Mohon tunggu...
Lis W Muhshonati
Lis W Muhshonati Mohon Tunggu... Guru di sebuah SMA yang memiliki minat untuk menyelamatkan bumi, sekolah ramah anak, menghidupkan literasi, dll.

Lahir di Mojokerto 15 Juni 1969. Pendidikan Satra Inggris. Memiliki 5 putra-putri dan bersuamikan seorang dokter gigi.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Ganti Kurikulum? Siapa Takut?

21 November 2019   21:20 Diperbarui: 21 November 2019   21:41 0 0 0 Mohon Tunggu...

GANTI KURIKULUM? SIAPA TAKUT?


Perubahan itu kekal sifatnya. Maka jangan harap Anda bisa survive tanpa kesiapan yang mumpuni untuk menghadapinya!
 
Ya,  disrupsi terjadi  di semua lini. Dan ini tak terelakkan lagi.

Begitu pula pada dunia yang sangat dekat dengan kita, yakni pendidikan.

Permasalahan pendidikan memiliki magnet yang tak akan  lekang dimakan zaman untuk dibicarakan.

Di Indonesia sendiri masalah pendidikan ini mendominasi hampir seluruh headline pembicaraan semua orang.

Apalagi dengan kehadiran Mas Muda Belia yang namanya sedang hangat di bicarakan di lingkungan Kemendikbud kita.

Siapa lagi jika bukan Mas Menteri Nadiem Makarim.

Mas Nadiem, begitu sapaan akrabnya, telah memberikan sinyal positif tentang akan adanya perubahan di kementeriannya.

Saya pribadi berani menaruh harapan besar untuk perubahan ini, di antara banyak pakar yang menyangsikannya.

Lihat saja sekian lama karuk marut a-z dunia pendidikan kita. Makin hari rasanya makin menggelikan saja. Sebagian guru dan siswa kita makin ahli di bidang barunya, ahli copas!( meng-copy paste )

Ah, saya rasa sistem itulah yang kurang pas, yang memaksa kita menjadi pakar 'copy paste'.

Bayangkan untuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran/RPP satu KD saja, mereka bisa bisa menghabiskan sepertiga rim kertas HVS!

Seru saja, apalagi dengan sistematika ribet bin ruwet. Wah, jadi panjang RPP kita itu!

Itu saya rasa jauh dari simpel dan praktis.
Hemm...saya sungguh geleng-geleng kepala!

Dan, apalagi himbauan agar setiap saat masuk kelas dokumen itu harus kita bawa.

Wow! Seram. Maka tak heran jika kita semua jadi mahir hanya 'copy paste', kan?

Parahnya budaya ini kemudian diikuti oleh siswa-siswi peserta didik.
Sebuah lingkaran setan kan? Jangan ah!

Belum lagi membicarakan pendidikan karakter bagi pelajar.

Berapa puluh tahun semua dokumen indah yang tertera di kurikulum  itu hanya jadi semacam kitab suci tak tersentuh.

Kurikulum yang tampak sempurna dan terus disempurnakan itu tak juga menemukan formula pas!

Sekian lama, dari dibentuknya kabinet demi kabinet. Kurikulum yang 'ideal' itu tampaknya jauh dari hasil nyata.

Sebut saja  tentang pendidikan karakter.
Pemerintah sejak tahun 2010 sudah gencar mendengungkannya.

Di kelas kelas , di dokumen dokumen perangkat guru. Mulai dari perencanaan, hingga sistim penilaian ketercapaian karakter peserta didik sudah sedemikian rupa disempurnakan.

Bukankah diatas kertas dan  di file file kita, semua itu terlihat telah bagus kan?

Tetapi,hingga kini,  grafik tentang rendahnya moralitas pelajar makin merosot tajam, berita keterpurukan moral pelajar terasa makin miris saja.

Pelajar tawuran, pelajar pesta seks, pelajar kurang ajar, bahkan
menghabisi nyawa gurupun mampu dilakukan seorang pelajar!

Mengerikan! Ini salah dimananya?

Baiklah, baiklah, Sekarang begini saja. Mari kita hentikan saling kritik. Kita tunggu saja apa yang akan diputuskan oleh para bapak dan ibu bangsa . Kita kedepankan saja pikiran positif disertai dengan doa agar negeri ini segera mampu mengentas keterpurukan pendidikan dalam tempo secepatnya.

Mari selalu menyebarkan aura baik, dalam hal sesuatu yang sudah baik mungkin bisa dipertahankan, yang tidak baik dan tidak pas semoga segera disempurnakan atau bahkan mungkin dihapuskan, monggo Monggo saja.

Jika semua sudah sepakat bahwa ada sesuatu yang tak tepat di kurikulum kita ya mari berubah!

Mari sederhanakan Kurikulum, mari rapikan RPP menjadi sesuatu yang 'chic' , yang ringan tetapi sarat isi!

Mari berikan keringanan guru di tugas tugas administrasi.

Dengan pantauan ketat, pantau guru , bimbing guru, buka wawasan guru, menjadi personil yang bebas menentukan langkah sendiri sesuai keadaan dan situasi di  kelas mereka masing masing.

Guru guru harus memastikan pencapaian semua aspek dari pengetahuan, ketrampilan dan afektif peserta didik terlampaui dengan sempurna.

Negara, guru , orang tua dan masyarakat akan memiliki sinergi dan komunikasi yang sangat erat demi terwujudnya pencapaian tersebut.

Demikian sedikit yang bisa saya sampaikan.

Teriring doa dan harapan besar kami semoga cita cita anak negri yang gemilang tercapai.

Bersama menteri baru ini  kita nyatakan dukungan sepenuh hati, akan adanya perubahan besar dengan pertimbangan super matang.

Tak mudah memang mengurai sesuatu yang telah melingkar selaksa tak ada ujung pangkalnya.

Tetapi sekali lagi marilah kita yakini, "Setiap masalah itu tercipta sepaket dengan solusinya."

Selamat berbenah!
Mari berubah!

VIDEO PILIHAN