Mohon tunggu...
Lia ArmitaSiregar
Lia ArmitaSiregar Mohon Tunggu... Gizi

Kesmas

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Investasi Gizi di Masa Pandemi Covid-19

14 Agustus 2020   13:20 Diperbarui: 14 Agustus 2020   13:37 13 1 1 Mohon Tunggu...

Pandemi (Covid-19) telah memporak porandakan perekonomian sebagian besar keluarga-keluarga di Indonesia. Yang paling rentan terserang adalah mereka yang hidupnya tergantung dari penghasilan harian, serta mereka yang tabungannya tipis, atau bahkan tak punya. Dengan adanya pandemi ini dapat menurunkan asupan gizi baik secara kuantitas maupun kualitas bagi keluarga-keluarga di Indonesia.
Di dalam suatu keluarga, ada anggota yang masuk dalam kelompok "rawan gizi", yakni anak usia di bawah lima tahun (balita), ibu hamil dan menyusui. Kecukupan gizi bagi mereka harus diupayakan secara serius, karena jika tidak, risikonya sangat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi mendatang. Bagi kelompok itu, kecukupan gizi ibarat "investasi" bagi generasi baru, yang hasilnya bisa dilihat beberapa tahun ke depan.
Menurut data dari Profil Anak Indonesia 2019, jumlah balita di Indonesia sebanyak 21,9 juta jiwa. Jumlah itu setara dengan 27,6% dari total jumlah anak (usia 0-17 tahun) yang mencapai 79,5 juta jiwa. Mereka akan menjadi generasi masa depan. Gizi yang cukup dan seimbang bagi balita bisa menjadi fondasi awal untuk pertumbuhan dan kesehatan di usia selanjutnya karena juga terkait dengan imunitasnya.
Usia balita sering disebut sebagai "golden age". Kerawanan gizi pada kelompok ini tak bisa direhabilitasi. Untuk itu, gizi seimbang pada usia balita ini mencakup protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral agar pertumbuhan fisik, mental dan kecerdasan anak optimal.
Salah satu indikator kekurangan gizi pada balita, khususnya dalam 1000 hari kehidupannya, adalah pertumbuhan balita terhambat sehingga tubuhnya menjadi pendek dibandingkan dengan usianya atau dikenal dengan "stunting". Gangguan tidak hanya terjadi di aspek fisik, tetapi berpengaruh juga pada kecerdasan anak nantinya.
Pada usia bayi 0 -- 6 bulan, air susu ibu (ASI) menjadi makanan utamanya. Secara umum ASI memiliki sejumlah keunggulan dibanding susu formula. ASI yang pertama kali keluar, yakni kolustrum, yang berwarna agak kekuningan, merupakan zat gizi yang sangat penting, untuk membentuk antibodi anak, yang berguna membangun kekebalan tubuh.
Selain itu, ASI juga kaya akan senyawa prebiotik (oligosakarida) yang menjadi sumber makanan untuk bakteri baik yang ada di perut bayi, sehingga proses pencernaan bayi lancar dan tidak mudah terinfeksi oleh virus. Di dalam ASI juga banyak terkandung asam lemak penting yang sering disebut dengan DHA (asam dokosaheksanoat) dan EPA (asam eikosapentanoat) yang sangat baik untuk perkembangan kecerdasan bayi.
Makanan tambahan baru diberikan setelah bayi berusia lebih dari 6 bulan. Kebutuhan kalori meningkat, sejalan dengan bertambahnya usia. Namun demikian, pada saat ada asupan makanan tambahan, pemberian ASI hendaknya tetap diberikan hingga anak berusia 2 tahun. Makanan tambahan bayi bisa berupa nasi tim yang dihaluskan, dengan kandungan gizi yang seimbang.
Fase pemberian asupan tambahan ini merupakan kesempatan orang tua untuk berperan maksimal, dalam membuat makanan yang bergizi lengkap bagi sang buah hati. Sumber karbohidrat bisa didapat dari nasi atau umbi. sumber protein dari telur, daging, ikan, tahu dan tempe. Sumber vitamin dan mineral dari sayuran dan buah-buahan.
Pertumbuhan anak balita sesungguhnya lebih pesat dibandingkan orang dewasa dan membutuhkan gizi yang lebih banyak per kg berat badannya. Sebagai contoh kebutuhan potein bayi adalah 2,2 g/kg berat badan (BB) sedangkan orang dewasa hanya membutuhkan 0,8 g/kg BB, namun kendala pada mereka adalah alat pencernaan yang belum berkembang sempurna.
Selain itu, anak-anak memiliki jumlah gigi yang masih terbatas, belum tumbuh maksimal sehingga ada kesulitan dalam mengerat dan mengunyah makanan yang keras. Hal tersebut dapat menyulitkan dalam pemberian makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita.
Makanan anak balita sedikit berbeda dari makanan orang tua. Misalnya dalam konsumsi lemak, asupan lemak pada balita diperlukan dalam jumlah lebih banyak dari makanan seperti minyak ikan, daging, susu full cream dan telur yang diperlukan untuk perkembangan otak.
Sedangkan untuk asupan serat tidak perlu terlalu banyak seperti halnya yang dikonsumsi orang dewasa (standar kebutuhan serat orang dewasa menurut WHO adalah 25 -- 40 g/hari), karena serat dengan sifatnya yang tidak mudah dihidrolisis oleh enzim pencernaan serta mengikat air lebih banyak membuat asupan serat memberi rasa kenyang lebih lama. Hal itu akan berpengaruh pada jumlah makanan yang dikonsumsi dan dikawatirkan kecukupan gizinya tidak terpenuhi. Beberapa hal yang diperlukan untuk mencukupi gizi balita, antara lain :
1. Makanan yang dikonsumsi harus beragam dan bergizi, mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Diberikan dalam porsi kecil namun dengan frekuensi sering (lebih dari 3 kali sehari).
2. Makanan balita berasal dari makanan yang natural/alami, sebaiknya tidak perlu ditambahkan bahan penguat rasa.
3. Makanan yang diberikan disesuaikan dengan selera anak serta mudah dikonsumsi dengan ukuran potongan yang kecil serta tekstur yang lunak.
4. Menyediakan waktu cukup agar balita mengonsumsi makanan dengan nyaman.
5. Mengonsumsi susu (full cream) sebagai sumber kalsium dan mineral yang lain minimal 350 ml (1 - 2 gelas) per hari.
6. Dalam mengolah makanan, sebaiknya garam yang digunakan garam beryodium dalam jumlah sedikit (kurang dari 1200 mg per hari) agar anak tidak terbiasa menyukai makanan yang berasa asin untuk mencegah hipetensi pada usia muda.
Ketika pandemi COVID-19 menyerang sendi-sendi ekonomi keluarga, ada yang tidak boleh dikorbankan dalam pemenuhan gizinya, yakni balita, ibu hamil dan menyusui. Mereka harus tetap menjadi prioritas agar menghasilkan anak bangsa yang berkualitas.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x