Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Beauty Artikel Utama

Berapa Usia Bajumu yang Paling Tua?

12 Juni 2019   07:30 Diperbarui: 12 Juni 2019   20:01 1259
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Pakaian (Thinkstockphotos) | Kompas.com

Karena proses produksinya, Fesyen Cepat memang seakan dirancang untuk cepat rusak. Tidak ada yang awet. Kita membeli kaos oblong sederhana atau blus yang sangat murah, namun kita hanya bisa memakainya beberapa kali saja. Selanjutnya, kaos akan rusak.

Tak terbayang betapa kerusakan lingkungan akibat produksi kaos oblong dan baju baju ini. Kita bisa menyebut proses produksi semacam ini sebagai proses produksi dengan cara 'mengkorupsi' persyaratan lingkungan.

Proses produksi ini membuat biaya sosial tinggi. Yang pertama adalah biaya polusi air. Baju dari bahan katun yang diproduksi di negara negara dengan biaya produksi rendah seperti di Cina dan India terjadi pada kondisi persaingan penggunaan air antara untuk produksi baju dan konsumsi masyarakat miskin. 

Yang kedua adalah biaya karena penggunaan bahan bahan yang tidak aman bagi kesehatan. Penggunaan pestisida, insektisida dan bahan bahan yang mengganggu kerja hormone manusia dapat memicu kanker.

Kepada Forbes, Lucy Siegle mengatakan bahwa Fesyen Cepat tidak gratisan. Orang orang di wilayah tertentu, khususnya perempuan, adalah mereka yang membayar biaya sosial itu.

Apakah Fesyen Cepat bisa Berkelanjutan dan Beretika?
Terdapat beberapa studi dan analisis tentang bagaimana Fesyen Cepat bisa bekelanjutan. Berkelanjutan di sini bukan hanya fesyen yang mempertimbangkan aspek pelestarian lingkungannya tetapi juga keberlanjutan dan keadilan sosialnya. 

H&M adalah perusahaan yang pada 20 tahun yang lalu hanyalah sebuah UKM. Namun saat ini ia menjadi perusahaan terbesar nomor 2 dari sisi produksi yang sebesar 3 miliar per tahun dan tersebar di 4.800 tokonya.

Untuk menghindari boikot pengguna dan adanya litigasi yang sempat memuat produk senilai US 4.3 milar tidak terjual di tahun 2018, mereka menyiasati dengan penggunaan teknologi dengan cara menggunakan materi daur ulang untuk produk mereka. Juga mereka mengurangi sisa sampahnya. 

Koleksi H&M yang gunakan bahan daur ulang (H&M.com)
Koleksi H&M yang gunakan bahan daur ulang (H&M.com)
Untuk mengurangi dampak dari bisnis online kepada penggunaan tenaga kerja di India, mereka juga menyediakan pengiriman gratis dengan mobil listrik mereka. Proses ini mendudukkan H&M sebagi perusahaan pada ranking keempatnya melakukan Revolusi Fesyen dalam hal Indeks Transparansi 2018.

Studi yang dilakukan oleh Deloitte pada 2017 menunjukkan bahwa ternyata terdapat variasi kaum Milenial dalam menyikapi kebutuhan baju yang berkelanjutan. Di Amerika.

Hampir separuh kaum Milenial yang disurvai menganggap penting untuk mempertimbangkan keberlanjutan sebelum memutuskan membeli produk baju dengan merek mahal atau terkenal. Di Cina, prosentase itu 38,5%, di Itali 20,3%, dan di Inggris adalah 18, 8%.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Beauty Selengkapnya
Lihat Beauty Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun