Mohon tunggu...
Lia Wahab
Lia Wahab Mohon Tunggu... Penulis Lepas

Ibu rumah tangga yang pernah berkecimpung di dunia media cetak dan penyiaran radio komunitas dan komunitas pelaku UMKM yang menyukai berbagai jenis kerja kreatif

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Mengapa Indonesia Butuh Jokowi?

10 Februari 2019   15:23 Diperbarui: 12 Februari 2019   06:25 0 1 1 Mohon Tunggu...
Mengapa Indonesia Butuh Jokowi?
337365-620-5c6085096ddcae7ee8745624.jpg

Pemuda Asal Solo dari Kaum Pinggiran

Joko Widodo, sebuah nama yang mencuri hati rakyat Indonesia sejak menjadi menjabat walikota Solo. Kini, ia lah pemegang tampuk kekuasaan tertinggi di negeri ini. Siapa dia? Anak tokoh sejarah? keluarga kongromerat? keturunan pejabat? Bukan.. Pendiri partai atau ketua umum partai? Jelas juga bukan... Dia putra daerah yang sejak kecil hidupnya ya biasa saja, melalui fase belajar sejak sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas hingga perguruan tinggi negeri. Ia kemudian sempat bekerja dan membuka usaha meubel yang bertahan hingga kini.

Apa yang spesial darinya? Kisah hidup seorang Jokowi yang bak tangga terendah sampai tangga tertinggi dengan peluang yang tidak semua orang duga. Saat kecil ia dan keluarganya hidup sangat sederhana, pernah tinggal di sebuah bantaran kali dan mengalami penggusuran. Sempat hidup menumpang di rumah kerabat hingga orang tuanya berusaha bangkit lagi dengan rumah dan usaha yang baru. Perannya di kota Solo mengantarkannya menjadi birokrat di kota kesultanan itu. Dua periode diamanahkan warga kota Solo mengantarnya menjadi Gubernur DKI Jakarta yang kemudian melalui fase yang cukup dramatis di akhir tahun ke-2 jabatannya itu ia terpilih sebagai presiden RI. 

Karakter Jokowi dengan Kebutuhan Sosok Pemimpin RI

Jokowi memimpin negeri dengan tanpa membawa beban dari masa lalu. Tak ada catatan negatif sepanjang perjalanan hidup seorang Jokowi. Ia bisa lebih objektif dalam menilai kondisi bangsa ini dan memperhitungkan apa yang harus diperbuatnya.

Pengalaman hidup Jokowi yang memang berasal dari rakyat kecil membawanya pada gambaran kondisi yang terjadi. Menurutnya, rakyat kecil tak tersentuh pembangunan. Ia sadar bahwa pembangunan pasti lebih ditunggu oleh masyarakat kota yang lebih kritis. Dengan fokus membangun kota ia bisa saja lebih disukai banyak orang. Tapi ia berpikir rakyat yang mana yang harus ia dahulukan.

Kejelian naluri seorang Jokowi mengantarnya memprioritaskan Papua dan wilayah Indonesia timur lainnya untuk diberi jatah pembangunan wilayah. Ia prihatin terhadap biaya logistic di wilayah Papua yang sangat tinggi hingga harga kebutuhan pokok mencapai dua kali lipat atau lebih. Padahal pemenuhan bahan pokok adalah titik dasar pembangunan fisik manusia yang sehat. Ia menyadari banyak wilayah di Indonesia timur selama ini seperti dianaktirikan, kurang perhatian dari pemerintah pusat.

Jokowi yang hanya putra daerah, belajar di sekolah lokal hingga perguruan tinggi negeri awalnya disangsikan banyak pihak dalam kemampuannya mengelola negeri ini. Tak jauh-jauh, Jusuf Kalla yang kini menjadi wakilnya sempat menyampaikan pesimisme akan kemampuan jokowi memimpin Indonesia. Ternyata setelah 4 tahun berjalan bersama memimpin negeri, Jusuf Kalla pun mengakui bahwa yang terbaik dari calon pemimpin di negeri ini saat ini adalah Jokowi.

Pembawaan seorang Jokowi cukup tenang, ia pandai menstabilkan emosinya sekencang apapun tekanan dari luar menerpanya. Hoaks, kini menjadi musuh utama seorang Jokowi. Dari berita palsu mengenai dirinya, ibundanya, ayahnya, agamanya, istrinya hingga kini cucunya pun diusik. Tuduhan bahwa dirinya adalah anggota PKI, keturunan PKI, anti islam, anti ulama, keturunan Tionhoa rasanya sudah kebal ia dengar. Syukurlah ia bukan seseorang yang termperamental. Kedewasaan mental membuat Jokowi bisa membawa dirinya dan keluarganya untuk bertahan menghadapi ujian hoaks dengan tetap tersenyum.

Jokowi adalah seseorang yang berjiwa muda, selalu muda. Ia adalah penikmat musik yang juga mencintai beragam karya seni dan kreatifitas kaum muda. Pola berpikirnya tidak standar-standar saja karena ia selalu mencari inovasi terbaru. Di eranya saat ini, ia menjadi magnet bagi milenial yang kreatif. Jokowi mendirikan Badan Ekonomi Kreatif untuk mendorong berkembangnya industri-industri kreatif di Indonesia. 

Program yang dilakukannya pun disokong teknologi digital yang kini digandrungi kaum muda. Meskipun begitu, Jokowi tak mengajarkan rakyatnya lupa budaya. Setidaknya di beberapa perhelatan negara ia mengajak para menteri dan tamunya mengenakan pakaian adat dari banyak suku bangsa di Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x