Trisno Utomo
Trisno Utomo Pensiun PNS

Insan merdeka

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama FEATURED

Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Kerusakan (Terus Berlangsung) Tiada Henti

5 Juni 2016   04:14 Diperbarui: 11 Januari 2019   02:13 297 17 7
Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Kerusakan (Terus Berlangsung) Tiada Henti
Sumber gambar: infobanua.co.id

Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) setiap tanggal 5 Juni telah ditetapkan oleh PBB sejak tahun 1972. Momen 5 Juni merupakan tanggal berdirinya UNEP, sebuah Badan Lingkungan Hidup PBB. Penetapan ini dimaksudkan agar dapat meningkatkan kesadaran dan mendorong perhatian maupun tindakan politik mengenai pelestarian lingkungan, sehingga diharapkan dapat menimbulkan kesadaran global untuk mengambil tindakan guna memulihkan kualitas lingkungan hidup.

Dengan demikian, Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah milik seluruh umat manusia, memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk menjadi bagian dari aksi global untuk perlindungan alam, penyelamatan planet bumi, pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Pada hakekatnya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan salah satu kampanye global terbesar terkait pelestarian lingkungan hidup. Namun ternyata hasil nyatanya dapat dikatakan tidak signifikan, karena dalam kurun waktu 1972 sampai dengan saat ini, kondisi lingkungan hidup dan planet bumi tidak menjadi lebih baik, tetapi justru kerusakannya semakin parah.

Kerusakan lingkungan hidup dan planet bumi memang bisa terjadi akibat peristiwa alam, namun perilaku dan ulah manusia merupakan faktor utama yang menyebabkan kerusakan tersebut. Kerusakan lingkungan akibat ulah manusia dan dampak ikutannya, dapat digambarkan sebagai berikut :

Pertambahan jumlah penduduk

Pada tahun 2015, jumlah penduduk bumi sebanyak 7,3 milyar jiwa. Para ahli memperhitungkan, untuk memproduksi kebutuhan hidup manusia di seluruh dunia saat ini, setidaknya diperlukan 1,5 (satu setengah) planet Bumi. Berarti bio-kapasitas bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia kini sudah terlewati.

Diperkirakan pada tahun 2050 nanti, jumlah penduduk Bumi sudah mencapai angka 9 miliar jiwa. Pada angka ini, bio-kapasitas yang diperlukan manusia adalah 2 kali planet bumi. Bila ini tidak bisa dibendung, maka manusia akan semakin kesulitan dalam mempertahankan kehidupannya.

Pemenuhan kebutuhan penduduk

Dengan jumlah penduduk yang sudah melampaui bio-kapasitas bumi tersebut, maka untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya benar-benar telah menguras sumber daya alam bumi, sehingga muncullah berbagai kerusakan lingkungan di bumi :

a. Perusakan alam dan lingkungan

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia mengeruk habis sumber daya alam bumi, sehingga menghancurkan secara sistematis dan struktural produktivitas sumber daya alam tersebut. Hutan dibabat dan dibakar, bukit dan gunung diratakan, bahkan ekosistem penting di pesisir, seperti mangrove, padang lamun dan terumbu karang dihancurkan.

b. Pencemaran lingkungan

Manusia mendirikan kota-kota, pabrik-pabrik, dan menggunakan kendaraan yang mengakibatkan pencemaran.  Pencemaran itu berupa : (1) pembuangan senyawa kimia tertentu dan pembakaran minyak bumi, yang akan mengubah sistem alami secara global; (2) penggunaan bahan beracun berbahaya (B3) oleh industri dan pembuangan limbahnya ke lingkungan; dan (3) pembuangan limbah pertanian dan rumah tangga.

c. Pemanasan global dan perubahan iklim

Akibat dari semua itu, produksi gas rumah kaca (GRK) terutama CO2 menjadi sangat besar dan tak mampu diserap oleh alam. Konsentrasi GRK semakin lama menjadi semakin besar, sehingga menyebabkan panas yang terperangkap di atmosfer bumi.

Hal ini menyebabkan meningkatnya temperatur rata-rata permukaan bumi, yang kemudian dikenal dengan istilah pemanasan global. Pemanasan global (global warming) adalah suatu proses meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan, yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca.

Pemanasan global ini selanjutnya mengakibatkan perubahan iklim, berupa perubahan musim yang ekstrim (musim tidak menentu, kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan, musim hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan banjir, dll).

d. Tengelamnya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil

Karena peningkatan temperatur atmosfer, bumi, dan air laut, maka mengakibatkan mencairnya es dan gletser (glasier) di kutub, sehingga menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Kondisi ini akan menyebabkan kawasan pesisir, pulau-pulau kecil, dan dataran rendah akan tenggelam dan berubah fungsi.

e. Dampak lanjutan perubahan iklim

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2