Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Jangan Panggil Aku Indung

27 November 2019   06:00 Diperbarui: 27 November 2019   08:40 353
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: pinterest.com

Marah aku padamu. Geramku sampai pangkal kepala.

"Jangan!"

"Kumohon,  Jangan!"

Dan kau terus memaksa. 

Dulu, kusirami kau dengan cinta bermatahari, penuh cahaya. Kuberikan celah di rimbun-rimbun rambutku untuk matamu bicara pada Jubata.

Tak sekalipun kau ragu akan kehidupan karena aku dan kau satu tubuh, satu jiwa di Banua Talino.

Aku pelindungmu, kau penjagaku

Aku melimpahimu, kau memujaku. 

Kita berdua lekat bermesra di dalam asap dan cawan sesembahan.

Setiap tiba masa panen, orang-orang kampung berpesta Uelanuk dan Ulet Samban. 

Mereka angkat Gulai Kati dan Pasta Pasa' dalam kuali-kuali besar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun