Sosbud Artikel Utama

Hormati Gurumu, Sayangi Teman

11 Februari 2019   17:00 Diperbarui: 13 Februari 2019   22:07 560 41 23
Hormati Gurumu, Sayangi Teman
Image credit: graphicstock

Pergi Belajar (Oleh Ibu Sudibyo)
Anak anak : 
Oh Ibu dan Ayah selamat pagi
Kupergi belajar sampaikan nanti
Orang Tua
Selamat belajar nak, penuh semangat
Rajinlah belajar, tentu kau dapat
Hormati gurumu, sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman.

Ingat lagu Pergi Belajar karangan ibu Sud ini? 

Mungkin generasi pasca milenia tak kenal lagi, tetapi sebagian dari kita mungkin sering menyanyikannya. Lagu itu membuat saya kembali menyadari betapa kita selalu diajarkan untuk menghormati para guru. Kita telah menghormati guru, meskipun pada saat itu belum ada peringatan tahunan Hari Guru. Kita mencintai guru, meski saat itu belum ada pemilihan Guru Teladan. Kita menghargai guru, meski belum ada lagu Hymne Guru. Guru, digugu lan ditiru. Guru yang dipatuhi dan dicontoh. 

Belum lama ini saya kedatangan tamu. Tamu itu mbak Mung, kakak sahabat saya, yang kemudian juga menjadi sahabat keluarga. Kami sama sama bersekolah di SDN Subah, suatu desa dan kecamatan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Iya, itu sekolah desa. Kami bersama sama di sekitar tahun 1970an. Jadul ya?!. Kami berdua jarang bertemu, namun belum lama ini kami saling ber WA an. Dan, jadilah suatu pertemuan manis di bulan Januari tahun 2019 ini. Kala itu, Mbak Mung diantar putranya. Jauh jauh mereka naik motor dari Subah ke Magelang untuk melepas kangen. 

Sambil minum kopi ditemani tahu bacem hangat di pagi hari, kami berbicara soal masa kecil. Soal kelucuan kelucuan ketika bersepeda bersama. Soal main kasti dan takut terkena bola yang keras. Soal rujakan. Soal latihan menari. Juga, kami bicara tentang ayah mbak Mung, almarhum Pak Wignyosumarto, atuu kami panggil pak Wig. Akhirnya, obrolan tentang almarhum pak Wig menjadi tema pagi itu. Putra mbak Mung yang berkuliah di semester 7 di salah satu fakultas di UNDIP mendengarkan kami berdua bercerita. Antara heran karena ia tidak pernah mendengar cerita cerita itu, atau kagum pada almarhum kakeknya. Entahlah. Kami berbicara soal kakeknya, yang ia tidak pernah kenal ataupun bertemua karena pak Wig telah meninggal sebelum ia lahir.

Bagi kami, Pak Wig seorang guru yang luar biasa. Beliau adalah pensiunan guru ketika saya mengenalnya. Jadi, saya tidak pernah diajar di dalam kelas olehnya. Namun hampir semua guru saya adalah murid beliau. Walaupun beliau sudah pensiun, beliau masih mengajar kami. Jadi, beliau adalah guru saya juga.

Beliau mengajar saya dan kawan kawan soal macam macam. Setiap hari kami bertukar buku. Buku kosong saya serahkan ke Pak Wig dan keesokan harinya saya akan menerima buku itu penuh dengan soal. Saya kemudian mengerjakan PR itu dan menitip kembali buku yang soalnya telah saya kerjakan itu untuk pak Wig. 

Beliau juga mengajar kami soal legenda, soal bahasa jawa, soal musik gending Jawa, dan juga menari dan wayang wong. Terdapat beberapa Sendratari yang kami berlatih dan juga kami pertunjukkan. Kami mengenal kesaktian Rama dan kesetiaan Laksmana dan Shinta. Dari pak Wig, kami tahu bahwa Laksmana harus 'menyunat' dirinya sendiri untuk menunjukkan kepada Shinta bahwa ia menjaga Shinta karena semata mata atas nama kesetiaan pada kakaknya, Sang Rama. 

Juga kami mengenal Rahwana, sang angkara murka yang sulit mati karena berkepala sepuluh. Kami juga belajar tentang Arjuna Wiwaha dan menjadi paham berbedaan tentang Arjuna dalam Baratayuda dan Arjuna dalam Arjuna Wiwaha. 

