Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Perempuan Tolak Poligami tapi Terima Qanun?

13 Juli 2019   11:40 Diperbarui: 14 Juli 2019   12:47 0 23 20 Mohon Tunggu...
Perempuan Tolak Poligami tapi Terima Qanun?
Ilustrsi Poligami (the Economist)

Suara Perempuan Terdampak Perlu Didengar

Beberapa hari ini, salah satu anggota grup WA yang semua anggotanya adalah perempuan Aceh dan perempuan yang bekerja di Aceh membagi pesan "Orang negara lain berpikir bagaimana pergi ke planet lain. Kita, poligami dan korupsi lanjut'. Nah, ini dia, batin saya. 

Kawan kawan di grup WA ini pada umumnya memiliki pendidikan cukup baik. Juga mereka miliki karya nyata di bidang ekonomi. Mereka biasanya punya pandangan progresif karena memang berinteraksi untuk membangun pemberdayaan dan kesetaraan. 

Saya juga meminta ijin untuk catat pandangan mereka secara anonim. Bahkan afiliasinyapun saya janji untuk tidak menyebutkan. Saya menghormati perempuan perempuan luar biasa ini. 

Diskusi bergulir. Saya hanya berperan sebagai orang usil yang melempar pertanyaan kepada anggota grup WA "Setujukah dengan Qanun Poligami?".

Dan, bermunculanlah komentar "Saya gak, bu", yang disambut tanggapan seorang anggota lainnya "Buat laki laki, mereka merasa berkah untuk itu (poligami), padahal gak mampu. Nafsu kuda, tenaga kodok". Ini diurai terkait kemampuan suami secara fisik, keuangan dan seksual. 

Lalu, seseorang menimpali tegas dengan huruf capital "SANGAT TIDAK SETUJU". Ia lalu menambahkan bahwa, celakanya televisi mempromosikan banyak kisah poligami melalui sinetron dengan episode berseri dan banyak iklan. 

Kemudian, ia membagi beberapa contoh sinetron itu, antara lain 'Berbagi Suami", "Ayat ayat Cinta", 'Following Diana", "Surga yang Tidak Dirindukan", dan "Athirah". Saya hanya sempat menonton Ayat Ayat Cinta karena tegiur ingin tahu, mengingat ketika masa Presiden SBY, JK selaku wakil presiden mengajak semua anggota kabinet beramai ramai menontonnya. Sayang sekali pesan moral dari film itu tidak didiskusikan kabinet waktu itu. 

Yang menarik, ada pula salah satu anggota grup WA secara runtut mengurai bahwa poligami adalah bagian dari pandangan patriarki dan bahwa ini adalah sarana untuk mengeksploitasi tubuh perempuan, baik sebagai alat reproduksi, pemuas seksual maupun alat pelayanan laki laki. 

Dalam kasus dengan aturan Syariah, posisi laki laki sebagai pemberi nafkah utama, dalam prakteknya belum tentu bisa melaksanannya. Apalagi dengan poligami. Akhirnya, istri yang bekerja kadang malah menanggung beban kehidupan istri kedua. 

Karena dalam grup WA terdapat pula anggota yang punya relasi keluarga, saya usil tanyakan tentang  kemungkinan bila suami berpoligami? Menarik bahwa anggota WA yang memiliki satus keluarga kemudian menyampaikan beberapa asumsi asumsi bahwa ketika perempuannya baik, cantik dan cerdas, dan bahkan aktif di rumah dan di tingkat masyarakat, adalah tak mungkin suami akan melakukan poligami. Hm...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4