Lingkungan Pilihan

Undang-Undang Berlaku Sehari Saja?

9 Agustus 2018   12:34 Diperbarui: 9 Agustus 2018   12:53 319 13 4
Undang-Undang Berlaku Sehari Saja?
sumber gambar: pesisirnews.com

Suatu hari saya mendapati sepucuk undangan pada sebuah perkumpulan WhatsApp. Bukan undangan pernikahan atau ulang tahun, melainkan undangan kerja bakti. Undangan berasal dari seorang pengurus suatu RT.

Isi undangan tersebut biasa saja, mengajak segenap warga mengikuti kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan. Kegiatan yang jamak dilakukan oleh RT mana pun. Tidak ada yang aneh.

Bersama dengan undangan, sang pengurus RT menyertakan sebuah copy surat dari kelurahan. Dalam suratnya, Pak Lurah menjelaskan adanya lomba bertema kebersihan lingkungan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah tingkat di atasnya. Kelurahan yang dipimpinnya akan ikut sebagai peserta dalam lomba. Pada saatnya kelak, tim penilai akan berkunjung ke lokasi untuk memeriksa komponen yang dilombakan.

Ada satu hal yang menarik dari surat itu. Dalam salah satu materi suratnya, sang Kepala Desa mengimbau warga tidak membakar sampah khususnya pada hari dilaksanakannya penilaian lomba. Tidak ada penjelasan dari mana imbauan itu bermula, apakah penerusan dari atas atau inisiatif Pak Lurah sendiri.

Sekarang coba kita tilik aturan yang berkaitan dengan pembakaran sampah. Sesuai hasil pencarian yang saya lakukan, terdapat peraturan yang secara jelas melarang pembakaran sampah.

Ketentuan itu tertera pada Undang-Undang No. 18 tahun 2008 yang saya kutip dari laman Kementerian Lingkungan Hidup. Dalam Undang-Undang dimaksud, jelas sekali termuat larangan membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah. Hal itu termaktub dalam Bab X perihal Larangan, khususnya Pasal 29 ayat (1) g.

Sekilas imbauan Pak Lurah tampak bagus. Tidak membakar sampah sembarangan memang sesuai ketentuan. Namun ada yang membikin dahi saya berkernyit. Saya melihat kemungkinan adanya salah tafsir atas imbauan untuk tidak membakar sampah yang dikaitkan dengan adanya perlombaan.

Yang saya cemaskan adalah bila warga menangkap maksud pemerintah desa itu sebagai larangan membakar sampah berlaku sehari saja. Bukankah aturan itu berlaku setiap hari dan sepanjang tahun? Adakah faedah tidak membakar sampah satu hari, sementara pada 364 hari lainnya dalam setahun orang bebas "mengasapi" kita?

Coba kita cermati anjuran Pak Lurah. Kalimat imbauan dalam surat Kepala Desa itu berbunyi "Warga dilarang membakar sampah khususnya pada tanggal...." Tanggal dimaksud adalah hari pelaksanaan penilaian lomba oleh panitia. Saya melihat yang menjadi kunci dalam kalimat itu adalah kata 'khususnya'.

Merujuk pada KBBI, kata 'khusus' bermakna istimewa atau tidak umum. Jika menilik arti kata dimaksud, maka anjuran Pak Lurah mengandung makna bahwa hari penilaian lomba merupakan hari istimewa dan harus dibedakan dengan hari lainnya.

Keistimewaan hari penilaian lomba akan "diperingati" dengan tidak membakar sampah. Lantas, apakah pada hari lain warga boleh (atau bebas) membakar sampah? Di sini lah letak kecemasan saya.

Barangkali maksud Pak Lurah dalam kalimat imbauannya adalah warga tidak boleh membakar sampah sepanjang waktu, dua puluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu. 

Namun ada penekanan bahwa tanggal yang disebutkan dalam kalimat tersebut merupakan hari istimewa, harus berbeda dengan hari-hari lainnya. Dengan adanya peristiwa istimewa tersebut, Pak Lurah menginginkan warganya lebih bersungguh-sungguh mematuhi aturan terkait pembakaran sampah pada tanggal tersebut.

Bila yang dimaksud Pak Lurah demikian dan warga memahami serta melaksanakannya, maka kita tidak perlu mengkhawatirkannya. Warga tidak akan membakar sampah sembarangan pada hari apa pun dan tanggal berapa saja.

Kemungkinan lain, terdapat kesalahpahaman warga dalam menerjemahkan maksud kalimat Pak Lurah. Warga mengira tidak ada ketentuan yang melarang warga membakar sampah.

Kalaupun warga tidak membakar sampah pada hari yang ditentukan oleh Pak Lurah, itu semata-mata demi mematuhi anjuran Pak Lurah, bukan dalam rangka menaati Undang-Undang. Bila hal itu terjadi, maka terbuka kemungkinan warga membakar sampah sesuka hati di luar tanggal yang ditetapkan Pak Lurah.

Kemungkinan berikutnya, sebenarnya warga memahami bahwa aturan pembakaran sampah berlaku sepanjang tahun dan Pak Lurah berharap warga lebih bersungguh-sungguh menaati aturan itu pada hari yang ditetapkan.

Namun kondisi ini masih berpotensi timbulnya pelanggaran. Bisa jadi warga melihat ketidaktegasan pemerintah desa dalam menerapkan aturan pembakaran sampah. Ketidaktegasan itu tampak dalam kalimat yang samar dan tidak tegas mewajibkan warga untuk tidak membakar sampah setiap hari dan tidak ada hari istimewa dalam urusan membakar sampah.

Kemungkinan terakhir dan yang paling celaka, pemerintah desa bernafsu besar memenangkan lomba dan menjadikan kemenangan itu sebagai tujuan utama. Jika ini yang terjadi, maka dampak yang ditimbulkan bisa menjadi petaka.

Bila hasrat  popularitas---atau ambisi pribadi lain--telah menguasai hati, maka tujuan bisa berbelok arah. Program yang sejatinya hanya sebagai perantara pencapaian suatu tujuan akhir yang jauh lebih besar diperlakukan sebagai tujuan akhir itu sendiri. Maka, tujuan jangka pendek itulah yang kemudian ditetapkan sebagai target utama yang akan dikejar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2