Itu semua dari pak Wig. Belia juga mengajar kami budi pekerti melalui dongeng dongengnya. Ketika kami lelah dengan latihan gamelan dan tari, kami akan meminta beliau bercerita. Dan, belia akan duduk di tengah, bercerita penuh ekspresi dengan suara suara beraneka. Sementara, kami melingkari beliau, tertawa terbahak dengan kelucuan dongeng atau berlinang karena sedih haru.  Macam macam ceritanya. Biasanya soal wayang, lengkap dengan cerita sifat dan karakternya. 

Saya rasa sulit menemukan sosok seperti beliau pada masa kini. Saya ingat betul bagaiman beliau mengajarkan saya mengingat jumlah hari di setiap bulan selama setahun dengan menggunakan kepalan tangan. Beliau gambar itu di buku saya. Saya sampai mengingatnya karena beliau gambar kepalan itu lengkap dengan jam tangannya. Dan gambar beliau itu memang bagus. 

Beliau juga mengajarkan bagaimana menulis tebal tipis huruf ha na ca ra ka. Itu semuanya melalui buku yang kami saling tukar setiap hari itu. Dan, luar biasanya, untuk semua yang pak Wig lakukan, kami tidak membayar sepeserpun. Juga tidak pernah diminta bayaran. 

Kami lakukan itu seakan biasa saja. Tentu orang tua sayapun turut memberikan bantuan ketika saya belajar, tetapi pak Wig ini betul betul tokoh guru yang ada di kepala saya. Beliau mengingatkan saya pada tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara. Sederhana dan ikhlas membagi ilmu pada murid muridnya. 

Ki Hajar Dewantara (Quipper)
Ki Hajar Dewantara (Quipper)
Juga, di SMPN 1 Semarang, saya mempunyai seorang guru sejarah yang seru. Ibu Suhardjo. Belia paling sepuh di antara guru. Namun suaranya paling lantang. Beliau mengenakan kebaya dan kain batik panjang, rambutnya bergelung jawa. Beliau cukup galak, bila dibandingkan dengan ibu dan bapak guru lain. Galaknya sederhana. Kami tidak boleh berbicara di kelas. Posisi duduk siswa harus tegap menghadapnya. 

Sering kali, di kala kami harus menghapalkan suatu tema, kami dipanggilnya maju ke depan. Kebetulan memang sejarah adalah salah satu pelajaran favorit saya. Saya senang sja dipanggil ke depan. Suatu saat, ketika saya sedang diminta maju menhapal suatu tema di depan kelas, tiba tiba bu Suhardjo meminta saya menggaruk punggungnya. 

Kikuk saya melakukannya, karena wajah beliau tetap datar seperti sedang marah. Padahal memang begitulah ekspresinya. Lucu juga sih, menggaruk punggung guru di depan kelas.

Ada lagi ibu Siti Asma. Ibu Asma adalah guru agama di SMP.Kebetulan putrinya, dik Yayah adalah sahabat saya di kelas. Setiap hari saya jemput 'ampiri' dik Yayah berangkat ke sekolah. Kamipun pulang bersama. Bukan karena saya sahabat dik Yayah, lalu saya dekat dengan ibu Asma. Ibu Asma memang guru kesayangan. 

Sebagai guru agama perempuan, beliau sangat progresif. Luas pengetahuannya.  Di saat adik saya yang muslim menikah dengan seseorang yang beragama Katolik, kepada ibu Asmalah adik saya berkonsultasi. Semoga ibu Asma dan dik Yayah khusnul khotimah, damai bersamaNya. Kehilangan keduanya adalah sesuatu yang menyedihkan karena mereka adalah orang orang istimewa di hati saya.  

Guru saya di SD, SMP dan SMA selalu meninggalkan kesan luar biasa. Setiap kali kami, mantan mantan murid bereuni, guru guru kami adalah orang pertama kami ingat untuk kami undang atau untuk kami siapkan hadiahnya. Selalu ada rindu. 

Pada 5 Februari 2019 yang lalu, kami kehilangan seorang guru luar biasa, pater Nicolas Dumais SJ. Beliau adalah guru saya semasa SMA di Kolese Loyola di Semarang. Beliau meninggalkan kami semua pada usia 80. Adalah Dr Ninok Leksono MA, Redaktur Senior Kompas yang menuliskan memoir dan membaginya di WA 'Pater Dumais: Bahasa, Musik, Cinta Alam, dan Ke-Indonesiaan'. Ia menulis tentang betapa pater Dumais telah memberikan kasih dan dikasihi selama hidupnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4