Mohon tunggu...
Lia Wahab
Lia Wahab Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Ibu rumah tangga yang pernah berkecimpung di dunia media cetak dan penyiaran radio komunitas dan komunitas pelaku UMKM yang menyukai berbagai jenis kerja kreatif

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Menelusuri Aceh, Negeri Indah "Pemulia Jamee"

24 Desember 2019   14:08 Diperbarui: 25 Desember 2019   17:09 92 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menelusuri Aceh, Negeri Indah "Pemulia Jamee"
Pemandangan dari atas bukit Geurutee Aceh (sumber foto: Travelingyuk.com)

Menjejakkan kaki di tanah Aceh memang bukan hal baru bagi saya. Dua belas tahun yang lalu, tak pernah menyangka Tuhan mengizinkan saya melihat salah satu karunia terbesarNya bagi Indonesia ini. "Negeri serambi Mekkah" atau "Tanah Rencong" begitulah orang menyebutnya, tanah indah di ujung barat Indonesia yang tak henti menawarkan keistimewaan. 

Adat istiadat, kearifan lokal dan keindahan alam yang masih terjaga serta sejarah Aceh yang mengambil bagian besar dalam kemerdekaan negeri ini membuat Aceh selalu menonjol di antara semua propinsi yang ada di Indonesia. Itulah mengapa selalu ada takjub di hati saya melihat perkembangan Aceh.

Tamu yang berkunjung ke daerah ini akan merasa dimuliakan bak seorang raja karena tradisi "Pemulia Jamee" atau "Memuliakan Tamu" yang masih dipelihara sejak zaman leluhur. 

Salah satu bentuk  sambutan kepada tamu yaitu tari "Ranup Lampuan". Kata "Ranup Lampuan" sendiri berasal dari kata "Ranup" yang berarti Sirih, kata "lam" yang berarti di dalam dan kata "Puan" yang berarti wadah. "Ranup Lampuan" artinya Sirih di dalam wadah yang merupakan suguhan untuk tamu yang dimuliakan. 

Biasanya, sirih untuk tamu ini juga ditambahkan dengan buah pinang. Saya yang tumbuh besar di tanah Jawa tak terbiasa mengunyah sirih dan pinang seperti ini. Saya lebih mengenal sirih sebagai rempah yang dikunyah oleh orang yang berusia lanjut untuk merawat gigi mereka. Ini suatu keunikan yang disajikan pada para tetamu.

Aceh dan Islam, dua hal yang tak bisa dilepaskan. Semua tradisi di Aceh bernafaskan Islam dan diwarnai dengan beberapa tradisi leluhur pendatang. Jika anda ke Aceh, jangan lupa menginjakkan kaki di Mesjid Raya Baiturrahman yang menjadi simbol peradaban Islam di Aceh. Penerapan syariah Islam adalah kesepakatan para leluhur Aceh yang tak bisa dielakkan. Itulah keistimewaan daerah ini. 

Kearifan lokal bernafaskan Islam masih terjaga hingga kini dan disesuaikan dengan toleransi masyarakatnya antar lintas keyakinan. Damai, itu yang terasa bagi saya saat tinggal di Aceh. Kami membaur dalam banyak kegiatan dengan teman antar agama, suku dan bangsa. Tapi, dimana tanah dipijak, disitulah langit dijunjung. Tradisi islami di daerah ini tetap harus kami hormati. Itu yang tak terganti.

Sebelum menelusuri Aceh lebih jauh, saya ingin mengajak pembaca mengenal filosofi dalam pakaian adat Aceh. Di hampir setiap gerbang masuk Aceh atau jargon ucapan selamat datang ala Aceh terdapat gambar laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian adatnya. Saya akan memulainya dengan pakaian yang digunakan oleh laki-laki atau agam atau "linto baro" untuk pengantin laki-laki. 

Meukeutop adalah kopiah yang terlihat menjulang dengan motif khas Aceh yang berwarna-warni. Meukeutop memiliki lima warna yang punya arti tersendiri. Warna hijaunya melambangkan Islam, merahnya berarti kepahlawanan, warna kuning berarti kesultanan, warna putih untuk lambang kesucian dan warna hitam diartikan sebagai ketegasan. Selain itu, Meukeutop juga dihiasi "tengkulok" atau kain sutra yang dililit membentuk bintang segi delapan.

Baju adat bagian atas yang dikenakan laki-lakinya disebut "Meukasah", terlihat seperti beskap dan dibuat dari kain sutera yang ditenun. Umumnya "meukasah" berwarna hitam yang berlambang ketegasan dan kebesaran. Dari bagian kerah sampai bagian dada terdapat sulaman berwarna emas. Bagian kerahnya mirip kerah pakaian tradisional tiongkok. Sedangkan pakaian bagian bawahnya dinamakan "Sileuweu" atau perpaduan celana panjang dari katun yang disebut "cekak musang" dengan tutupan berupa kain songket yang dililit di pinggang si laki-laki dan menjulur hingga atas lutut.

Untuk pakaian adat perempuan atau inong atau "dara baro" sebutan bagi mempelai wanita hiasan tutup kepalanya disebut "Patam Dhoe" yang berbentuk seperti mahkota dan berukiran dengan motif daun sulur yang dipakaikan di atas jilbab. Di sisi lainnya ada pula motif "beungong kalimah" yang dikelilingi bentuk bulatan dan bunga. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN