Liliek Pur
Liliek Pur pegawai

menulis lagi

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Menjajal Patin dan Kopi Melayu di Kota Madani

25 Agustus 2018   08:18 Diperbarui: 26 Agustus 2018   22:12 1177 22 9
Menjajal Patin dan Kopi Melayu di Kota Madani
sumber gambar: pelitariau.com

Beberapa saat setelah menjejakkan kaki di bandara  Sultan Syarif Kasim II untuk pertama kalinya, saya bertanya kepada beberapa warga Pekanbaru, di mana tempat wisata di kota Pekanbaru yang layak dikunjungi? Sebagian dari mereka garuk-garuk kepala dan mengernyitkan kening.

Kesempatan mengunjungi kota Pekanbaru selama tiga hari membuktikan sulitnya mencari tempat wisata kota di Bumi Lancang Kuning itu.

Menurut Google sebenarnya banyak tempat berpelesir, tapi saat saya tanyakan kepada orang-orang di sana, jawabannya amat minim.

Di antara yang sedikit itu, tersebut beberapa lokasi (wisata) antara lain Masjid Agung An Nur, Pasar Bawah dan Kopi Kimteng. Tersebut pula pusat oleh-oleh sebagai pelengkapnya. Lokasi lain jaraknya cukup jauh dari kota, misalnya Kerajaan Siak Sri Indrapura. Kabarnya, perlu empat jam bermobil untuk sampai ke sana.

Saya sempat menyambangi tiga di antara lokasi-lokasi tersebut. Satu tempat yang masuk incaran saya namun saya belum sempat menyinggahinya adalah Pasar Bawah. Maklum, Pasar Bawah beroperasi pagi hingga siang hari, sementara pada waktu tersebut saya sedang dalam urusan dinas.

Hari pertama di Pekanbaru, saya berkunjung ke masjid agung Provinsi Riau An Nur. Saya menuju ke sana menjelang Isya. Di rumah Allah ini, saya hanya sempat memotret tiruan Taj Mahal itu serta salat Isya.

dokpri
dokpri
Kala saya melepas sepatu di depan batas suci dan hendak memasuki masjid, seorang petugas masjid menganjurkan dengan penekanan yang cukup kuat agar saya menitipkan sepatu di tempat penitipan. 

Saya memang tidak melihat sepatu lain di sana kecuali beberapa pasang sandal. Bagi pencuri, tampaknya tak ada perbedaan antara pasar dan masjid. Yang penting ada "mangsa" yang bisa "dilahap".

Selepas Isya, saya berkeliling seputar masjid sambil menanyakan barangkali ada tempat makan khas Melayu dengan sajian ikan patinnya.

Namun yang saya temui kebanyakan warung makan Padang. Hasil telusuran saya memang menyatakan bahwa mayoritas penduduk kota ini beretnis Minangkabau. 

Wikipedia menyebutkan angkanya sebesar 37,96%. Saya pun menahan diri dari keinginan menyantap ikan dan singgah untuk mengisi perut di sebuah warung makan khas Padang.

Terkenal Namun Tak Dikenal

Sebagai bukti yang 'sah' bahwa saya telah berkunjung ke kota Pekanbaru, tentu saja saya mesti menenteng oleh-oleh khas saat pulang nanti.

Sesuai informasi yang saya kumpulkan dari beberapa sumber, termasuk Google, salah satu tempat pembelian oleh-oleh yang terkenal adalah toko "Mega Rasa". Saya pun berniat menyambanginya pada malam hari kedua, selepas urusan dinas tentunya.

Saya mencari tahu perihal arah menuju toko itu kepada satpam hotel tempat saya menginap. Ternyata sang petugas pengamanan tidak tahu sedikit pun tentang tempat terkenal yang saya maksudkan itu.

Mengetahui bahwa seorang petugas hotel tidak paham tempat terkenal di kotanya, maka tingkat keyakinan saya akan keterkenalan toko itu sedikit memudar.

Berikutnya saya mendatangi sumber yang (seharusnya) lebih bisa dipercaya dalam urusan ini, yakni sopir taksi. Kebetulan Pak Sopir tengah menantikan seorang penumpang di depan lobby hotel. 

Asumsi saya, seorang sopir taksi yang sehari-hari mengantarkan penumpang ke seantero kota tentu amat mengenal sebuah tempat yang terkenal di kota itu. Sungguh di luar dugaan, ternyata beliau pun tidak punya pengetahuan yang saya harapkan. Waduh, tempat terkenal macam apa sebenarnya toko ini?

Oleh karena membawa oleh-oleh sudah menjadi semacam kewajiban, saya tetap harus sampai ke tempat itu. Maka, saya segera memesan Go Car.

Tak memerlukan waktu lama, sang taksi daring segera berhenti di depan hidung saya. Belakangan setelah saya mengorek keterangan dari sang pelaku taksi daring, jumlah mereka sudah mencapai tiga ribuan orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3