Mohon tunggu...
Limantina Sihaloho
Limantina Sihaloho Mohon Tunggu...

Di samping senang menulis, saya senang berkebun, memasak (menu vegetarian), keluar masuk kampung atau hutan, dan bersepeda ontels.

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Lian Sahar, Pelukis Asal Aceh, Selamat Jalan...!

18 Agustus 2010   00:15 Diperbarui: 26 Juni 2015   13:56 0 0 0 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_230093" align="alignleft" width="207" caption="Lian Sahar pada tahun 2000. (Dok. pribadi) "][/caption] Dalam diri Pak Lian Sahar saya melihat sosok seorang Muslim yang damai; penampilannya selalu rapi dan tenang. Selamat Jalan Pak Lian! Bagi Anda penikmat seni khususnya seni rupa, lebih khusus lagi seni rupa ekspresionis, tak asing dengan nama Lian Sahar; Pelukis asal Aceh yang memilih tinggal dan menetap di Jogjakarta sejak masih muda. Lahir pada tahun 1933 dan meninggal pagi ini, 18 Agustus 2010. Saya peroleh kabar duka ini dari seorang teman asal Aceh, Teuku Kemal Fasya, yang selama ini dekat dengan Pak Lian. Kemal Fasya pagi tadi baru tiba di kediaman Pak Lian di Jogja yang khusus berangkat dari Aceh ke kota ini setelah kemarin mengetahui Pak Lian dalam keadaan koma. Pak Lian kurang sehat lalu kondisinya semakin tidak membaik belakangan ini. Dalam hampir dua tahun terakhir, ia nyaris berhenti melukis. Sejak muda, Lian Sahar aktif berpameran di tingkat nasional dan internasional. Ia telah berpameran di Asia, Eropa dan Amerika. Ya begitulah, ketika seorang maestro sudah tak lagi bekerja secara aktif, sudah sakit-sakitan, media dan masyarakat pun seolah-olah melupakannya. Tidak hanya Lian Sahar yang mengalami nasib begitu. Konon, HB Jassin pun bahkan mengalami nasib yang lebih mengenaskan. Lian Sahar yang Saya Kenal: Damai, Tenang dan Rapi [caption id="attachment_230112" align="alignright" width="300" caption=""Kancah Perlawanan", salah satu lukisan Lian Sahar, 2007 - acrylic on canva, 150 x 270 cm. (Sumber: sabahatgallery.wordpress.com)"][/caption] Pertama kali saya mengenal Pak Lian Sahar ini pada tahun 2000. Kala itu di bulan Desember. Saya punya teman kelas yang kebetulan berasal dari satu provinsi dengan Pak Lian Sahar. Teman saya ini memberitahukan kepada saya bahwa di rumah Pak Lian Sahar ada penyair Danau Toba, Sitor Situmorang yang pada tahun itu baru kembali dan mulai menetap di Indonesia. Sebagai orang Samosir yang kampungnya dekat dengan Harian Boho asal Sitor Situmorang, sebagai orang yang setiap hari melihat Danau Toba dari jendela dapur rumah nenek-kakek saya di Parbaba di atas bukit, begitu dengar nama Sitor yang puisi-puisinya apalagi tentang Danau Toba telah saya baca,  saya senang dan merasa berdebar-debar menerima tawaran teman kelas saya ke rumah Pak Lian. Sejak perjumpaan pertama di tahun 2000 itu dengan Pak Lian Sahar di rumahnya di Bumijo Lor 22 Jogjakarta, selama kuliah dan sampai saya meninggalkan Jogja, saya masih sering ke rumahnya apalagi kalau sedang bulan Ramadhan. Belakangan saya tahu, bahkan teman yang tinggal di Sumutera Utara yang berkiprah dalam bidang seni-budaya juga cukup akrab dengan Pak Lian Sahar dan senang ke rumahnya kalau mereka kebetulan ke Jogja. Dalam diri Pak Lian Sahar saya melihat sosok seorang Muslim yang damai; penampilannya selalu rapi dan tenang. Saya masih ingat dengan jelas ketika Pak Lian ini merapikan sebuah buku untuk saya. Buku itu adalah kumpulan puisi Sitor Situmorang dalam bahasa Inggris. Tadinya mau diberikan kepada seseorang dan nama seseorang telah tertulis dalam lembar pertama buku tersebut. Saya lupa mengapa buku itu tidak jadi diberikan kepada orang yang namanya sudah tertera dalam buku dalam tulisan tangan Sitor. Sitor memberikan buku itu pada saya. Dengan tenang, Pak Lian mengambil cuter; dengan ketelitian dan ketenangan seorang pelukis, beliau memotong bagian di mana nama seseorang itu tertera di sana. Bagi saya yang paling berkesan bukanlah bahwa nama seseorang itu dia keluarkan dari buku itu sebab buku itu telah beralih kepada saya. Yang paling berkesan adalah caranya melakukan pekerjaan itu: tenang dan pas. Ah, susah menggambarkannya tapi saya masih ingat dengan detil ketenangan dan ketepatannya melakukan pekerjaan itu. Dalam pikiran saya waktu itu: "Begini rupanya seorang seniman melakukan pekerjaan!" Salah satu hal lainnya yang berkesan dari Pak Lian Sahar: dia mengagumi penulis. Topik pembicaraan yang paling banyak saya bicarakan dengannya kalau berjumpa adalah tentang penulis dan tulisan. Ia pun suka memberikan buku-buku termasuk novel yang dia punya kepada saya. Kadang saya malah merasa, dari antusiasmenya kalau sedang berbicara tentang penulis dan dunia kepenulisan, ia lebih mengagumi penulis daripada pelukis. Hehe...! Saya sendiri tidak pernah bertanya soal itu secara langsung; tak bisa lagi bertanya sebab dia sudah pergi untuk selamanya.***