Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

"Divide et Impera" dan Marah-marah Politik

9 April 2019   21:17 Diperbarui: 10 April 2019   16:13 1041 39 35 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Divide et Impera" dan Marah-marah Politik
ilustrasi para elite politik. (kompas)

Mengapa Jadi Marah Marah Politik? 

Mengapa kita begitu mudah marah kalau disentuh soal pilihan politik kita? Mengapa kita menjadi defensif? Yang jelas, diskusi soal politik tak akan ada habis habisnya pada jelang Pemilu kali ini. Artikel, humor, puisi, atau prosa yang kita baca sering menunjukkan banyak benci, banyak marah.

Saya pernah menuliskan soal Lelah Politik, Lelah Media di Kompasiana pada awal tahun.  Memang lelah. Itulah yang saya rasakan.  Tentu saya harus membuat keputusan untuk diri saya sendiri. Saya coba membicarakan hal lain di luar soal politik. Namun, repot juga. Semua sisi kehidupan kita akan menyentuh soal politik, namun tentu kita tak perlu marah marah. 

Beberapa kali saya membaca pesan kawan lama yang menuliskan kemarahannya tentang salah seorang Capres. Saya hampir tak percaya membaca tiap kata yang ia ungkapkan. Kebencian yang mengerikan karena seakan ia ingin mencabik cabik dan bahkan meniadakan Capres yang ia bicarakan.

Sedihnya, ini tidak hanya terjadi pada satu dua orang saja. Seakan berjamaah, kebencian dan kemarahan itu diluapkan. Ini membuat saya makin tidak ingin membaca pesan atau tulisan yang berisi pro kontra dan perdebatan. Apalagi media menyulut membuat kolom atau rubrik pro dan kontra. 

Di masa yang lalu, mungkin ini penting, tetapi pada saat ini, di saat masyarakat terbelah, mungkin media perlu juga reflektif dan memperbaiki diri. Ada dosa media yang mungkin tidak terkalahkan karena media juga hidup dari semua kehebohan politik. 

Sebetulnya siapa sih yang kita marahi? Siapa musuh kita? Apakah orang orang yang berbeda pandangan politiknya dengan kita? Ataukah Caleg tertentu yang kita tidak suka? Ataukah  Capres tertentu yang kita tidak suka? Apakah begitu 'personalized' sehingga  kemarahan kita bisa begitu tertuju secara khusus kepada salah satu Capres itu?

Kemarahan Politik dan Divide Et Impera
Kita tahu ribut ribut dan perpecahan masyarakat ini terjadi di semua wilayah yang sedang melakukan Pemilu di seluruh dunia.  Ini terjadi secara bersamaan.  

Bukan hanya di Indonesia, di Amerikapun tensi masyarakat tinggi. Emosi yang dilampiskan dengan kasar dan sering dilampiaskan dalam bentuk kekerasan. Seperti situasi antara hidup dan mati. Seperti dalam peperangan. Ini terjadi dan dipertontonkan pada saat jelang Pemilu, juga setelah Pemilu. Setelah Pemilu terjadi, masyarakat masih gelisah. Ini persis seperti yang terjadi di Indonesia. Ketika Pemilu 2014 selesai, perdebatan tidak selesai. Acara televisi terus mempertontonkan debat. Terus dan terus. 

Studi yang dilakukan New York Time menunjukkan bahwa responden tidak suka melihat perkembangan itu. Mereka melihat politik telah merubah kepirbadian orang Amerika.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x