Leya Cattleya
Leya Cattleya Asisten Pribadi

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kartini, Perempuan Jawa Progresif, dan Liberal yang Tak Kunjung Kita Kenal

21 April 2019   01:52 Diperbarui: 22 April 2019   00:47 1357 58 32
Kartini, Perempuan Jawa Progresif, dan Liberal yang Tak Kunjung Kita Kenal
R.A Kartini| Sumber: tribunnews.com

Pahlawan dalam Ingatan Semua Anak Indonesia
Coba tanyailah anak anak kecil di Indonesia tentang siapa nama pahlawan yang mereka kenal? Saya menduga "Ibu Kartini' adalah jawabnya.

Ia memang pahlawan perempuan, yang mungkin diperkenalkan pertama kali oleh para guru TK kepada murid di Indonesia.

Coba saja lihat di tanggal 21 April, setiap tahun kita lihat anak anak kecil, perempuan dan laki laki berpakaian daerah merayakan kelahiran Kartini. Ini tidak hanya terjadi di TK lokal dan di tingkat nasional, tapi juga di sekolah internasional di kota kota besar.

Perkenalan pada Kartini akan terus berlanjut sampai ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, ke SD, SMP dan SMA. Lalu, kita akan 'dihibur' dengan segala macam pakaian adat seluruh Nusantara, plus lomba lomba yang lintas jenis kelamin. Misalnya, perempuan ikut lomba balap karung dan sepak bola. Laki laki ikut lomba masak nasi goreng. Ya, kan? 

Di kalangan perempuan menengah ke atas, Kartini kemudian dimanifestasikan melalui modifikasi dan komodifikasi model Kebaya Kartini dan Kebaya Encim. Yaaah, kalau sedikit beruntung, kita akan mendengar perkenalan Kartini sebagai pahlawan emanisipasi perempuan. Namun, selanjutnya, tak ada cerita soal apa itu emansipasi dan apa isu yang diangkat Kartini. Paling banter, perempuan turut serta dalam nganu dan nganu. (ini bahasa tarzan yang saya pinjam dari pak Prof Pebrianov).  Gitu kan? 

Marjinalisasi Sejarah Kartini
Saya alami kekecewaan yang luar biasa, tentang bagaimana guru guru saya, dan mungkin bagaimana pemerintah sejak Orde Baru memperkenalkan Kartini. Kartini diperkenalkan via rangkuman kisah 'Habis Gelap Terbitlah Terang' atau Door Duistermis tot Licht, sebuah buku tentang kumpulan surat Kartini yang diterjemahkan oleh Armijn Pane. Bahkan, saya tidak pernah mengingat satupun guru yang mendorong muridnya untuk membaca buku itu. 

Saya sempat malu ketika bertemu dengan seorang sahabat, Guru Besar di Manila yang selama hidupnya belajar di Kanada dan Amerika,  yang menyodorkan kepada saya buku "Letters of a Javanese Princess', karangan Hildred Geerts, dengan kata pengantar oleh Eleanor Roosevelt.

Biografiku.com
Biografiku.com
Buku ini dipublikasikan oleh WW.Norton & Company New York pada tahun 1964. Kawan saya mendapatkan buku ini dari ibunya dan buku itu bertandantangan atau terdapat otograph dari Eleanor Rosevelt. Mau menangis rasanya karena iri pada apa yang ia miliki. Sekaligus saya malu bahwa saya atau mungkin kita sangat terlambat membaca buku penting itu. Kemudian, kawan saya tersebut menantang saya untuk menulis tentang Kartini. Kami berencana menulis tentang pandangan pandangan besar dari tokoh dunia timur, misalnya Nehru, Jose Rizal dan Kartini. Sayangnya, proyek itu tidak pernah terselesaikan. 

Dari situ, saya mencoba mencari tahu dan mencoba membaca e-book dari "Letters to Sartre', Siome de Beauvior, and Kartini: Sebuah Biografi, oleh Siti Soemandari Soeroto, dan satu buku favorit saya 'Panggil Aku Kartini Saja"oleh Pramoedya Ananta Toer. Itulah buku buku yang membangunkan tidur lama saya tentang Kartini. Dari buku buku itu dan dari Pramoedya, saya akhirnya sedikit kenal Kartini.

Memang karya Pramoedya merupakan karya sastra, namun saya bisa mengenal perempuan istimewa ini dari sisi yang berbeda beda. Buku Pramoedya adalah dua dari empat jilid yang tersisa  karena jilid ketiga dan keempatnya dibinasakan pada tahun 1965. Suatu pembinasaan yang bodoh.

Bukan Hanya Soal Emansipasi Perempuan

Mari kita mulai mengenal Kartini dalam emansipasi. Apa itu? Bagi Kartini, di suratnya kepada Ms Zeehandelaar pada 25 Mei 1899, emansipasi adalah tujuan tujuan kuat untuk bebas dan untuk mampu menentukan arah tujuan hidup sendiri. Di sini, aspek pemberdayaan dan kemampuan menentukan kepentingan sendiri menjadi kritikal. 

Ketika Kartini menulis kepada Ms Van Kool di bulan Agustus 1901 tentang betapa berbedanya Indonesia bila perempuan berpendidikan, saya melihat Kartini tidak hanya memasukkan pendidikan perempuan, tetapi ia menyadari bahwa dibandingkan dengan laki laki, perempuan adalah kelompok yang perlu mendapat perhatian. Ia percaya peran perempuan penting dan pendidikan bisa menjadi pintu keluar dari ketertinggalan. 

Untuk itu saya tidak terlalu melihat bahwa fokus Kartini hanya pada emansipasi perempuan. Ini yang saya lihat menjadi salah kaprah di kalangan kita. Kita salah memahami tentang Kartini. Kita akan segera tahu, mengapa kita telah salah mengenal Kartini. 

Pada suratnya kepada Stella Zeehandelar pada 18 Agustus 1899, Kartini secara keras melawan feodalisme. Ia melihat feodalisme dan aristokrasi adalah cara paling bodoh untuk melihat dan mengukur orang untuk menentukan posisinya. Kartini katakan"Di masa depan orang akan dilihat bukan dari posisi dan latar belakang aristokrat, tapi oleh kemajuannya. Bisa ilmu pengetahun. Bisa ekonomi". 

Kartini juga mengkritisi betapa kompleksnya budaya Jawa yang mengharuskan dia dan saudara saudara perempuannya dan juga perempuan dan laki laki yang berada pada status yang lebih rendah darinyanya, untuk 'laku ndodok', jalan jongkok dan berbicara pelan sehingga bahkan orang di sebelah kita tidak mendengar suara kita. Itu aturan priyayi Jawa.

Kartini merasa terganggu pada kenyataan bahwa saudara saudara perempuannya hanya boleh berbicara dalam suara yang rendah dan dengan 'Kromo Inggil', standard bahasa Jawa yang tidak memperbolehkan ia berbicara dengan 'kamu dan saya'. Juga ia jengah ketika adik adiknya harus melakukan 'sembah' kepada Kartini sebagai saudara perempuan tua mereka.

Kartini katakan bahwa bulu kuduknya berdiri, hanya dengan mendengar bagaimana orang berbicara kepada mereka yang berstatus lebih tinggi.

Dia menanyakan melalui suratnya kepada Stela, apakah orang dengan sebutan atau panggilan aristocrat 'Baron' atau 'Graaf' akan memberi garansi akan bertindak dan berkarakter seperti pada panggilan itu.

Dari pertanyaan Kartini saja, saya menjadi paham bahwa Kartini marah bukan pada pada feodalisme yang ada di depan matanya tapi juga feodalisme yang ada di dunia yang pelajari, yaitu Eropa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3