Mohon tunggu...
Abdul Azis
Abdul Azis Mohon Tunggu... Wiraswasta
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Abdul Azis, adalah seorang penikmat seni, dari seni sastra, teater, hingga tarian daerah terkhusus kuda lumping. Berasal dari kota Kediri

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

100 Artikel Pertama di Kompasiana

22 September 2020   11:55 Diperbarui: 22 September 2020   12:13 104 30 18 Mohon Tunggu...
Lihat foto
100 Artikel Pertama di Kompasiana
@rome_hidayat/ edit by: Abdul Azis

100 kaki di balik duka
Janda tua itu bertanya : "apakah kuliah online anakku di sana masih berjalan baik? Sedang aku hanya mampu duduk meneguk atap rumah yang bolong ditikam hujan omong kosong?."

100 koin untuk bumi yang sunyi
Seorang Mahasiswa berlari tanpa kaki : "Ayah, ibu. Maafkan anakmu ini karena gagal memenuhi permintaan kalian. Uang kemarin untuk paketan sudah saya gunakan untuk membeli makan. Maafkan aku ayah, ibu."

100 puisi ini untuk penguasa
Seorang kakek perlahan membuka catatan negeri yang mulai hilang makna : Mungkin cucuku di sana sedang mengemis pada tubuhnya. Pada subuh yang berganti, pastinya ia sedang bingung untuk memilih melayani kehidupan ditengah pandemi ini.

100 benang menutupi saku kemunafikan
Seorang pastor dan ulama membuka jendela sabda yang ia temukan penuh air mata : "Bapak kami yang ada di istana ataupun di kantor-kantor. Digital eksakta hilang fakta. Kerusuhan musibah ini membunuh umat dan agama. Konstitusi punggung untuk media sekedar sensasi, dasi tuan masih bersih menyukai tanjung bersin nilai"

100 candu saling merayu
Kopi siang hari berlari dengan setengah tubuh yang layu : "Terlalu banyak raskin akhirnya tolakan vaksin memiliki rupa pada jalan. Terhalang dinding-dinding partai, kartinakan seperti dua jenis salju dari tambang asing."

Dan

100 Artikel petama untuk Kompasiana. Izinkan saya untuk tetap berkelana pada dalamnya samudra kata. Menancapkan paku untuk kumpulan keluarga bersatu.

Puisi ini bentuk hormat pada pertiwi, menangisi anak negeri karena kurangnya dedikasi.

"Tapi?."
"Simpan tapimu itu karena puisi sudah menjadi hak kita"

Kediri, 22 September 2020
Buah Karya: Abdul Azis Le Putra Marsyah

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x