Mohon tunggu...
Lilis Menil
Lilis Menil Mohon Tunggu... orang yang suka hal baru

orang yang suka petualangan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Nabi Muhamad dan Pengaruhnya sebagai Mediator Kepemimpinan Dunia

23 Januari 2021   22:10 Diperbarui: 23 Januari 2021   22:20 55 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nabi Muhamad dan Pengaruhnya sebagai Mediator Kepemimpinan Dunia
sumber gambar fpscs.uii.ac.id 

seorang pemimpin yang ditakdirkan menjadi nabi dan rasul terakhir yang selalu menorehkan tinta emas dalam kepimpinannya dan selalu menjadi contoh suri tauladan  bagi umat muslim dan bahkan dikenal sebagai tokoh pemimpin yang berpengaruh di dunia sepertinya ciri tersebut sangat patut kita nobatkan kepada kanjeng Nabi Rasulullah SAW dimana beliau selalu dalam menjalankan kepemimpinanya selalu menegakkan sikap adil, jujur,  bijaksana dan selalu menyelesaikan setiap masalah dengan mufakat dan semangat pantang menyerah beliau yang tidak pernah redup walaupun beliau harus merasakan sakit akibat ulah umatnya dan tetap saja kasih sayang beliau lebih besar dibandingkan rasa benci beliau itulah yang menjadi motivasi bagi setiap pemimpin agar tercapainya kepemimpinan yang membawa kesejahteraan bagi umatnya hal itu terbuktidiantaranya adalah ;

  •  dari Rasulullah SAW telah mampu memimpin sebuah bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa yang maju, yang bahkan sanggup menggalahkan bangsa-bangsa lain di dunia pada masa itu. Afzalur Rahman dalam Ensiklopedi Muhammad Sebagai Negarawan mengungkapkan, dalam tempo kurang lebih satu dekade, Muhammad SAW berhasil meraih berbagai prestasi yang tak mampu disamai pemimpin negara manapun.
  • Sebagai seorang pemimpin dan penguasa beliau memberikan sumbangan yang begitu besar bagi dunia yaitu terhadap bangunan filsafat politik dan praktik pemerintahan. Kontribusinya ini menjadi saksi hidup yang membuktikan kebesarannya sebagai negarawan yang jenius dengan kecakapan yang luar biasa.
  • Beliau tumbuh tanpa kasih sayang orang tua tetapi tidak berarti beliau tidak tumbuh menjadi pribadi yang penuh dengan nilai budi luhur bahkan  nilai budi luhur itu sudah melakat  dalam diri beliau sejak beliau belia karena nilai kejujuran dan keadilannya dalam berinteraksi dengan masyarakat membuat penduduk Makkah menghormatinya. Masyarakat Makkah pun menyebutnya sebagai al-Amin (orang yang terpercaya) dan Shadiq (orang yang benar).
  • Beliau mampu menyelesaikan perselisihan di antara suku-suku Quraisy terkait dengan masalah pengembalian Hajar Aswad ke tempatnya semula. Dengan cara yang mudah dan berdampak besar bagi persatuan umat yaitu dengan cara menghamparkan jubah di atas tanah dan meminta agar Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah hamparan jubah itu. Beliau kemudian meminta masing-masing suku memegang ujung jubah itu dan bersama-sama mengangkat Hajar Aswad dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Persengketaan pun diselesaikan secara damai.
  • dan persatuan umat itu pun terjadi pada saat Kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai seorang kepala negara dimulai ketika kaum Muslim hijrah dari Makkah ke Madinah. Di kota suci kedua bagi umat Islam itulah, komunitas kecil kaum Muslim di bawah kepemimpinan Muhammad SAW berhimpun.
  • Pada masa-masa awal kehidupan di Madinah, Rasulullah SAW dihadapkan pada situasi sulit. Kaum Muhajirin hidup miskin, tidak berdaya, dan tidak mempunyai berbagai sarana kehidupan. Sementara itu, kaum Quraisy Makkah mengancam menyerang Madinah dan menghancurkan komunitas Muslim yang masih kecil.
    Kaum Yahudi-Madinah juga bersekongkol dengan orang-orang musyrik Makkah untuk memusuhi kaum Muslim. Namun, Muhammad dapat menyelesaikan situasi sulit dan tak terduga ini dengan efektif dan berhasil. Ini membuktikan kenegarawanan dan kecakapannya dalam bidang politik.
    Menghadapi kenyataan yang sangat sulit itu, Muhammad SAW mengambil serangkaian langkah untuk mengukuhkan negara Islam yang baru didirikan itu secara sosial, politik, dan ekonomi. Marshal G Hodgson dalam tulisannya yang bertajuk The Venture of Islam mengungkapkan, masyarakat Muhammad terdiri atas kaum Muslim dan non-Muslim dalam berbagai ragam derajat keanggotaan.
    Sejak saat itu, tulis Hodgson, komunitas itu tak lagi sekadar sebuah suku baru yang terdiri atas orang-orang beriman atau bahkan sekadar perkumpulan revolusioner lokal. Masyarakatnya terdiri atas berbagai unsur heterogen yang diorganisasi secara lebih baik dibandingkan sistem organisasi masyarakat Makkah, baik secara religius maupun politik,

  • Dari kisah itu kita dapat memetik ibrah yang sangat besar dalam menjalankan kepemimpinan dari langkah dan tindakan yang beliau lakukan menjadi kunci sukses bagi bagi kesuksesannya kepemimpinan yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat dan ingatlah bahwa Allah menciptakan manusia sebagai  khalifah di bumi yang mengemban tugas untuk menyebarkan kebaikan dan menjauhkan masyarakatnya dari kemungkaran dan untuk mengelola alam dengan baik agar terciptanya masyarakat yang adil makmur dan sejahtera

VIDEO PILIHAN