Mohon tunggu...
Holikin
Holikin Mohon Tunggu... Penulis buku "Asa di Ujung Senja", Pendidikan Karakter ala Syekh Abdul Qodir Al-Jailani", dan "Narasi Cinta"

Guru dan Penulis

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Generasi

13 Oktober 2019   00:01 Diperbarui: 13 Oktober 2019   00:08 0 0 0 Mohon Tunggu...
Generasi
https://www.momjunction.com

Apa yang perlu kita sisihkan untuk generasi setelah kita?Ustadz Abdus Shomad (selanjutnya disingkat UAS) begitu berapi-api ketika mentabayyun atas dirinya yang "digelari ustadz pelawak". 

Sematan gelar tersebut datang dari awak netizen yang tentu membenci dakwahnya. Gelar ustadz pelawak pada diri UAS adalah bentuk penghinaan. Ditambah dengan kalimat negatif yang menyertai gelar tersebut, "jangan dengarkan ustadz pelawak!" menjadi penyempurna hinaan tersebut. 

UAS merasa perlu mengklarifikasi. Menurutnya, penjelasan apapun menjadi tak berpengaruh pada siapapun yang membencinya. "Namun, ini perlu saya jelaskan agar anak cucu saya tidak diejek orang lain dengan perkataan, datukmu dulu seorang pelawak..", imbuhnya.

Semua karena "anak cucu" yang lahir setelah kita. Yang kita lakukan saat ini, pada intinya adalah menabur warna untuk masa depan anak cucu kita. Nabi Saw menolak keinginan Ali menikahi putri Lahab, bukan karena putrinya, Fatimah akan dimadu. 

Alasan tersebut tidak menjadi penentu terkuat penolakan Nabi, meskipun hal tersebut dapat dibenarkan dengan kegelisahan Fatimah yang juga Nabi rasakan. Bukan pula karena putri Lahab seorang perempuan yang berperangai buruk mengikuti jejak ayahnya. Tidak. Melainkan karena generasi pendahulunya, yaitu Abu Lahab memiliki track record yang buruk terhadap Islam, terhadap dakwah Nabi. Memandang generasi sebelumnya itu penting, begitu kira-kira.

Untuk itu, tanamlah bibit-bibit pohon kemuliaan yang kelak pada zamannya generasi penerus kita berteduh di bawah rindangnya pohon-pohon yang kita tanam hari ini.  

Sebab, Ibrahim as sangat mengkhawatirkan generasi penerusnya setelah dirinya berpulang menghadap penciptanya. Ibrahim berkata, sebagaimana Allah firmankan dalam Alquran, "ma ta'buduna min ba'di" (apa yang engkau sembah setelah diriku mati?!). Kegelisan Ibrahim bukan tidak punya alasan, apalagi ketika diukur dengan ganasnya cobaan dan fitnah yang melayang-layang di atas atmosfir zamannya.

Namun sayang, kegelisahan kita memandang generasi setelah kita berbeda bahkan sangat berbeda dengan kegelisahan Ibrahim. Jika Ibrahim mengkhawatirkan ibadah generasi penerusnya, kita malah mengkhawatirkan "pekerjaan" anak cucu kita. Begitu khawatir anak cucu tidak makan, jatuh miskin, atau hidup sebatang kara setelah kita mati tertimbun tanah. 

Akhirnya, perlakuan kita terhadap anak-anak kita menjadi berbeda pula. Ibrahim menempa batin anak-anaknya dengan pendidikan agama agar hidupnya berkualitas di mata Allah Swt, kita menuntun anak-anak kita mencari pendidikan yang berimplikasi pada materi dan profanisme (agar mudah cari kerja) yang pada selanjutnya moralitas diukur oleh kertas. Pada detak masa setelahnya, kita perlahan namun pasti menyumbangkan "generasi sampah" masa depan.

Yang terakhir dan yang tak kalah pentingnya adalah, syubbanu al yaum rijalu al ghad (generasi saat ini adalah penerus hari esok). Para founding father kita, para guru-guru kita telah mewariskan sejarah emasnya kepada kita, dan kini tibalah pada giliran kita. 

Kitalah yang harus melanjutkan estafet perjuangan mereka hari ini.  Berilah sejarah yang sama pada generasi setelah kita. Tanamkan bibit buah yang sama, yang ranumnya kelak dituai oleh generasi-generasi baru, selepas kita bertandang menghadap Sang Pencipta.

(Holikin,S.Pd.I)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x