri beranda rumah. Lebih dari 15 menit, pintu tidak dibuka. Sementara kepala terasa panas karena matahari menyengat.


dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Akhirnya, tim identifikasi mengetuk kamar kos satu persatu. Kamar pertama, kami menemukan seorang Ambon yang tidak memiliki KTP dan mengaku bernama Akbar Maulana. Pada pintu kedua ditempati salah seorang yang mengaku kerja swasta dan pintu ketiga seorang pekerja PSU di kelurahan Jatinegara.

Saat meminta keterangan dari salah seorang pengontrak (petugas PSU Jatinegara) | dokumentasi pribadi
Saat meminta keterangan dari salah seorang pengontrak (petugas PSU Jatinegara) | dokumentasi pribadi

Tim identifikasi naik ke lantai 2 yang terdiri dari 4 kamar. 3 kamar kosong tak berpenghuni, salah satu kamar tertutup. Petugas kepolisian mengetuk tetapi dari dalam tidak ada jawaban.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Selang 1 jam setelah memeriksa sekeliling lokasi, petugas kepolisian menyuruh saya memegang "tanda panah" identifikasi untuk menunjukkan batas-batas tanah. Sayapun memegang "tanda panah" sambil difoto oleh petugas kameraman kepolisian.

Akhirnya, kami duduk di depan rumah untuk menunggu tindakan selanjutnya. Ternyata, datang 2 orang memakai motor yang salah satunya saya kenali sebagai kakak dari Dian Ariyani, pemalsu identitas ayah kami yang menguasai lahan pada lokasi yang tidak berhak. 

Salah satu pengendara (berjaket hitam) turun dari motor. Sementara yang berjaket biru bertopi  duduk di motor sambil berkacak pinggang melihat menantang kepada para petugas kepolisian. 

Bripka Parman Pakpahan bertanya, "kenapa itu tangannya begitu-begitu?"

Jaket biru menjawab dengan gaya menantang dan tetap berkacak pinggang. 

Parman menepis helm dan menyuruh melepas helm jaket biru. 

Merasa ditepis helmnya, si jaket biru maju bergaya akan menyerang Bripka Parman Pakpahan sambil berkata keras, "anda memukul saya ya???"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2