Mohon tunggu...
Leya Cattleya
Leya Cattleya Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - PEJALAN

PEJALAN

Selanjutnya

Tutup

Sosok Pilihan

'Story Telling' dalam Debat Cawapres

18 Maret 2019   17:22 Diperbarui: 19 Maret 2019   20:18 259
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ada yang menarik dari debat Cawapres semalam. Beberapa kali, Cawapres 02, Sandiaga Uno,  menggunakan 'story telling'. 'Story telling' pertama adalah tentang Ibu Lies yang tidak dapat mengakses BPJS. Begini narasinya "Pada (permasalahan) kesehatan, saya ingat kisah Ibu Lis di Sragen yang mana pengobatannya harus disetop karena BPJS tidak lagi meng-cover. Hal ini tidak boleh terjadi lagi".

Juga, Sandiaga menggunakan 'story telling' lain terkait Salsabila dari Pamekasan yang mengeluhkan kurikulum yang terlalu berat. "Prabowo-Sandi berkomitmen PR terbesar kita adalah meningkatkan kualitas guru kita. Kita tingkatkan kompetensinya, kita pastikan kesejahterannya. Kurikulum, Ananda Salsabila Umar di Pamekasan menyatakan kurikulum kita terlalu berat, dan banyak sekali mata pelajaran yang dia tidak minati".

Dan, Sandi tidak lupa membawa cerita soal istrinya Mpok Asia dan Sulaeman anak bungsunya ketika menjawab pertanyaan Maruf soal sedekah putih dalam kaitannya dengan 'stunting'. Cawapres 02 membagi cerita soal kehamilan Asia kala ia berumur 42 tahun dan air susunya berhenti pada usia bayi 6 bulan. Untuk itu dia berpikir bahwa sedekah ASI aka berguna bagi bayi bayi untuk mencegah 'stunting'. Namun ini dibantah Cawapres 01 mengingat stunting perlu dicegah bahkan sebelum bayi lahir. Juga, menurut Cawapres 01, 'stunting' bukan hanya masalah ASI tetapi juga menyangkut masalah sosial. 

Cawapres 01, Ma'ruf Amin membawa cerita tentang optimisme dan harapan. Ini dibangun dalam narasi pidato dan debat, baik dalam debat pertama antara Jokowi dan Prabowo dan dalam debat ketiga antara Maruf dan Sandiaga. Ma'ruf dalam pidatonya semalam juga menyebutkan soal harapan yang harus dimiliki anak anak Indonesia yang harus percaya bahwa negara memikirkan biaya sekolah dan masa depan anak anak Indonesia. Juga ia mengakui bahwa usianya sudah lanjut. "Saya sudah tidak muda lagi. Kalau diberi kesempatan memimpin bangsa ini, kami akan bersungguh-sungguh. Hasilnya bukan untuk kami tapi untuk generasi yang akan datang", demikian Maruf Amin. 

jakartatribunnews.com
jakartatribunnews.com
Kemudian, kita bisa bandingkan dengan pendekatan 'story telling' yang dipakai kandidat Pemilu di Amerika. Terdapat tulisan menarik tentang kekuatan 'story telling' dalam kampanye politik untuk Pemilu. Analis bertanya tentang dari mana mereka memenangkan kampanye? Apakah mereka menang karena kebijakannya? Tau karena kampanyenya? McKinnon, penasehat strategi dan media mengatakan bahwa mereka menang dari cerita mereka. Ia mengatakan lagi bahwa ketika kita berada pada komunikasi politik, masyarakat akan cenderung menyukai kandidat yang hadir dengan narasi bercerita atau 'story telling'.

Dari pengalaman kampanye politik Pilpres di Amerika, kisah cerita dianggap memenangkan suara. Analis mengatakan bahwa Hillary Clinton bisa berbicara dalam bentuk cerita secara perorangan 'one on one'. Hillary tidak memasukkan kehidupan dan cerita pribadi kepada publik. Dan, kurangnya narasi dalam kampanyenya dianggap menjadi sebab kekalahannya yang terbesar.

McKinon mengatakan lagu bahwa 'story telling' politik bukan tetang kebijakan, kredibilitas atau kualifikasi. Ini soal bagaimana masyarakat berkomunikasi dengan kandidat, dan sebaliknya. 

Pada akhirnya, politisi menyadari kekuatan cerita. Mereka memasukkan cerita ke dalam kampanyenya. Pada tahun 1990an, narasi yang dibawab oleh Bill Clinton adalah soal pertumbuhan ekonomi. Di tahun 2000an, George W Bush menggunakan narasi soal perlindungan kepada rakyat Amerika. Kampanye Obama dibangun dari cerita tentang harapan dan perubahan.

Adalah menarik bahwa karena ‘story telling’ adalah cerita dongeng, beberapa pendekatan menggunakan 'jargon':

  • Kekuatan baik melawan kekuatan jahat. Ini seperti ditunjukkan oleh Trump yang melihat ‘Washington’ sebagai figur jahat;
  • Trump juga menggunakan kalimat kalimat langsung seperti “ Saya akan bangun tembok dan Mexico harus merasakan akibatnya”.
  • Trump juga membawa orang Amerika tentang “Amerika akan dibawa ke masa kebesaran lagi”
  • Adanya cerita cerita lama yang diangkat, misalnya Trump mengangkat Abraham Lincoln.

cnn.com
cnn.com
Pertanyaannya adalah, apakah narasi itu begitu penting sehingga perlu merembes ke dalam pidato politiknya? Dari analisis terkait bagaimana 'story telling' ada pada strategi komunikasi dan kampanye serta pidato John F Kennedy sampai Barack Obama. Jawabnya adalah 'ya'. Cerita cerita itu ada dalam bahasa dan narasi debat dan pidatonya.

Kampanye dengan menggunakan narasi biasanya memenangkan kampanye dengan beberapa alasan. Pertama, pemilih sibuk dan tidak punya waktu untuk mengecek detil. Kedua, masyarakat malas dengan kampanye yang tidak persuasive. Ketiga. Narasi membuat pemilih ingat alasan untuk mendukung kandidat tertentu. Intinya, kampanye dengan menggunakan narasi akan membuat informasi dan pesan lebih lama mengendap di kepala calon pemilih. Oleh karenanya, mengapa orang menyukai opera sabun dan telenovela dan sinetron. Mereka suka cerita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosok Selengkapnya
Lihat Sosok Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun