Mohon tunggu...
Leviana Fadilah
Leviana Fadilah Mohon Tunggu... seorang perempuan biasa

Hanya ingin terus belajar menjadi manusia seutuhnya.

Selanjutnya

Tutup

Teknologi Pilihan

Membara Bersama Tri, #KalahkanJarak

20 Juni 2020   02:07 Diperbarui: 20 Juni 2020   02:03 61 5 0 Mohon Tunggu...

#KalahkanJarak Untuk Tetap Produktif Bersama Jaringan Baru Tri

Ini adalah ceritaku tentang pengalamanku bersama jaringan baru 3 .. jaringan yang menemani hari-hariku untuk terus produktif,ada atau tidak adanya pandemik ini.

Aku adalah seorang aktivis muda yang berkecimpung di dalam dunia literasi. Tugasku bukan hanya perihal menyerukan seruan semangat membaca, menulis dan berdiskusi saja. Lebih dari itu aku dan kawan-kawan komunitasku terus mengobarkan semarak ber-literasi di daerah tempat komunitasku berdiri. Banyak doa dan harapan kepada komunitas literasi ini nantinya.

Setiap harinya,kami selalu berkumpul di taman baca. Berdiskusi tentang apa yang akan kita lakukan esok hari,mengajari anak-anak jalanan dan pemulung membaca, mengedukasi para ibu rumah tangga di kampung untuk giat mengobarkan semangat membaca dan menulis pada anak-anak mereka, khusunya yang masih berusia dini. Serta kegiatan penunjang  lainnya.

Selain itu, beberapa dari kami mempunyai tugas sebagai tim komunikasi publik. Dimana kami mengadakan banyak seminar dibanyak tempat dan sekolah,mengurus pembangunan taman baca ditempat-tempat baru dan setiap bulannya selalu ada talkshow  terbuka dari kami. Kami rutin menjalaninya,sehingga komunitas kecil kami menarik banyak peminat untuk ikut bergabung dalam komunitas ini. Selain  itu, berkat kerja keras kami banyak warga,anak-anak dan remaja yang turut serta ikut membangun komunitas ini menjadi jauh lebih baik dan berkembang.

Tepat empat bulan lalu,kami dan seluruh warga dunia dihadapkan dengan sebuah peristiwa dimana kami harus berada dalam masa karantina. Ya, pandemik mengubah kita semua dari keadaan seharusnya. Dimana slogan quarantine day dan new normal  menjadi hal  yang tak terdengar asing lagi. Dimana seluruh kegiatan bertatap muka dibatasi,dimana tak ada lagi canda tawa anak-anak di taman baca saat aku menceritakan dengan lantang tentang indahnya negeri ini. Tidak ada lagi suara mereka terdengar, tidak ada lagi riuh tepuk tangan penonton selepas acara usai. Dan tidak ada lagi wajah-wajah ruwet juga senyuman semangat dari kawan-kawan komunitas. Semua berbeda,semua tak lagi sama.

Kami harus dirumah,menjaga sanak keluarga,menjaga diri untuk keberlangsungan hidup kami. Kalau tidak rajin mengikuti arahan pemerintah,sampai kapan kita akan terus menatap dinding putih kamar, melihat jutaan bintang,alunan daun yang menari-nari, birunya lautan serta semua wajah-wajah ceria yang hadir menemani. Yang sekarang kita hanya bisa menatap mereka semua, lewat jalur daring. Dibatasi oleh sebuah layar juga jaringan koneksi internet yang tidak semua area bisa mendukung jaringan koneksi tersebut.

Saat pertama kali PSBB berlangsung kami sangat kebingungan, bagaimana nasib anak-anak jalanan yang terbiasa membaca buku di taman ? bagaimana rencana-rencana kami kedepan yang tertunda? Talkshow yan sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, tetapi terhambat oleh jarak. Bagaimana? Semua tidak mempunyai jawaban,selain untuk tetap berdiam diri dirumah,berharap semua ini cepat berlalu.

Beberapa minggu tidak ada acara, tidak ada apapun. Kami merindukannya,sangat merindukannya.

Akhirnya, kami memtuskan untuk kembali bertatap lagi. Lewat Video conference dimana sekarang banyak orang menggunakannya. Hal yang paling menguras untuk tetap bertatap muka setiap harinya ini ialah,jaringan internet. Video conference  ini lumayan cukup memakan banyak kuota internet, selain itu koneksinya yang terkadang buruk suka menghambat komunikasi kami.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN